Penggunaan Barcode Media Online tak Efektif
Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Selasa, 10 Jan 2017 - 11:57:29 WIB

Bagikan Berita ini :

40hoax.jpg
Sumber foto : Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Dekan Fakultas Teknologi dan Informasi Perbanas Institute Harya Widiputra menilai, rencana Dewan Pers dan Menkominfo melakukan verifikasi media online ditengah maraknya penyebaran berita-berita berkonten hoax tidak akan efektif.

Pasalnya, lanjut dia, pangkal persoalan sebenarnya terletak pada kecepatan penyebaran berita tersebut yang begitu cepat di media sosial bukan pada seberapa banyak memblokir situs-situs media onlinenya.

"Barcode memang membantu masyarakat memahami situs mana yang terpercaya, namun apa hal tersebut dipedulikan saat masyarakat mengakses situs berisi berita tersebut?," tandas Harya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (10/01/2017).

Disarankannya, untuk menekan beredarnya berita-berita hoax sebaiknya dewan pers dan pemerintah melakukan cara pencegahan penerbitan berita hoax.

"Karena cara pencegahan dinilai lebih efektif daripada cara korektif berupa pelaporan setelah berita hoax berhasil diterbitkan, Nyatanya selama ini penerbitan berita online jauh lebih mudah daripada media cetak," ungkap dia.

Selain itu, kata dia, Ada baiknya penerbitan berita online dibuat lebih selektif seperti penerbitan media cetak.

"Sehingga, tidak semua berita yang akan dipost berhasil diterbitkan," imbuhnya.

Nantinya, kata dia, setiap media online memiliki editor untuk pengecekan terlebih dahulu sebelum penerbitan, atau mungkin dibuatkan badan independen, diluar dewan pers.

"Yang dapat bertindak sebagai editor yang bersifat tetap menjalankan kebebasan pers demi mengalirnya informasi yang mudah dengan benar," ujarnya.

Tak hanya itu, Harya juga berpesan kepada masyarakat agar lebih melakukan analisa masalah dan pengecekan ulang setelah membaca artikel dari situs.

"Dan jika ingin share, alangkah baiknya dipikirkan dulu apakah akan bermanfaat atau tidak," kata dia.

Karena, lanjut dia, Saat ini semakin banyak masyarakat yang terusik dengan berita-berita bohong, palsu atau tidak jelas kebenerannya.

"Bayangkan, dari 400.000 situs media online, hanya kurang dari 300 yang terverifikasi Dewan Pers," terangnya.

Yang lebih memprihatinkan, kata dia, Berita hoax ini selain membelokkan kebenaran mengenai apa yang terjadi, tapi juga mempengaruhi pola berpikir masyarakat dan bahayanya juga dapat memprovokasi.

"Ditambah lagi dengan budaya masyarakat, yang begitu menerima berita dari internet, akan cenderung langsung share, apalagi jika berita tersebut memiliki judul yang menarik. Akan lebih baik juga, jika pemilik sosial media memiliki teknologi penyaring untuk penyebaran berita," pungkasnya. (icl)

tag: #kemenkominfo  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Tidak ada Poling untuk saat ini