Opini
Oleh Zeng Wei Jian pada hari Selasa, 09 Mei 2017 - 07:35:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Show Down at Balai Kota

34IMG_20170509_092024.jpg
Lieus Sungkharisma di Balai Kota DKI Jakarta (Sumber foto : Istimewa )

Beberapa hari ini, medsos meriah foto-foto Balai Kota. Ada balon-balon. Karangan bunga, sebagian besar rusak. Mirip sampah. Ada ibu-ibu berpose di pinggir air mancur. Anak-anak kecil riang. Saya sampe heran, ini balai kota, dufan atau disney land.

Saya ajak Lieus Sungkharisma ke Balai Kota. Dia tanya mau ngapain. Saya jawab, liat balon.

Sekitar jam 4 sore, Senin 08 Mei 2017, kita tiba di sekitar monas. Barisan standing flower tampak. Semuanya koyak. Pemandangan jadi ngga sedap. Di depan gerbang Balai Kota, ada empat pemuda. Dekil, berseragam kotak-kotak merah. Ada logo "projo" di dada kanan mereka.

Benar aja, taman balai kota penuh standing flower. Buntelan balon-balon merah putih bertebaran. Anak-anak kecil, remaja, ibu-ibu, preman ambon, ahoker kotak-kotak, encim-encim cina pada selfi. Riang gembira. Seakan merayakan tumbangnya Ahok Jarot. Benar, suasananya mirip taman hiburan.

Kesakralan kantor gubernur hilang. Didominasi canda tawa. Prinsen park kalah seru.

Sederet pengantri tampak di teras kantor gubernur. Ahok kasi chance selfi, per 20 ahoker. Saya tanya sudah berapa lama mereka antri. Ada yang jawab 2 jam. Lima orang perempuan ngemper di lantai. Mungkin mereka lelah. Ada ibu dari Papua, Medan, Tangerang. Mereka datang khusus ingin selfie dengan sang pujaan: AHOK.

Menurut seorang ahoker, acara antri selfi bisa sampe jam 7 malam. Saya heran, Ahok kapan kerjanya. Secara de jure, Ahok masi Gubernur DKI. Sekalipun secara de facto dan moral politik dia sudah selesai. Katanya, dia masih berencana pengen gusur Kampung Aquarium lagi.

Tiba-tiba ada pemuda cina tanya kenapa Lieus anti Ahok.

Lieus kasi penjelasan. Samar-samar saya dengar dia cerita soal kasus Sumber Waras. Saya sibuk cari gambar. Jadi ngga terlalu dengar apa yang dikatakan Lieus.

Muka beberapa ahoker mulai tegang. Mungkin mereka kesal dengar omongan Lieus. Semakin lama semakin skut. Pamdal dan preman satu per satu berdatangan.

Edan Lieus. Dia masih mengecam Ahok tepat di depan kantornya. Di tengah ratusan ahoker yang sedang patah hati. Mereka pasti deg-degan, besok vonis Ahok di pengadilan.

Si pemuda minta selfi. Saya bikin simbol tiga jari. Lieus bilang ke ahoker itu, "Jangan mau kalah loe. Pake salam dua jari donk."

Jadi lengkap. Lieus di tengah. Diapit salam dua hari di kiri dan pro Anies di kanan.

Semua orang sudah sadar, ada Lieus di Balai Kota. Dua orang polisi sudah merapat. Saya ajak Lieus pindah lokasi. Tapi dia asik layani ahoker bincang-bincang dan selfi.

Baru beberapa langkah di luar teras, seorang preman flores berkata dengan nada tinggi. Lieus disarankan meninggalkan Balai Kota. Nadanya kasar. Antrian ahoker di teras serempak riuh. Ada yang teriak usir, usir...!!!

Mendengar ini, Lieus balik badan. Dia kembali masuk teras. Saling ngotot antara Lieus, preman ahoker, pamdal dan polisi pecah. Ahoker lain rame-rame merekam show down via ponsel. Lieus marah.

Ada Ahoker bilang begini: Mau ngapain ke sini. Apa masi blom puas. Kan uda menang. Ahok uda kalah.

Sontak saya sadar. Mereka merasa Lieus dan saya sedang meledek duka nestapa mereka. Pastinya mereka sedang galau berat. Ahok kalah dua digit. Padahal didukung taipan dan kekuasaan. Eep Saefulloh Fatah bilang istana jadi posko pemenangan Ahok. Tetep aja, tumbang 16%.

Ini sama aja kita masuk kandang macan. Sena'as bila Ahok berani masuk Luar Batang. Seorang diri, tanpa pengawalan.

Keributan ini menarik perhatian. Para wartawan berebut interview Lieus. Ahoker berteriak, "Sudahlah. Jangan banyak omong kao. Apa masih kurang kerusakan yang kalian buat untuk Ahok."

Saya ngakak. Ahoker-ahoker ini galak banget. Muka-muka mereka seakan siyap menggigit Lieus.

Detik.com merilis berita ini. Lieus dikatakan diusir ahoker karena nyerobot antrian. Padahal, siapa yang kerajian antri sampe dua jam hanya untuk selfi dengan gubernur kalah. Jelas bukan kita berdua. Ada-ada aja media mainstream sekarang.

Lieus menolak pergi. Dia malah duduk di kursi. Pamdal dan polisi berusaha membujuk. Alasan mereka, suasana tidak kondusif.

Caci-maki, sumpah serapah dan "boooo" terus terdengar. Keluar dari mulut Ahoker. Kami ketawa-ketawa aja. Lieus baru sepakat pergi setelah saya ingatkan soal waktu. Kita ada janji ketemu dengan Syahganda Nainggolan di sekitar Menteng.

Alas, Balai Kota sepenuhnya diokupasi ahoker. Saya merasa jadi ngga memiliki Kantor Gubernur yang seharusnya jadi milik bersama.

Sepanjang jalan, tak habis-habisnya kita terbahak. Mengupas perilaku Ahoker. Mereka marah, ngamuk, kalap, sangar. Saya sampe bertanya, "Kalo tadi sempat digigit salah seorang dari mereka, kira-kira, kita bisa kena rabies ngga ya?"(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Jumhur yang Punya Hati dan Otak

Oleh Swary Utami Dewi
pada hari Selasa, 28 Apr 2026
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat baru saja dilantik oleh Presiden. Pelantikan ini tak bisa dibantah membawa angin segar untuk mengatasi secara efektif berbagai masalah lingkungan di Indonesia. ...
Opini

Menjemput Fajar Budi: Menggugat Tidur Panjang Kaum Terpelajar

I. Prolog: Kebisingan dalam Kesunyian Di negeri yang sibuk membanggakan pertumbuhan dan deret angka keberhasilan, ada satu hal yang justru kian menghilang: suara nurani. Kita hidup dalam ...