Berita

Kasus Meiliana, MUI Minta Semua Pihak Hormati Putusan Hakim

Oleh Enjang Sofyan pada hari Sabtu, 25 Agu 2018 - 17:51:07 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

72Zainut-Tauhid.jpg.jpg

Zainut Tauhid Saadi (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi turut menanggapi soal tanggapan masyarakat yang menyesalkan vonis penjara 18 bulan bagi Meiliana. 

MUI meminta kepada semua pihak untuk menghormati putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang memvonis Meiliana penjara selama 18 bulan karena tuduhan melakukan penistaan agama.

MUI menyesalkan banyak pihak yang berkomentar tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sehingga pernyataannya bias dan menimbulkan kegaduhan dan pertentangan di tengah-tengah masyarakat.

"Seakan-akan masalahnya hanya sebatas pada keluhan ibu Meiliana terkait dengan volume suara azan yang dianggap terlalu keras," kata Zainut dalam rilisnya, Sabtu (25/8/2018).

"Jika masalahnya hanya sebatas keluhan volume suara azan terlalu keras, saya yakin tidak sampai masuk wilayah penodaan agama, tetapi sangat berbeda jika keluhannya itu dengan menggunakan kalimat dan kata-kata yang sarkastik dan bernada ejekan, maka keluhannya itu bisa dijerat pasal tindak pidana penodaan agama", paparnya.

Kasus seperti yang dialami oleh Meiliana, lanjut Waketum MUI itu, juga pernah terjadi juga terhadap ibu Rusgiani (44) yang dipenjara 14 bulan karena menghina agama Hindu.

Ibu rumah tangga itu menyebut canang atau tempat menaruh sesaji dalam upacara keagamaan umat Hindu dengan kata-kata najis. Dan juga kasus Saudara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Jakarta.

"Hendaknya masyarakat lebih arif dan bijak dalam menyikapi masalah ini,  karena hal ini menyangkut masalah yang sangat sensitif yaitu masalah isu agama," pesannya.

"Jangan membuat pernyataan yang justru dapat memanaskan suasana dengan cara menghasut dan memprovokasi masyarakat untuk melawan putusan pengadilan. Apalagi jika pernyataannya itu tidak didasarkan pada bukti dan fakta persidangan yang ada," sambungnya. 

MUI berharap, tegas Zainut, agar masyarakat mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari berbagai kasus yang terjadi.

"Bahwa dalam sebuah masyarakat yang majemuk dibutuhkan kesadaran hidup bersama untuk saling menghomati, toleransi dan sikap empati satu dengan lainnya, sehingga tidak timbul gesekan dan konflik di tengah-tengah masyarakat," tandasnya. 

Untuk diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara menjatuhkan vonis 18 bulan penjara kepada seorang wanita bernama Meiliana Selasa (21/8/2018).

Majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo menyatakan Meiliana terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 KUHP. 

Pasal ini tentang penghinaan terhadap suatu golongan di Indonesia terkait tas, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

"Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan dengan ini menyatakan perbuatan terdakwa atas nama Meiliana terbukti melakukan unsur penistaan agama sehingga hakim memutuskan Meiliana dengan hukuman penjara selama 1,5 tahun dan denda sebesar Rp 5.000," kata Wahyu.(yn)

tag: #penistaan-agama  #mui  

Bagikan Berita ini :