Zoom

"Perang" Lembaga Survei, Mana yang Bisa Menggiring Masyarakat?

Oleh Alfian Risfil pada hari Jumat, 29 Mar 2019 - 15:30:04 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1553848204.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Pilpres 2019 tinggal menghitung hari. Namun, yang nervous bukan saja kandidat Capres-Cawapres, tapi juga rakyat dan masing-masing pendukung. 

Salah satu pemicunya adalah medan “perang” para lembaga survei (LS), yang belakangan kerap "memasang" angka elektabilitas variatif bagi kedua paslon Capres-Cawapres.

Akibatnya, publik pun dibuat bingung. Tidak sedikit masyarakat yang mencurigai bahwa mayoritas LS yang selama ini beredar hanyalah alat propaganda bayaran untuk menggiring masyarakat yang belum mantap menentukan pilihan.

Lalu mana lembaga survei yang bisa dipercaya?

Seperti pernah dikatakan Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Pilpres-Pileg yang serentak menjadikan partai bak melalui rel doble track. Yang satu jurusan Senayan (DPR), yang satu lagi jurusan Istana (presiden). Maunya, semuanya dapat dua-duanya. Capres jagoannya menang, dan seluruh kadernya jadi anggota DPR.

Rasa optimisme Caleg dan Capres itu rujukannya data sajian para LS. Mereka akan kebat-kebit jika angka prosentase itu negatif. Jangankan Caleg dan Capres, kalangan Cebong dan Kampret pun ikut nervous bila jagoannya jeblok prosentasenya.

Karena itulah sejumlah LS dicurigai bayaran, manakala jagoannya dikalahkan. Sebaliknya, yang memenangkan jagoannya, dianggap itu angka-angka real (resmi), bukan abal-abal. 

Perspektif publik ini juga diamini oleh jejak "produk survei" di sejumlah Pilkada 2017 dan 2018 lalu yang mayoritas menyimpang dari realita atau score akhir di KPU. 

Saking kesalnya, baru-baru ini Andre Rosiade dari tim BPN mengaku sudah ambil ancang-ancang akan menuntut para LS, bilamana Prabowo menang tapi dalam survei "dikalahkan".

Sebagaimana diketahui, LS seperti SMRC, LSI Denny JA, Indobarometer, Charta Politica, Fox Populi, JSI; selama ini prosentasenya kerap menguntungkan Capres No. 01. Sedangkan LS lainnya, Polmark, Median, Indomatrik, Puskaptis bahkan Litbang Kompas, lebih menguntungkan Capres No. 02. 

Disebut “menguntungkan”, karena meski masih kalah dari Capres No. 01, tapi trennya membaik untuk Capres No. 02.

LS-LS tersebut mengklaim memiliki metode sendiri saat mengumpulkan data di lapangan, yang mengklaim margin eror sekitar 2-3 persen. Lalu mana kira-kira LS-LS yang bisa dipercaya sehingga berhasil menggiring masyarakat akar rumput? 

Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI), Fajar S Tamin mengungkapkan, bahwa pengaruh LS ada, tetapi tidak signifikan. Menurutnya, masyarajat tidak akan terlalu banyak terpengaruh oleh rilis LS yang beredar di publik.

Sebab, kata dia, sebagian besar masyarakat sudah menentukan pilihannya sejak jauh hari.

"Pengaruhnya ada, tapi signifikan atau tidak, tidak terlalu banyak. Survei tidak mudah merubah pilihan orang. Kecuali ada sentuhan-sentuhan isu yang khusus," kata Fajar kepada TeropongSenayan, di Hotel Mercure Sabang, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Fajar menyatakan, pemenang Pilpres 17 April mendatang akan sangat ditentukan oleh pilihan isu yang dilempar ke publik di masa-masa injury time jelang pemungutan suara.

Karenanya, sosialisasi masing-masing mesin parpol pendukung baru akan dilakukan secara masif di akhir masa kampanye.

Bahkan, menurut dia, posisi Capres-Cawapres tak menutup kemungkinan akan berbalik. Hal ini tergantung isu yang dimainkan masing-masing paslon di ujung masa kampnye.

"Makanya, pilihan isu yang dilempar ke publik sangat penting," katanya.

Di atas semua itu, Fajar mengingatkan, pada akhirnya konci pemenang Pilpres ada di masing-masing timses kedua kubu. Mereka harus memastikan bagaimana memobilisasi massa pendukungnya untuk datang ke TPS.

"Karena, dukungan kepada Capres tidak berarti apa-apa tanpa disalurkan di bilik suara. Jadi, nanti bukan lagi jarak elektabilitas yang akan memenangkan Pilpres. Tetapi lebih pada kecanggihan masing-masing tismses untuk mendatangkan pemilih agar mau datang ke TPS," ujar Fajar.

"Dengan demikian, maka memobilisasi dan menyadarkan pemilih untuk mau datang ke TPS menjadi tantangan yang harus dijawab oleh masing-masing timses," Fajar menambahkan. (Alf)

tag: #jokowimaruf-amin  #pilpres-2019  #prabowosandiaga  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement