Opini
Oleh M Rizal Fadillah (Mantan Aktivis IMM) pada hari Sabtu, 11 Mei 2019 - 17:08:03 WIB
Bagikan Berita ini :

Fase Represif

tscom_news_photo_1557569283.jpg
Jokowi (Sumber foto : Ist)

Rezim goyah akan memasuki fase menentukan. Seperti orang yang tenggelam ia akan mencari apa saja sebagai pegangan. Ia akan menendang apa saja sebagai upaya untuk menyelamatkan diri. Represif adalah fase kritis yang dihadapi rezim. Sejarah politik di berbagai belahan dunia menemukan hal seperti ini. Represivitas bisa sukses untuk melanggengkan bisa pula menjadi fase akhir dari kegagalan atau kejatuhan.

Ketika masih kuat, dikritisi sekeras apapun tenang saja. Toh semua bisa diantisipasi dan dicari solusi. Kekuatan lawan dihitung tak akan menggoyahkan.Banyak opsi untuk mengatasi serangan. Benteng kokoh, pasukan kuat, strategi matang, serta cara memukul mundur yang bisa diatur.
Masalahnya adalah jika ternyata sudah klimaks. Skenario selalu terantisipasi dan siasat selalu terkuak. Publik peka pada setiap gerak. Salah sikap bisa babak belur hingga wibawa hancur. Muka merah wajah terasa panas. Inilah saat tanda kekuasaan mulai lemah hingga langkah pun goyah. Tak ada jalan selain menyerang sebelum diserang. Anggapannya ini sebagai jalan terakhir dan satu satunya.

Kompetisi Pilpres 2019 telah memakan korban hampir 600 jiwa melayang tanpa jelas sebab dan siapa penanggung jawab.Kuat dugaan salah manajemen. Ditambah dengan tudingan kecurangan. Penjelasan atau argumen kontra tidak cukup kuat. Akibatnya dugaan kecurangan menjadi terus menggelinding. Pengumuman KPU bukan ditunggu tetapi terasa sudah dilewati. Kepercayaan pada KPU sangat rendah karena memang tak ada indikasi mengarah pada klarifikasi melainkan justru memperkuat legitimasi. Prosedur Bawaslu ditempuh melalui pengaduan yang gencar. Namun belum terasa progresnya. Kini sikap dan tindak lanjut Bawaslu menjadi pertaruhan apakah dapat meredam atau memanaskan.

Fase represif berjalan. Proses hukum tokoh-tokoh dilakukan. Alasan bisa dibuat. Pelapor-pelapor dadakan yang tak jelas kepentingan muncul. Kasus lama dijadikan sebab. Makar jadi delikempuk. Hukum menguat sebagai alat kekuasaan. Bahasa halusnya "dibentuk tim hukum" agar ada koridor untuk menjerat target. Model hukum yang subordinat politik menurut Nonete & Selznick masuk kategori hukum represif yang tujuannya semata ketertiban, diskresi luas dan opportunistik.

Pemimpin dan tokoh diciduk karena rezim gemetar pada gaung "people power". Sebutan yang sedang disukai rakyat setelah dahulu tagar ganti Presiden. Counter isu seperti pemindahan ibukota tak menarik apalagi soal investasi Cina di program "Silk Road" yang dianggap oleh rakyat sebagai "road to the new colonialism".
Negara dijual atas nama investasi.

Fase represif bukan solusi untuk bangkit akan tetapi kebijakan yang membuat kondisi penguasa serba sulit. Kekerasan pada rakyat hanya menggoreskan luka yang membangun semangat untuk segera menyingkirkan kezaliman. Lazim untuk mempercepat datangnya marhalah akhir yaitu fase ambruk atau tumbang.
Melalui Pemilu sebenarnya sudah terhembus hawa kekalahan. Tapi namanya usaha, selama ada celah ya dibongkar celah itu meski ternyata kemudiannya diketahui bahwa ujung lorong dari celah yang dibuka itu adalah mulut harimau yang menganga.
Penguasa yang akan mati dimakan oleh kerakusan kekuasaan.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.

Bandung 11 Mei 2019 (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #jokowi  #pilpres-2019  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Oleh Andi Rahmat, Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
pada hari Senin, 25 Mei 2020
Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...
Opini

Tradisi Halal Bihalal dan Makna Kata Maaf Presiden

Mengapa di Indonesia ada tradisi #halalbihalal yang tidak ada di negeri lain? Tradisi Halal bihalal telah berdampak sosial & politik dalam masyarakat. Secara sosial kehidupan bernegara lebih cair ...