Opini
Oleh Muhammad Farras Fadhilsyah (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia) pada hari Rabu, 24 Jul 2019 - 06:23:08 WIB
Bagikan Berita ini :

Garbi Menjadi Partai Personalistik?

tscom_news_photo_1563924188.jpeg
(Sumber foto : )

Ormas yang saat ini yang bernama GARBI ( Gerakan Arah Baru Indonesia) nampaknya semakin yakin dengan tujuannya mematamoforsa menjadi sebuah partai politik. Ormas yang disinyalir menjadi pecahan para elite-elite maupun mantan elite dari PKS. Ormas ini mempunyai sebuah pentolan atau bahsa formalnya yaitu leader utama yaitu Anis Matta yang digadang-gadang nampaknya akan menjadi pemimpin nomor satu didalam Garbi.

Tidak kalah pamor Fahri Hamzah yang juga menaikan suara Garbi mungkin juga akan bisa menjadi pemimpin dipusaran elite Garbi. Bahkan sosok Fahri Hamzah bisa dikatakan sebagai seorang utama yang membuat nama Garbi muncul dimedia-media maupun dalam diskusi-diskusi politik hangat disalah satu program media yang terkenal.

Jika Garbi akan menjadi partai politik untuk mengikuti kontestasi Pemilu 2024 maka benar dalam setiap Pemilu di Indonesia pasca reformasi selalu melahirkan partai-partai politik baru.

Kita lihat pada tahun 1999, 2004, 2009, 2014, 2019 yang dimana setiap tahun selalu melahirkan partai politik baru, baik partai politik personalistik hingga mempunyai basis ideologi dan pengkaderan yang kuat.

Maka mungkin Pemillu 2024 Garbi akan menjadi partai baru yang mengikuti Pemilu 2024. Lalu dimanakah positioning Garbi? Apakah akan menjadi partai personalistik? Atau partai berbasis ideologi dan pengkaderan seperti teman lamanya seperti PKS?.

Positioning partai tentunya akan berpengaruh kepada target audiens/ masyarakat dalam hal ini untuk mengambil hati rakyat yang akan menjadi suara didalam Pemilu. Heibing & Cooper mendefinisikan positioning sebagai membangun persepsi produk didalam pasar sasaran relative terhadap persaingan. Dengan demikian, positioning harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan langkah yang tepat.

Pengelola pemasaran harus mengetahui bagaimana konsumen dalam hal ini masyarakat memproses informasi, menciptakan persepsi, dan bagaimana persepsi mempengaruhi pengambilan keputusannya.

Gun Gun Heryanto juga mengatakan bahwa ketika konsep ini diadopsi dalam dunia politik dalam iklim persaingan partai politik harus mampu menempatkan produk-produk dan image politik dalam benak masyarakat.

Tipe Partai

Pertama-tama dalam menjadi partai baru harus memiliki positioning yang jelas apakah tipe dari partai tersebut karena ini akan menjadi bagian target pasar masyarakat tipe apa yang akan menjadi sasaran basis suara. Apakah tipe partai sapu jagat (catchall), electoralist programmatic,atau tipe personalistik?. Namun sepertinya Garbi ini akan condong menjadi partai personalistik. disatu sisi pernyataan Fahri Hamzah mengatakan disalah satu media online “tak ingin terjebak dalam kategorisasi ideologis” ini menandakan nampaknya Garbi akan berbeda dari kawan lamanya yaitu PKS. Melihat condongnya tipe personalistik terlihat dari menonjolnya Anis Matta yang digadang-gadang sebagai pendiri Garbi.

Setiap roadshow Garbi keliling Indonesia Nampak banner bergambar Anis Matta sebagai penggagas Garbi selalu muncul.

Dalam sejarah partai politik Indonesia, bahwa partai personalistik hanya dimiliki oleh salah satu personal kuat nasional yang memiliki jabtan tinggi atau elektabilitas tinggi dibidang yang ditekuni tubuh persona itu. Seperti demokrat dengan mempunyai SBY, Gerindra dengan Prabowo, Hanura yang dulu ditokohi oleh Wiranto.

Nampaknya sulit bagi Garbi jika hanya menonjolkan figuritas yang nampaknya sosok figur itu tidak menonjol didalam benak masyarakat dan Garbi tidak memiliki positioning yang kuat didalam benak masyarakat.

Dua Matahari Kembar

Jika memang Garbi akan menjadi partai yang prospek kecondongannya menjadi partai personalistik maka menurut penulis akan menjadi “Dua Matahari Kembar” yang pertama matahari didalam internal partai yaitu Anis Matta, dan matahari ditubuh external partai untuk menggait suara ataupun calon anggota garbi yaitu sosok pamoritas Fahri Hamzah.

Sosok Anis Matta yang menjadi pengagagas Garbi tentunya akan menjadi magnet bagi awal-awal para pengikut Garbi. Tetapi yang perlu di khawatirkan adalah sebagai partai baru nanti tentunya membutuhkan kenaggotaan yang cukup untuk memenuhi syarat sebagai peserta Pemilu 2024.

Sosok Fahri Hamzah yang menonjol dalam media sebagai magnet kuat kedepan bagi para masyarakat yang ingin masuk ke Garbi. Bahkan masyarakat awam pun mungkin masuk ke Garbi karena melihat sosok Fahri Hamzah yang lihai berpolitik ketimbang sosok Anis Matta. Maka dengan melihat ini, kedepan Garbi sebagai partai baru akan memiliki 2 matahari kembar yang dimana akan rentan dengan terjadinya conflict of interest didalam internal Gabir itu sendiri.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Pajak Pencairan Dana JHT Seharusnya Dihapuskan Juga

Oleh Timboel Siregar
pada hari Minggu, 12 Jul 2020
Dalam masa pandemi Covid19 ini Pemerintah telah memberikan insentif pajak kepada pekerja yaitu relaksasi fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21). Pembayaran PPh 21 dihapuskan oleh Pemerintah ...
Opini

Tekad Golkar Sumbar 2024, Usai Hasil Terburuk Sejak 1971

Siapapun kader Partai Golkar (selanjutnya Golkar) di Provinsi Sumatera Barat, terkhusus daerah yang bakal menghelat pemilihan langsung kepala daerah (pilkada), sejak dini layak menyadari bahwa tidak ...