
Dunia hari ini tampak gaduh, tegang, dan kehilangan arah. Perang tak kunjung usai, diplomasi macet, dan ekonomi global berjalan pincang. Namun kegaduhan ini tidak sepenuhnya lahir dari ketiadaan aturan internasional, melainkan dari ketidakselarasan cara berpikir para aktor utamanya. Dunia duduk di meja yang sama, tetapi setiap kekuatan besar bermain dengan permainan yang berbeda.
Amerika Serikat bermain poker, Tiongkok menyusun mahjong, sementara Rusia menghitung langkah catur. Ketika permainan tidak disepakati, konflik menjadi keniscayaan.
Tiongkok: Menang Tanpa Menyerang
Tiongkok tidak tergesa-gesa. Dalam mahjong, kemenangan tidak dicapai dengan satu langkah spektakuler, melainkan melalui kesabaran, konsistensi, dan kemampuan membaca arah permainan. Pola ini sangat kentara dalam strategi global Tiongkok.
Alih-alih konfrontasi militer terbuka, Beijing memilih:
menguasai rantai pasok global,
menanam investasi strategis lintas benua,
serta membangun ketergantungan ekonomi jangka panjang.
Pendekatan ini sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, justru di sanalah kekuatannya. Tiongkok tidak ingin menang hari ini; ia ingin tidak terkalahkan esok hari. Dalam logika mahjong, harmoni dan stabilitas lebih penting daripada kemenangan yang gaduh.
Dunia Barat kerap gagal membaca strategi ini karena terlalu terbiasa dengan logika menang-kalah yang instan.
Amerika Serikat: Gertakan sebagai Instrumen Kekuasaan
Amerika Serikat adalah pemain poker ulung. Dalam poker, kartu bukan segalanya—keberanian bertaruh, menggertak, dan bermain psikologis sering menentukan hasil akhir. Inilah fondasi mentalitas geopolitik Amerika.
Tekanan ekonomi, sanksi sepihak, dan narasi moral global adalah bentuk bluff modern. Strategi ini efektif ketika lawan masih percaya pada dominasi Amerika. Namun poker memiliki kelemahan mendasar: jika gertakan dibaca, kekuatan melemah drastis.
Dalam konteks Tiongkok dan Rusia, gertakan tidak selalu mempan. Bahkan, terlalu sering melakukan all-in justru mempercepat erosi pengaruh Amerika sendiri.
Poker mengajarkan satu hal: keberanian memang penting, tetapi keberanian tanpa kesabaran adalah spekulasi.
Rusia: Ketika Negara Bermain Catur
Rusia berpikir dalam kerangka catur—keras, terbuka, dan tanpa ilusi. Semua langkah dihitung, semua risiko disadari. Tidak ada ruang bagi improvisasi emosional.
Dalam konflik Ukraina, Rusia memahami biaya ekonomi dan politik yang harus dibayar. Namun seperti dalam catur, pengorbanan pion dianggap sah demi tujuan strategis utama. Negara ditempatkan di atas individu, stabilitas di atas kenyamanan.
Inilah yang sering gagal dipahami dunia Barat. Rusia tidak bermain untuk citra, melainkan untuk posisi kekuasaan jangka panjang. Dalam logika catur, kompromi setengah jalan sering kali berarti kekalahan total.
Masalah Utama: Dunia Tanpa Kesepakatan Aturan Main
Kekacauan global hari ini bukan sekadar akibat ambisi, melainkan ketidakmampuan memahami cara berpikir lawan.
Amerika menekan dengan gertakan, Tiongkok menunggu dengan sabar, Rusia melangkah dengan kalkulasi dingin.
Ketika poker bertemu mahjong dan catur di satu meja:
diplomasi kehilangan bahasa bersama,
kepercayaan runtuh,
dan konflik menjadi sulit dihentikan.
Dunia tidak kekurangan forum internasional. Yang kurang adalah kesepahaman strategis lintas budaya berpikir.
Indonesia: Jangan Salah Memilih Permainan
Di tengah kegaduhan global ini, Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton, apalagi pion. Politik luar negeri bebas-aktif menuntut kejernihan membaca permainan, bukan ikut-ikutan gaya kekuatan besar.
Indonesia perlu:
kesabaran strategis ala mahjong,
kewaspadaan terhadap spekulasi poker,
dan disiplin perencanaan ala catur,
tanpa kehilangan jati diri konstitusional dan kepentingan nasional.
Kesalahan terbesar bukan kalah bermain, melainkan salah memahami permainan yang sedang berlangsung.
Geopolitik abad ke-21 bukan hanya soal siapa paling kuat, tetapi siapa paling memahami cara berpikir lawan dan batas dirinya sendiri. Selama dunia terus bermain di meja yang sama dengan permainan yang berbeda, konflik akan terus berulang.
Bagi Indonesia, pelajaran terpentingnya sederhana namun mendasar:
dalam dunia yang kacau, kejernihan berpikir adalah bentuk tertinggi dari kedaulatan.
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #