Opini

Menuju Perguruan Tinggi Kelas Dunia

Oleh Dr. Muhammad Nur, DEA (Dosen Unuversitas Diponegoro, Semarang) pada hari Kamis, 01 Agu 2019 - 21:44:34 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1564670935.jpeg

Dr. Muhammad Nur, DEA (Dosen Unuversitas Diponegoro, Semarang) (Sumber foto : ist)

Beberapa hari terakhir heboh diskusi di kalangan pencinta pendidikan di Indonesia karena wacana akan menempatkan Rektor di PTNBH seorang profesional pendidikan Tinggi dari warga asing. Menristekdikti nampaknya sungguh-sungguh untuk itu. Alasan utamanya belum ada dari PT kita yang masuk 100 besar dunia.

Mungkin yang dimaksud pak Menteri adalah versi QS, kalau versi yang lain sangatlah berat, kita harus menyiapkan calon calon pemenang Nobel untuk masuk 100 besar duina. Awalnya kita tak pernah terusik dengan pemeringkatan tersebut. Pemeringkatan perguruan tinggi baru dimulai pada pertengahan tahun 2000. 
Pada akhir tahun 2006, perguruan tinggi di Indonesia disentakkan dengan  masuknya 4 perguruan tinggi di Indonesia dalam jajaran 500 besar perguruan tinggi dunia. PT tersebut adalah, UGM, UI, ITB dan Undip. 

Undip masuk pada urutan 495, dan diperbaiki urutan tersebut pada akhir tahun 2007 yakni pada urutan 485, dan diikuti pula oleh perguruan tinggi yang lain seperti IPB, Unair. Pada tahun 2008 pada pertemuan rembuk nasional pendidikan, Kementerian Pendidikan Nasional RI memberikan Anugerah Anindyaguna untuk 7 PTN. Ketujuh perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Gadjah Mada (peringkat 360), Institut Teknologi Bandung (peringkat 369), Universitas Indonesia (peringkat 395), serta Universitas Diponegoro, Unversitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor (peringkat 401-500), yang mengawali terpilihnya PT Indonesia dalam ranking dunia.

Sejak tahun-tahun tersebut pemeringkatan internasional mewabah. Banyak perguruan tinggi terdorong untuk memasuki peringkat bergengsi tersebut. Pemerintah juga memberikan insentif khusus untuk tujuan tersebut. Dengan berjalannya waktu, perguruan tinggi di seluruh dunia mulai menyadari, kreteria yang digunakan oleh lembaga pemeringkat internasional bisa melenceng dari tujuan-tujuan perguruan tinggi di negara masing-masing.

Kriteria dari lembaga pemeringkat mulai dipertanyakan. Namun demikian pemeringkatan juga tak bisa dilupakan sepenuhnya, karena terlanjur sudah telah mempengaruhi calon mahasiswa dan institusi yang menerima alumni perguruan tinggi.


Kreteria UNESCO

Pada bulan Mei 2011, Unesco melakukan diskusi yang melibatkan peneliti, akademisi, analis kebijakan, mahasiswa, dan pimpinan-pimpinan lembaga internasional, tentang tanggung jawab PT dan pemeringkatan. Tahun ini, UNESCO baru saja menerbitkan  sebuah buku dengan judul Rankings and Accountability in Higher Education: Uses and Misuses (UNESCO, 2013). Buku ini lahir karena kekhawatiran Unesco dengan pola dan kretiria rangking yang ada, sehingga dari 16.000 an lebih perguruan tinggi seluruh dunia hanya 100 an saja yang tercatat dalam rangking. UNESCO, kemungkinan  mengambil pemeringkat yang sangat ketat seperti Shanghai Jio Tung, atau Times Higher Education (THE). Selebihnya, perguruan tinggi yang lain, bahkan yang lebih banyak mendidik warga dunia tidak tercatat. Ini sangat berbahaya.  

Lain lagi QS sebagai lembaga pemeringkat dunia, dari 24.000 an PT, yang tercatat dalam peringkat  hanya sekitar 700. Dalam tulisan ini contoh yang diambil adalah QS, karena lebih relevan dan masih mungkin dicapai oleh perguruan tinggi di Indonesia. Sebagai lembaga pemeringkat internasional QS menekankan pada hasil riset yang dipublikasikan (sekitar 40 % dari penilaian pakar terhadap sebuah PT, dan 20 % tingkat sitasi  karya ilmiah sebuah PT oleh pakar dari PT lain). Jadi 60 % tergantung pada kualitas riset. Kriteria yang lain dari QS adalah terdapatnya sejumlah mahasiswa asing (bobot 5 %), dosen asing (bobot5 %), perbandingan jumlah  dosen dengan jumlah mahasiswa (bobot20 %) serta penilaian dari perusahan/insitusi tempat alumni bekerja (bobot 10 %).

Maraknya pemeringkatan perguruan tinggi, menimbulkan kekhawatiran bahkan di kalangan Unesco. Pemeringkatan telah mendorong beberapa negara untuk fokus pada segelintir elit perguruan tinggi dan dicemaskan dapat merusak prioritas dan kapasitas nasional. Lebih jauh lagi  strategi regional dari masyarakat ilmiah bisa saja bergerser karena tuntutan pencapaian kriteria yang didikte oleh lembaga pemeringkat. Berdasarkan hal tersebut,  

Unesco coba lebih fokus pada  pewujudan  sistem yang berkelas dunia bukan pada kerja mandiri sebuah universitas kelas dunia. Kalau hanya terkunci pada universitas kelas dunia, ini sangat  membahayakan karena hanya mengarah kepada  universitas yang telah sangat maju dengan investasi sangat besar. Perguruan tinggi semacam ini akhirnya hanya diperuntukkan bagi kelompok elit tertentu.  Pemerintah dari sebuah negara dituntut lebih bekerja keras untuk menyelasarkan antara  prioritas nasional disuatu sisi dan pemenuhan  kriteria peringkat disisi lain.  

Apa yang seharusnya di lakukan? Kita ketahui bersama bahwa posisi pendidikan tinggi di suatu negara sangatlah penting. Disisi lain tak semua negara mampu menyediakan pendanaan  besar untuk berinvestasi dalam bidang riset. Maka sangatlah bijak menempatkan kualitas pendidikan tinggi dalam kerangka komparatif dan berskala internasional yang lebih luas. Persepsi ini menjadikan terbukanya peluang dari perguruan tinngi negara berkembang untuk dapat  diperhitungkan. Dengan cara pandang ini, dunia pendidikan tinggi diharapkan lebih kompetitif dalam skala global dalam ranahnya lebih multi-polar. PT tak perlu memaksakan diri berinvestasi dengan biaya tinggi, namun mampu  memberikan kontribusi untuk penciptaan pengetahuan asalkan terpublikasikan secara internasional.


Tri Dharma PT Dengan 
Cara Pandang Lebih

Civitas akademika merupakan aset yang sangat penting bagi sebuah perguruan tinggi. Juga berlaku bagi perguruan tinggi di Indonesia. Indonesia telah merumuskan dengan baik Tridharma yang menjadi penyangga bagi seluruh  kegiatan civitas akademika. Tridharma sudah menjadi ruh perguruan tinggi di Indonesia. Tiga pilar itu adalah darma pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tritunggal dharma tersebut telah menjadi budaya perguruan tinggi kita,  dan sampai pada hal yang paling mendasar dalam pembentukan kurikulum sebuah perogram studi. 

Dimana letak kelemahannya sehingga PT Indonesia berapa tahun terakhir terus merosot ranking dunianya? Kelemahannya adalah pada penghayatan masyarakat PT yang belum begitu dalam pada tridharma tersebut. Dalam persaingan global sekarang ini, perguruan tinggi dan lembaga riset merupakan suatu kekuatan utama agar mampu mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Untuk hal tersebut, PT perlu menyadari bahwa kekuatan tridharma dapat dimanfaatkan asalkan kita mampu menggunakannya dengan cara pandang lebih. Dharma pertama  seyogyanya menggunakan prinsip mendidik dan mengembangkan sumber daya manusia berkelanjutan. Dharma kedua sebaiknya menyentuh kemampuan menghasilkan ilmu dan teknologi baru melalui penelitian dan pengembangan. Akhirnya, dharma ketiga diusahakan  mampu berkontribusi pada pembangunan nasional melalui alih sains dan teknologi kepada masyarakat. 

Kegiatan tridharma tersebut baik secara sendiri-sendiri maupun  yang  terkait satu dengan yang lain, akan dapat menghasilkan karya intlektual yang dapat didesiminasikan ke masyarakat dalam arti luas, melalui publikasi ilmiah, seminar, paten, lisensi, buku,  tulisan populer dan lain sebagainya. Kegiatan semacam inilah yang dapat dinilai oleh pemeringkat internasional, asalkan kegiatan-kegiatan tersebut tersebar secara internasional dan dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat internasional sehingga menjadi acuan (sumber sitasi). Jadi benang merahnya  adalah kemampuan mempublikasikan hasil kegiatan Tridharma secara internasional yang yang merupakan  unsur penting dalam penilaian universitas kelas dunia. 

QS memberikan bobot 40 % penilaian dari peer review dan 20 % dari jumlah karya ilmiah suatu PT disitasi oleh penggerak ilmu pengetahuan lain dari seluruh dunia. Semakin banyak karya yang dipublikasikan secara internasional, maka semakin dikenal suatu perguruan tinggi. Hal tersebut mendorong naiknya tingkat sitasi terhadap karya PT tersebut. Perguruan tinggi tersebut telah  berkontribusi bagi perkembangan sains dan teknologi.


Terbang Miring

Dalam hemat saya, kita tak bisa terlepas dengan dinamika global. Yang paling strategis dilakukan adalah pembenahan secara serius suasana akademik di kampus kampus. Kampus harus menghasilkan pemimpin akademik yang mumpuni dalam bidang spesifik yang digeluti. Fasilitas riset dan dukungan untuk publikasi Internasional ditengkatkan secara serius. 

Fungsi perguruan tinggi sebagai sumber inspirasi dan tenaga terdidik di negerinya tidak terkesampingkan dan itulah yang sangat penting menurut kreteria UNESCO (2013). Perguruan tinggi kita dipaksa "terbang miring", menyediakan diri untuk diranking dengan semua kreterianya, namun juga menggerakkan inovasi hasil-hasil risetnya untuk rakyat, memberikan kontribusi khusus untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Semoga !!!

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pendidikan  

Bagikan Berita ini :