
Musim dingin tahun 2000 di Helsinki, Finlandia. Mikko Kodisoja, pendiri perusahaan pengembang game, Sumea, ingin mempekerjakan seseorang untuk mengurus hal-hal administratif perusahaan. Tujuannya, agar para pendiri Sumea yang berjiwa seni itu bisa fokus membuat game.
Pekerjaan itu ditawarkan kepada Ilkka Paananen. Dia ini mahasiswa Helsinki University of Technology dan usianya baru 22 tahun. Kenapa Ilkka mendapatkan pekerjaan tersebut, alasannya sangat pragmatis. Dia satu-satunya kandidat yang bersedia menerimanya.
Dan yang lebih menarik lagi, saat itu para pendiri Sumea belum mendapatkan pendanaan, sehingga mereka beluim bisa membayar gaji Ilkka.
Menariknya lagi, agar Ilkka terlihat memiliki kredibilitas saat mewakili perusahaan, para pendiri memutuskan memberinya gelar "CEO".
Ilkka mengenang momen itu dengan mengatakan, "Saya tidak pernah memiliki pekerjaan sungguhan selain magang dan pekerjaan musim panas, dan tentu saja saya sama sekali tidak tahu apa yang saya lakukan".
Empat tahun kemudian, Sumea menjadi perusahaan yang cukup sukses dan diakuisisi oleh Trip Hawkins, pendiri Electronic Arts.
Setelah akuisisi tersebut, Mikko dan Ilkka kembali bekerja sama untuk mendirikan perusahaan game baru dengan visi yang spesifik: mengumpulkan "orang-orang terbaik untuk membentuk tim terbaik yang pada akhirnya akan menciptakan game terbaik".
Mereka menamai perusahaan itu Supercell.
Supercell dimulai dengan sangat sederhana, hanya berisi 15 orang yang berdesakan di ruangan seluas 35 meter persegi. Awal perjalanan mereka tidak mulus; game pertama mereka, Gunshine, gagal menarik perhatian pasar dan dihentikan dalam beberapa bulan.
Keberuntungan mereka berubah drastis saat peluncuran game ketiga, Clash of Clans, Agustus 2012. Game strategi ini meledak di pasaran. Dan dalam waktu tiga bulan, Clash of Clans menjadi game dengan pendapatan kotor tertinggi di AS. Dalam waktui setahun menjadi game paling menguntungkan di dunia.
Skala kesuksesan finansial Clash of Clans sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, waralaba ini telah menghasilkan pendapatan seumur hidup lebih dari $10 miliar. Pendapatannya melebihi gabungan tiga film terlaris sepanjang masa (Avatar, Avengers: Endgame, dan Avatar: Way of Water). Juga melebihi gabungan penjualan seluruh buku Harry Potter dan gabungan 100 single musik teratas yang pernah di-streaming.
Kesuksesan ini mengubah nasib Ilkka Paananen. Mahasiswa yang dulu menjadi CEO karena tidak ada orang lain yang mau mengambil pekerjaan tanpa gaji itu kini menjadi seorang miliarder.
Pada tahun 2016, raksasa teknologi Tiongkok, Tencent, mengakuisisi Supercell dengan nilai lebih dari 10 miliar ke atas). Yang luar biasa, Supercell mencapai nilai ini dengan kurang dari 400 karyawan, menjadikannya perusahaan dengan nilai per karyawan tertinggi di dunia.
Kenapa Tencet mengakuisisi mayoritas saham Supercell? Langkah ini relevan dengan strategi besar Tencent untuk bertransformasi dari pengembang aplikasi yang hanya berfokus pada Cina menjadi konglomerat teknologi global yang sangat terdiversifikasi. Dengan mengakuisi 80% saham Supercell (pembuat Clash of Clans), Tencent mendominasi industri game global di luar pasar Cina
Ilkka tidak mengklaim kesuksesan ini semata-mata karena kejeniusan individu. Ia mengakui peran krusial pemerintah Finlandia. Supercell didirikan sebagian berkat pinjaman sebesar €400.000 dari pemerintah Finlandia. Ilkka menyatakan bahwa tanpa pinjaman tersebut, Supercell mungkin tidak akan pernah ada.
Investasi pemerintah itu terbayar lunas berkali-kali lipat. Supercell kini menjadi pembayar pajak korporasi terbesar di Finlandia. Pajak yang dibayarkan Supercell sendiri jumlahnya berlipat ganda dari total uang yang pernah diinvestasikan pemerintah Finlandia kepada seluruh startup yang pernah ada di negara itu.
Ilkka menekankan bahwa perusahaannya adalah produk dari lingkungannya. Ia merasa berutang budi pada sistem sosial Finlandia.; sekolah yang bagus, layanan kesehatan, jalanan yang aman, dan jaring pengaman sosial, yang memungkinkan warganya untuk berani mengambil risiko dan berinovasi.
Perjalanan pekerjaan dan karier Ilkka Paananen mengetuk pelajaran kepada kita. Pertama, jangan meremehkan awal yang sederhana. Karier Ilkka dimulai bukan dengan ambisi besar atau strategi jenius, melainkan dengan kesediaan mengerjakan hal yang tidak diinginkan orang lain.
Kedua, kesuksesan adalah produk kolektif, bukan individu. Ilkka mengakui bahwa kesuksesan Supercell bukanlah hasil kerja keras dirinya atau individu semata, melainkan produk dari lingkungannya.
Ketiga, pentingnya "memberi kembali" (Give Back). Berbeda dengan narasi umum pengusaha teknologi yang sering menghindari pajak, Ilkka dan Supercell justru bangga menjadi pembayar pajak korporasi terbesar di Finlandia.
Keempat, fokus pada manusia, bukan hanya produk. Setelah perusahaan pertamanya dijual, Ilkka mendirikan Supercell. Filosofinya sangat spesifik: mengutamakan orang di atas segalanya. Dan visinya adalah mengumpulkan "orang-orang terbaik untuk membentuk tim terbaik yang pada akhirnya akan menciptakan game terbaik".
Terakhir, atau kelima, kegagalan adalah langkah menuju sukses. Perjalanan Supercell tidak instan. Game pertama mereka, Gunshine, gagal mendapatkan traksi dan harus dihentikan.
Namun, kegagalan ini tidak menghentikan mereka. Itu hanyalah bagian dari proses menuju penciptaan Clash of Clans yang mengubah industri game seluler selamanya. Dan ketahanan untuk bangkit dari kegagalan awal itu kunci dari pencapaian valuasi miliaran dolar mereka.(*)
RUJUKAN
Gul, M. (2025). _The new geography of innovation: The global contest for breakthrough technologies._ William Collins
Kerr, W. R., Jones, B. F., & Brownell, A. (2016). _Supercell_ (Harvard Business School Case Study). Harvard Business School.
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #