Berita

Hanya Modal 25 Juta, Politisi Ini Lolos ke DPRD Jatim

Oleh Ferdiansyah pada hari Sabtu, 31 Agu 2019 - 23:30:47 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1567269047.jpg

Diana Amaliyah Verawatiningsih (Sumber foto : Ist)

SURABAYA (TEROPONGSENAYAN) --Untuk bisa duduk menjadi anggota DPRD Jawa Timur tidak harus mengeluarkan uang yang banyak. Hal ini dibuktikan Diana Amaliyah Verawatiningsih, seorang pegiat literasi.

Keseriusan Diana untuk menjadi legislatif diwujudkannya dengan blusukan dari kampung ke kampung, menyebarkan virus kebaikan agar masyarakat giat membaca. Dia juga mendorong agar banyak terbentuk perpustakaan komunitas, dan menggelar berbagai diskusi buku.

Menurut politikus asal PDIP itu, penguatan budaya literasi adalah syarat meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM).

Mengingat IPM di Jawa Timur belum merata. Seperti halnya IPM Surabaya sangat tinggi, namun hal ini belum tentu terjadi di daerah lainnya.

"Penguatan literasi sejalan dengan visi pembangunan SDM Presiden Jokowi lima tahun ke depan," ujar Diana, Sabtu (31/8/2019).

Diana dilantik menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Jatim IX meliputi Magetan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan. Untuk meraih itu, dia hanya berbekal biaya kampanye sekitar Rp 25 juta untuk cetak kartu nama, kampanye digital, dan operasional mengunjungi warga.

Dengan modal sosial yang dia miliki sebelumnya, kepercayaan warga terpupuk kepada Diana, sehingga biaya politiknya menjadi rendah. Diana berhasil meraih 31 ribu suara dari dapilnya. "Saya tak pernah bikin pertemuan skala besar," ujarnya.

Diana sebelumnya pernah menjadi caleg DPRD Jawa Timur dari dapil yang sama pada 2009 dan 2014, namun tidak lolos.

Meski tak lolos, sejak 2009 dia tetap melakukan kerja-kerja politik dan sosial, terutama menyebarkan spirit membaca ke desa-desa.

Dia merelakan rumahnya dijadikan perpustakaan umum dan tempat berdiskusi anak-anak muda. Ribuan koleksi bukunya bisa dipinjam secara gratis. Uniknya, buku yang dipinjam oleh warga tak satu pun hilang karena selesai membaca selalu dikembalikan. "Saya sering dijuluki tukang buku," kata Diana.

Diana ingin menepis anggapan bahwa yang bisa berpolitik hanya orang-orang bermodal besar. Padahal masyarakat yang cerdas melahirkan politikus cerdas, sehingga bukan soal duit semata.

Dia sengaja tidak memasang baliho dan spanduk. Namun hanya bersilaturahmi ke masyarakat dari rumah ke rumah.

"Saya mendatangi teman-teman pencinta buku satu per satu. Lalu keluarga mereka. Mereka lalu bergerak membantu saya," jelas mantan aktivis PMII itu.

Selain kerja relawanpencinta buku, keberhasilannya tidak terlepas dari gotong royong seluruh caleg dan pengurus PDIP yang dengan kompak berbagi area konsolidasi. Peran senior partai juga vital dalam memandunya memasuki pertarungan politik.

Setelah dilantik menjadi anggota dewan, Diana berjanji mengawal garis kebijakan PDIP. Dia komitmen gotong royong untuk mewujudkan kebijakan pro orang kecil, dan menjadikan Jawa Timur rumah besar yang ramah untuk semua warga. (Alf)

tag: #pdip  #pemilu-2019  

Bagikan Berita ini :