'Alarm' Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Oleh Ahmad Iskandar Bait (Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun) pada hari Jumat, 04 Okt 2019 - 16:38:33 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1570181913.jpeg

Ilustrasi (Sumber foto : ist)

Awan hitam yang membayangi perekonomian dunia dalam beberapa bulan terakhir, menjadi pertanda “resesi global” sudah di depan mata. Pelaku pasar finansial di Amerika Serikat jauh-jauh hari bahkan sudah blingsatan memindahkan uangnya ke negara-negara prospektif dalam beternak uang. Begitu juga ekonomi China benar-benar mengalami pelambatan. Inilah dramatisasi dan tragedi dari perang dagang dua raksasa dunia AS-China.

Di Eropa, beberapa negara bahkan sudah mengumumkan bahwa ekonomi mereka telah terkena resesi, yaitu Jerman, Inggris, dan Italia. Selain itu Meksiko dan Brasil mengaku negaranya juga sudah memasuki resesi. Begitu juga Jepang dan negara-negara berkembang mengalami imbas pelambatan ekonomi juga. 

Tidak heran, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD belum lama ini memutuskan untuk memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 2,9 persen pada tahun 2019, turun dari perkiraan sebelumnya 3,2 persen. Tak hanya tahun ini, mereka juga mengkoreksi proyeksi pertumbuhan tahun 2020 mendatang dari yang awalnya 3,4 persen menjadi tinggal 3 persen saja. 


Melambat Bersama

Dari sisi ekonomi makro, melambatnya ekonomi Amerika ditandai dengan penurunan angka ekspor dan investasi. Pada triwulan kedua 2019, pertumbuhan ekonomi Amerika tercatat sebesar 2,3 persen (YOY), atau lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya yaitu sebesar 3,2 persen (yoy). 

Sementara angka dan nilai ekspor Amerika mengalami kontraksi sebesar -1,5 persen (yoy) jauh menurun dibandingkan dengan ekspor triwulan sebelumnya sebesar 1,2 persen (yoy). Gejala pelambatan ekspor tersebut terutama terjadi pada kelompok Capital Goods yang sejalan dengan melambatnya permintaan dari China serta terjadinya tren penurunan purchasing manager index (PMI) manufacturing mitra dagang utama. 

Tingkat Investasi Amerika juga mengalami penurunan tajam dari 2,9 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 1,4 persen (yoy) pada triwulan kedua 2019.

Perlambatan investasi tercermin dari kontraksi new order capital dan building permit. Perlambatan ekonomi Amerika juga tercermin dari pertumbuhan konsumsi yang masih tertahan serta perbaikan pasar tenaga kerja yang masih terkendala tertahannya partisipasi tenaga kerja. 

Jadi indikator makro C (konsumsi), I (Investasi), dan X (ekspor) di negara Paman Sam tersebut semuanya mengalami penurunan.

Sementara itu, ekonomi China dipastikan melambat juga. Kondisi tersebut akibat melambatnya ekonomi global dan dampak ekskalasi perang dagang negara tersebut dengan Amerika.

Pada triwulan kedua 2019, pertumbuhan ekonomi China diproyeksikan sebesar 6,2 persen atau lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya sebesar 6,3 persen (yoy). 

Melambatnya ekonomi China ini juga terkait neraca perdagangan yaitu akibat melambatnya ekspor. Ekspor negara tirai bambu tersebut pada triwulan kedua 2019 terkontraksi menjadi -1,0 persen (yoy), atau menurun dibandingkan dengan pencapaian triwulan sebelumnya sebesar 1,4 persen (yoy). Hal tersebut terutama karena terjadinya penurunan ekspor China ke Amerika (-7,8 persen) dan Eropa (-3,1 persen). Pengenaan tarif tambahan terhadap produk China sebesar 10 persen dapat semakin menekan ekspor China. 

Begitu juga yang terjadi dengan ekonomi negara-negara Eropa. Eskalasi ketegangan hubungan dagang dan risiko geopolitik jadi alasan melambatnya perekonomian. 

Pada triwulan kedua 2019 pertumbuhan ekonomi Eropa tercatat sebesar 1,1 persen (yoy) lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya sebesar 1,2 persen (yoy). 

Melambatnya ekonomi Eropa disebabkan oleh melambatnya kinerja sektor eksternal dan permintaan domestik. Ekspor yang melambat tersebut tercermin dari export order book manufaktur pada juli 2019 yang terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan export order book bulan sebelumnya.

Sedangkan melambatnya permintaan domestik terlihat dari menurunnya penjualan passenger vehicles serta lambatnya pertumbuhan upah dan gaji. Melambatnya pertumbuhan kawasan Eropa ini terutama bersumber dari negara Jerman dan Italia. 

Sementara ekonomi Jepang walaupun masih tumbuh namun ekspornya mengalami kontraksi dan permintaan domestik yang belum membaik. 

Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Kondisi defisit transaksi berjalan kita sekarang yang sudah mencapai 3 persen dari PDB harusnya menjadi alarm dan warning. 

Ekonomi Indonesia saat ini memang belum terkena ancaman resesi mengingat pertumbuhan ekonominya masih menunjukkan peningkatan dalam dua kuartal dan masih berada di atas atau sekitar 5 persen. 

Namun akibat kenaikan harga-harga, bukan rahasia lagi kalau ekonomi rakyat di lapisan bawah sudah dibikin tertatih-tatih inflasi tersebut. Apalagi ditambah angka pengangguran dan kemiskinan yang masih besar, maka kesulitan tersebut harus secepatnya diatasi. 

Namun bila mencermati profil pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ini yang selalu mengandalkan konsumsi (C) sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, maka logis kalau banyak yang pesimis dengan ekonomi nasional karena daya beli masyarakat semakin merosot. Sementara sektor-sektor lain seperti Investasi (I), Ekspor (X) dan APBN (G) masih dalam kondisi melemah.

Satu hal lagi, dalam kondisi ancaman resesi ini kita memiliki dua kondisi yang tidak menguntungkan yaitu besarnya kondisi utang luar negeri dan defisit transaksi berjalan. Apalagi defisit transaksi berjalan per kuartal II/2019 sudah mencapai USD 8,4 miliar atau 3 persen dari PDB.

Dalam sejarah krisis 1997/1998 yang dimulai dari krisis rupiah dan merangkak jadi krisis perbankan, semuanya bermula dari kondisi defisit transaksi berjalan yang melebar.

Apalagi sepanjang 50 tahun ini kita abai terhadap produktivitas dan daya saing sehingga ekonomi RI mengalami defisit terus dalam transaksi ekspor-impor barang dan jasa dengan negara lain baik berupa defisit neraca perdagangan, defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca pembayaran.

Kondisi defisit transaksi berjalan kita sekarang yang sudah mencapai 3 persen dari PDB harusnya menjadi alarm dan warning. Begitu juga tingkat hutang luar negeri. Meski kita belum kena resesi, bisa saja kita di ambang krisis ekonomi. Dampaknya tidak cuma pelambatan ekonomi tapi juga kesulitan hidup banyak orang. 

Apalagi sejak orde baru sampai sekarang ekonomi indonesia adalah ekonomi yang tidak menerapkan prinsip care, share, dan fair. Sehingga banyak sekali orang miskin, pengangguran, dan ketimpangan tajam antara orang kaya dengan kaum miskin. Kondisi ini yang membuat ekonomi kita bisa lebih memprihatinkan.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #ekonomi-indonesia  

Bagikan Berita ini :