Oleh Ainul Mizan pada hari Rabu, 11 Mar 2020 - 15:33:22 WIB
Bagikan Berita ini :

Anomali Penangkalan Terorisme Ala BNPT*

tscom_news_photo_1583915602.jpg
Ainul Mizan (Sumber foto : Dok Pribadi)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Pada tanggal 10 Maret 2020, di Hotel Aryaduta Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meluncurkan buku panduan tentang pencegahan radikalisme. Buku tersebut sebagai panduan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta (www.liputan6.com, 10 Maret 2020).


Suhardi Alius, Ketua BNPT menegaskan bahwa dengan buku panduan ini agar bisa diantisipasi potensi radikalisme yang melahirkan aksi terorisme pada aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta. Dengan begitu, bisa direduksi dan dihilangkan. Kita bisa fokus membangun untuk kemajuan bangsa.

Lagi - lagi yang dijadikan alibi untuk membenarkan tudingan radikalisme adalah ISIS. Ansyad Mbai menegaskan bahwa virus radikal (Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) itu lebih berbahaya dibandingkan virus Corona atau Covid-19. Alasan utamanya karena virus radikal ISIS itu bisa merusak keutuhan bangsa dan negara, tuturnya (www.liputan6.com, 07 Maret 2020).

Tatkala ISIS mengklaim telah menegakkan Negara Islam dengan track record berdarah - darahnya, ditariklah kesimpulan bahwa upaya menegakkan negara Islam itu adalah paham radikal. Sangat berpotensi melahirkan terorisme. Hal ini bisa kita pahami dari pernyataan Divhumas Polri, Brigjend Budi Setiawan bahwa bila ditemukan penyebaran paham pro Khilafah di medsos untuk segera dilaporkan (www.editor.id, 9 Maret 2020).

Sesungguhnya ISIS merupakan aksi false flag. Menurut pengakuan Snowden, berdasarkan teori konspirasi yakni Teori "Sarang Lebah", ISIS sengaja diciptakan untuk melakukan peperangan abadi dengan Islam, khususnya perjuangan penegakkan Khilafah. Ada 3 intelegent negara sebagai aktor ISIS yakni, Inggris (M16), USA (FBI-CIA) dan Israel (Mossad).

Di samping itu, yang patut dipahami adalah Khilafah itu ajaran Islam. Referensi otoritatif untuk menegakkannya adalah merujuk siroh Nabi saw. Nabi saw dan sahabatnya dalam menegakkan negara Islam menggunakan metode tholabun nushroh (mencari perlindungan dakwah) dari ahlul quwwah yang mendukung sistem Islam. Jadi sifat metode Nabi adalah pemikiran dan perjuangan politik. Bukan dengan kekerasan.

Oleh karena itu, menjadikan ISIS sebagai tameng guna memusuhi perjuangan Syariat Islam dan Khilafah adalah bentuk penentangan kepada Alloh Swt dan Rasululloh Saw.

*Pemerhati Politik

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #isis  #bnpt  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Opini

Perangai Pongah Warga Menteng

Oleh Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru
pada hari Rabu, 08 Jul 2020
Menteng dikenal sebagai lokasi paling elit di Jakarta. Harga tanah/rumah di Menteng dikenal tertinggi, begitu juga PBBnya. Sejarahnya, penghuni kawasan Menteng diawali oleh elit Belanda, elit Jepang, ...
Opini

Ideologi Gatot Nurmantyo, Anti Komunis Tak Bisa Ditawar

Berbagai orang saling memposting potongan wawancara Rosi Kompas TV dengan Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI, terkait kebangkitan Komunisme di Indonesia. Video itu ternyata viral bersamaan dengan ...