Ragam
Oleh Alfin Pulungan pada hari Wednesday, 20 Mei 2020 - 07:55:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Menyoroti Psikologi Masyarakat di Balik Tagar #IndonesiaTerserah 

tscom_news_photo_1589927506.jpg
Ilustrasi psikologi manusia (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Tagar #IndonesiaTerserah menjadi salah satu wacana yang trending di lini masa Twitter belakangan ini. Khalayak ramai memperbincangkannya tersebab beberapa pro kontra kebijakan pemerintah terhadap penanggulangan wabah, seperti pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Tak sedikit yang menganggapnya hanya sindiran semata terhadap eksekutor kebijakan negara dalam menangani pagebluk korona. Tetapi, hal ini diungkapkan berbeda oleh anggota komisi kesehatan (komisi IX) DPR, Netty Prasetiyani.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini justru memandang ada gejala psikologis masyarakat yang terbendung selama ini hingga menyeruak ke publik. Netty menyebut fenomena itu menunjukkan adanya kekecewaan publik terhadap penanganan wabah korona di Indonesia.

"Dulu waktu PSBB, aturannya, layanan bandara Soekarno Hatta ditutup, bus keluar-masuk Jakarta tidak boleh, dan orang bekerja di luar dibatasi. Tapi sekarang justru oleh pemerintah dibolehkan meski ada persyaratan. Jadi masyarakat bingung, yang benar yang mana, karena plin-plannya pemerintah soal aturan PSBB" kata Netty dalam sebuah diskusi di Cirebon yang dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa (20/5).

Sebelumnya, dampak pelonggaran PSBB ini menjadi hangat diperbincangkan karena kebijakan itu berimbas pada perilaku masyarakat di kawasan ibukota. Banyak masyarakat yang berkerumun di berbagai tempat seperti di mall, MCD Sarinah, terminal, bandara Soekarno Hatta dan tempat publik lainnya.

Hal ini dinilai karena kebijakan pemerintah yang membolehkan masyarakat melakukan perjalanan keluar kota dengan beberapa syarat. Namun menurut Netty, syarat-syarat itu mudah dimanipulasi.

"Syarat-syarat seperti surat untuk melakukan pekerjaan dan menjenguk keluarga yang sakit keras itu mudah dimanipulasi, ini terbukti dengan mengularnya antrean penumpang di bandara Soekarno Hatta. Lihat aja, orang-orang bisa bersamaan waktu begitu kalau memang untuk keperluan kerja?" ujarnya.


TEROPONG JUGA:

> Ini Peringatan Ekonom Indef soal Pelonggaran PSBB Bagi Usia 45 ke Bawah

> Era Normal Baru Mengarah kepada Herd Immunity?


Ibarat anak yang mengikuti induknya. Tingkah pemerintah pusat yang mulai berdamai dengan korona dengan cara melonggarkan pembatasan sosial itu pun pelan-pelan mulai di ikuti pemerintah daerah. Sebut saja Kota Bekasi, yang kini mulai merancang wilayah zona hijau dimana mesjid dibolehkan menyelenggarakan salat Ied. Kebijakan ini tentu tidak mampu melarang masyarakat dari zona merah untuk berbondong-bondong mendatangi mesjid di zona hijau.

"Masyarakat memang sudah rindu dengan mesjid. Nah, dengan banyaknya warga yang berkerumun, dan pergi ke keluar kota, kita sekarang justru mundur sepuluh langkah ke belakang, alih-alih maju kedepan untuk menangani Covid-19," keluh Netty.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini mengingat kasus Covid-19 di Indonesia masih tinggi.

"Saya berharap pemerintah punya solusi, karena sudah berapa ribu orang yang lolos mudik akibat aturan yang plin-plan itu. Jika ini tidak segera diatasi maka tidak menutup kemungkinan ada gelombang-gelombang serangan Covid-19 lainnya yang akan kita hadapi" kata legislator dari dapil Jawa Barat VIII ini.

Membuncahnya tagar "Indonesia Terserah" ini menjadi sebuah kekhawatiran. Persepsi publik soal penanganan wabah korona di Indonesia akan mereduksi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya.

Di ujung cerita yang akan menjadi sejarah ini, masyarakat dimungkinkan tak lagi menaruh simpati terhadap pengorbanan pemerintah yang kerap mengaduk-aduk pikiran dan perasaan warganya hingga berdampak pada psikologi mereka. Apalagi kalau persepsi yang sama turut mempengaruhi kalangan medis, apa yang akan terjadi?

"Saya makin prihatin jika tagar Indonesia Terserah ini juga menjadi sikap para tenaga kesehatan. Jika mereka tidak lagi mau menangani pasien akibat kecewa karena anjuran diam di rumah tidak mendapat dukungan kebijakan yang kuat, apa yang akan terjadi? Mereka sudah berjibaku berada di garis depan dengan mengorbankan diri mereka, tapi pemerintah plin plan, akhirnya masyarakat pun bersikap tidak peduli. Tentu wajar kalau mereka juga menyerah," tutup Netty.

tag: #psbb  #psikologi  #covid-19  #komisi-ix  #netty-prasetiyani  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Ragam Lainnya
Ragam

Di Sela Tetesan Air Mata, Sri Mulyani Minta Karyawan Jangan Menyerah

Oleh Rihad
pada hari Monday, 25 Mei 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sampai menangis saat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Tetesan air mata ini terjadi ketika Sri Mulyani mengadakan silaturahmi ...
Ragam

Hassan Shadily: Putra Madura yang Menyusun Kamus Sampai ke Amerika

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Hari Kebangkitan Nasional tahun ini bertepatan dengan peringatan Seabad Hassan Shadily. Hassan Shadily merupakan sosok yang mempunyai andil penting dalam peletakkan dasar ...