Oleh Pengamat Ilmu pemerintahan Gde Siriana pada hari Minggu, 24 Mei 2020 - 14:05:15 WIB
Bagikan Berita ini :

Tradisi Halal Bihalal dan Makna Kata Maaf Presiden

tscom_news_photo_1590303915.jpg
Pengamat Ilmu pemerintahan Gde Siriana (Sumber foto : Dokumen)

Mengapa di Indonesia ada tradisi #halalbihalal yang tidak ada di negeri lain? Tradisi Halal bihalal telah berdampak sosial & politik dalam masyarakat. Secara sosial kehidupan bernegara lebih cair & terbuka di mana umat non muslim mendapatkan ruang & momen untuk ikut memberikan ucapan idul fitri.

Secara politik #halalbihalal jadi ruang untuk mencairkan ketegangan politik nasional. Awalnya ide Kiai WahabHasbullah & Bung Karno pada 1948 untuk membuka dialog informal atas panasnya politik & ancaman disintegrasi bangsa dengan konsep silaturahmi nasional. Lalu diubah namanya dengan #halalbihalal.

#halalbihalal bukan brakar dari struktur gramatika bahasa Arab karena bukan tradisi Arab merayakan pasca puasa Ramadhan. Makna yang ingin dirujuk adalah masing-masing memberikan kehalalan atas kesalah-kesalahan yang pernah dibuat. Ini mengambil esensi silaturahmi sebagai akulturasi sejak Kerajaan Islam di Jawa.

Budaya lokal Nusantara yang selalu menghormati orang yang lebih tua dipadu dalam kegembiraan idul fitri menjadi budaya baru silaturahmi yang dikenal sekarang dengan #halalbihalal. Tradisi ini sudah dilakukn Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said (Mangkunegara I Surakarta), raja yang sangat typical Javanese muslim.

Tradisi #halalbihalal di Mangkunegaran kala itu para punggawa & prajurit di istana saling meminta maaf satu dengan yang lainnya selepas Shalat Ied. Sedangkan kepada raja & permaisuri mereka melakukan "sungkem". Tradisi inilah yang kemudian mengalami konsep #halalbihalal pasca Kemerdekaan RI.

Kini di era reformasi smestinya presiden tidak menyampaikn permohonn maaf kepada rakyat tanpa makna, atau sebatas basa-basi Lebaran saja. Kata maaf itu harus dimaknai dalam konteks kebijakan yang dianggap salah, yang telah merugikan & melukai hati rakyat. Kcuali presiden @jokowi merasa selalu benar?

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #jokowi  #halal  #lebaran  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Opini

Rencana Pajak Sepeda Bertentangan dengan Peradaban Baru Masa Covid-19

Oleh Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle
pada hari Selasa, 30 Jun 2020
Siang malam orang orang bersepeda membludak ramai di Jakarta pada masa wabah pandemik ini. Mungkin juga di daerah lainnya. Hal ini membahagiakan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, karena cita-cita ...
Opini

Siapa Coba Mempertentangkan Islam vs Nasionalis Bung Karno?

Mengkritisi Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) setajam apa pun, pada hakekatnya tidak ada masalah. Menjadi masalah ketika polemik seputar RUU HIP dijadikan sebagai pintu ...