Oleh Alfin Pulungan pada hari Kamis, 23 Jul 2020 - 11:59:15 WIB
Bagikan Berita ini :

Wah-wah, Pendapatan BUMN Farmasi Merosot, Ada Apa?

tscom_news_photo_1595478968.jpeg
PT Phapros (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Anggota Komisi VI DPR, Amin Ak mempertanyakan penurunan kinerja PT Phapros usai bergabung ke dalam group Kimia Farma yang menjadi holding BUMN Farmasi. Alih-alih melipatgandakan pendapatan, laba PT Phapros tahun 2019 turun menjadi Rp102,31 miliar dibanding tahun 2018 yang mencapai Rp133,29 miliar atau turun sebesar 23,2%.

Hal itu terungkap ketika Amin mengunjungi PT Phapros di Semarang, Rabu, 22 Juli 2020.

Ia menyoroti PT Kimia Farma (Persero), perusahaan induk Phapros, yang kinerjanya menurun signifikan. Mengutip laporan keuangan Kimia Farma yang disampaikan Direksi Kimia Farma saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (21/4) lalu, posisi laba bersih perseroan (setelah pajak) pada 2018 sebesar Rp491,56 miliar berbalik menjadi rugi bersih Rp12,72 miliar pada 2019.

Menurut Amin, market share produsen obat pelat merah itu terbilang kecil bila dibandingkan perusahaan swasta. Saat ini total pangsa pasar industri farmasi nasional mencapai sekitar Rp 88,36 triliun per tahun dan diperebutkan oleh 250-an perusahaan baik swasta maupun BUMN.

Amin Ak


Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini mendorong BUMN Farmasi untuk mencapai target penguasaan market share sebesar 10 persen yang dicanangkan saat pembentukan holding BUMN Farmasi tahun lalu. Menurut Amin, dengan pertumbuhan pasar yang mencapai 10 persen per tahun, terbuka lebar bagi BUMN Farmasi untuk melipatgandakan market sharenya secara nasional.

“Manajemen Phapros harus memperbaiki kinerjanya. Jangan kalah gesit dari perusahaan swasta. Janji untuk menurunkan impor bahan baku obat juga harus segera direalisasikan,” kata Amin dalam siaran pers, Kamis, 23 Juli 2020.

Lebih jauh legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur IV ini mengungkapkan, BUMN Farmasi wajib memperkuat riset dan pengembangan, baik dari sisi sumber daya manusia maupun anggarannya agar mampu mendongkrak tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) industri obat-obatan dan alat kesehatan. Dengan riset yang kuat, pemanfaatan sumber bahan baku obat di dalam negeri bisa ditingkatkan sehingga kemandirian industri farmasi bisa diwujudkan.

“Setiap tahun devisa kita terkuras lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp28 triliun untuk impor bahan baku obat. Padahal keanekaragaman hayati Indonesia sangat besar dan berlimpah, terbesar kedua di dunia setelah Brasil,” pungkasnya.

tag: #bumn  #pt-phapros  #amin-ak  #komisi-vi-dpr  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Bisnis

Mayora Optimistis Kinerja Akan Membaik Di Kuartal III Tahun 2020

Oleh Givary Apriman
pada hari Selasa, 22 Sep 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - PT Mayora Indah Tbk (MYOR) optimistis penjualan akan terus bertumbuh memasuki Kuartal III tahun ini. Direktur Utama PT Mayora Indah Tbk. Andre Sukendra Atmadja ...
Bisnis

Smartfren Hadirkan Keseruan Berinternet Maksimal Lewat Kuota Nonstop Bagi Generasi Konten

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Operator terdepan dalam penyedia jasa layanan telekomunikasi 4G di Indonesia, Smartfren kembali menggebrak pasar dengan menghadirkan paket layanan internet terbarunya ...