Oleh Rihad pada hari Jumat, 17 Sep 2021 - 17:32:06 WIB
Bagikan Berita ini :

Bahlil Cerita tentang Kesuksesan Bangun Pabrik Baterei Terbesar di Asia Tenggara

tscom_news_photo_1631874726.jpg
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menceritakan lika-liku proses negosiasi pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik. Cerita ini berkaitan dengan kegiatan Presiden Joko Widodo saat peletakan batu pertama pabrik industri baterai kendaraan listrik yang dibangun PT HKML Battery Indonesia pada Rabu (15/9).

Menurut Bahlil, proses negosiasi pembangunan pabrik baterai ini terjadi sejak akhir 2020. Pada saat itu pemerintah Indonesia melakukan penandatanganan MoU di Korea Selatan.

Negosiasi berjalan alot bersama Menteri Koordinator Ekonomi Korea Selatan. Menariknya, proses negosiasi kerja sama kedua negara tanpa melibatkan konsultan asing.

“Deal bisnis Rp 142 triliun itu tanpa melibatkan konsultan asing, tapi dilakukan seutuhnya oleh anak-anak putra-putri bangsa berkolaborasi kementerian teknis dan investasi. Kami yang pimpin,” ujarnya saat konferensi pers virtual, Jumat (17/9).

Konsorsium akan membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik di Indonesia berkapasitas 10 Gigawaat Hour (GWH) dengan total nilai investasi USD 1,1 miliar. Angka itu setara dengan Rp 15,9 triliun (kurs Rp 14.500)

Pembangunan pabrik ini hanya bagian dari total proyek konsorsium senilai USD 9,8 miliar. “Ini pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, ekosistem salah satu pertama di dunia, tambang, smelter, itu pertama kali,” ucap Bahlil.

Proyek ini merupakan investasi dari konsorsium LG dan Hyundai yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution.

Konsorsium tersebut bakal bermitra dengan Indonesia Battery Corporation yang beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara, dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd.

Bahlil Lahadalia mengungkap ada negara tetangga yang tidak senang Indonesia menjadi produsen baterai kendaraan listrik.

"Mereka ingin bahan bakunya ambil di kita, kemudian mereka mau bangun (pabrik baterai) di negara mereka, supaya made in (buatan) negara A, made in Negara B," kata Bahlil.

"Kami membaca gelagat itu. Kami kerja sama, kami kerja keras dengan investor, kemudian kami hajar bukan hulunya dulu, hilirnya," sambung Bahlil.

tag: #investasi-asing  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement