
I. Prolog: Kebisingan dalam Kesunyian
Di negeri yang sibuk membanggakan pertumbuhan dan deret angka keberhasilan, ada satu hal yang justru kian menghilang: suara nurani.
Kita hidup dalam kebisingan—rapat, seminar, pidato, dan laporan kinerja—namun justru kehilangan makna dari kata “kebenaran”.
Lorong-lorong kampus, yang dahulu menjadi rahim perlawanan intelektual, kini terasa lengang dari keberanian. Gedung-gedung tinggi menjulang, tetapi gagasan-gagasan besar justru merunduk.
Yang lahir bukan lagi cendekiawan dengan keberpihakan, melainkan teknokrat yang rapi, presisi, namun hampa arah. Gelar akademik berderet panjang, tetapi keberanian moral kian pendek.
Inilah paradoks zaman: ketika ilmu berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan justru tertinggal.
---
II. Kritik: Intelektual dalam Belenggu Pragmatisme
Pendidikan, secara perlahan namun pasti, telah direduksi menjadi sekadar mesin produksi tenaga kerja.
Ia tidak lagi menjadi ruang pembebasan, melainkan jalur cepat menuju stabilitas ekonomi.
Kaum terpelajar—yang seharusnya menjadi menara api bagi masyarakat yang tersesat dalam gelap—justru memilih menjadi lampu hias di panggung kekuasaan: indah dilihat, tetapi tak memberi arah.
Ilmu pengetahuan kehilangan rohnya. Ia tak lagi menjadi alat untuk membongkar ketidakadilan, melainkan sekadar instrumen untuk menaiki tangga sosial.
Kita menyaksikan kecerdasan yang disewakan, nalar yang dinegosiasikan, dan integritas yang dilepas perlahan—bukan karena tidak tahu, tetapi karena terlalu banyak yang ingin dipertahankan.
Inilah yang layak disebut sebagai tragedi intelektual modern:
lahirnya generasi yang cakap secara teknis, namun lumpuh secara etis.
Mereka tahu bagaimana cara bekerja, tetapi lupa untuk apa pekerjaan itu dilakukan.
---
III. Refleksi Sejarah: Romantisme yang Terlupakan
Sejarah pernah mencatat masa ketika kaum terpelajar berdiri di garis depan perjuangan.
Mereka tidak hanya berpikir—mereka bertaruh.
Tidak hanya menulis—mereka mempertaruhkan nasib.
Tinta mereka lebih tajam dari peluru, karena ia menembus kesadaran.
Mereka mewakafkan pikiran, tenaga, bahkan hidupnya, untuk sebuah gagasan besar bernama kemerdekaan.
Namun hari ini, semangat itu terasa seperti peninggalan museum—dikagumi, tetapi tidak diteladani.
Keberanian untuk berkata “tidak” pada kekuasaan yang keliru, kini terasa mahal.
Keberanian untuk berdiri sendiri di jalan yang benar, kini terasa asing.
Padahal sejarah tidak pernah membutuhkan intelektual yang nyaman—
ia membutuhkan mereka yang gelisah.
---
IV. Epilog: Seruan untuk Bangkit
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Yang langka adalah keberanian untuk menggunakan kepintaran itu demi kebenaran.
Kebangkitan tidak akan lahir dari mereka yang sibuk menghitung peluang,
melainkan dari mereka yang tak tahan melihat ketidakadilan.
Wahai kaum terpelajar, sudah terlalu lama engkau tinggal di menara gading.
Turunlah. Dengarkan kembali denyut nadi rakyat yang sesungguhnya.
Basuh wajahmu dengan kegelisahan sosial,
karena dari sanalah lahir kejujuran intelektual.
Sebab kemuliaan seorang intelektual bukan terletak pada seberapa tinggi ia melayang dalam abstraksi,
melainkan seberapa dalam ia mampu menyelami realitas.
Kita tidak sedang menunggu fajar.
Kitalah yang seharusnya menjadi fajar itu.
Namun fajar tidak pernah lahir dari mereka yang memilih terus tidur.
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #