
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat baru saja dilantik oleh Presiden. Pelantikan ini tak bisa dibantah membawa angin segar untuk mengatasi secara efektif berbagai masalah lingkungan di Indonesia. Betapa tidak sederet isu lingkungan menanti di depan mata untuk dibenahi. Urusan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bukan hanya soal sampah atau pencemaran. Berderet isu yang menjadi tanggung jawab Kementerian ini. Dari perubahan/krisis iklim, perdagangan karbon, mitigasi gambut, pencegahan dan penanganan kebakaran lahan di luar area kehutanan, lubang-lubang tambang yang menganga hingga pencemaran air, lingkungan, dan sampah.
Pekerjaan Kementerian ini boleh dikata adalah pekerjaan berat dengan tanggung jawab besar. Ia berurusan dengan banjir dan tanah longsor jika lingkungan rusak. Ia berhadapan dengan pemanasan global yang mengakibatkan krisis iklim, badai besar, kekeringan, dan segala dampak lanjutannya. Ia berjibaku dengan banjir akibat sampah yang tak tertata atau terkelola dengan baik. Seringkali pula lingkungan hidup beririsan dengan masyarakat adat. Dst dst. Dan ujung-ujungnya semua ini menyangkut keselamatan, kesehatan dan hajat hidup orang banyak.
Karena itulah, untuk menangani semua ini diperlukan seseorang yang tangguh dan cakap, dan yang utama berhati. Tangguh berarti punya kesanggupan untuk bekerja keras. Cakap terkait dengan kecermatan dan kecerdasan. Sedangkan berhati punya kepemihakan pada kemanusiaan dan keadilan karena semua urusan lingkungan hidup adalah urusan umat dan orang banyak.
Inilah yang tampak ada pada Jumhur. Ia menoreh sejarah hidupnya sebagai aktivis sejati sejak mahasiswa di ITB. Sejak muda ia sudah berani mengatakan "tidak" pada ketidakadilan. Jejak langkahnya untuk membela kaum tertindas membawanya memegang amanah sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI selama tujuh tahun. Ia kemudian menjadi Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) periode 2022-2027. Sejarah panjang aktivisme berhati ini bisa menjadi modal untuk melancarkan kerja-kerja besar dan beratnya di KLH. Latar belakang lingkungan teknokratik bisa jadi penting. Tapi tentu ada yang lebih penting, yakni hati dan otak. Jumhur punya keduanya. Jumhur adalah orang cerdas yang cepat belajar. Ia pendengar yang baik dan bisa melihat suatu isu dengan tenang dan kepala dingin. Ia juga terkenal rendah hati dan mudah berkomunikasi serta merangkul. Tidak ada gaya bossy dalam dirinya. Ia juga jelas punya hati untuk kemanusiaan dan keadilan, dua hal yang tak boleh dilupakan dalam penanganan isu-isu lingkungan hidup. Idealisme masih tetap ada dalam dirinya.
Selamat bekerja, Abang. Jangan lupa rangkul para aktivis lingkungan, masyarakat adat, tambang, pesisir, perubahan iklim, dsb. Kerja-kerja lingkungan hidup adalah kerja besar bersama.
28 April 2026
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #