Bisnis
Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Jumat, 25 Mar 2016 - 16:27:11 WIB
Bagikan Berita ini :

Miliki Cadangan Gas Rp 6.000 T, Cina Berhasrat Caplok Natuna

58natuna.jpg
Kepulauan Natuna (Sumber foto : IST)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Masuknya kapal nelayan Cina ke perairan Natuna bukan sekadar masalag ilegal fishing. Tindakan itu merupakan bagian dari upaya sistematis negeri Tirai Bambu itu untuk mencaplok Natuna.

Ketua DPP Partai Gerindra, Heri Gunawan menyampaikan pandangan tersebut menanggapi polemik masuknya kapal Cina ke perairan Natuna secara ilegal. Menurut Heri, persoalan Natuna akan menjadi bom waktu. Sebab, konflik Natuna adalah soal persoalan perebutan sumber daya alam.

"Selain minyak bumi, wilayah itu menyimpan cadangan gas alam terbesar di dunia. Banyak ahli mengklaim Natuna adalah 'surga' energi terbesar di dunia yang bernilai ekonomi tinggi," ujar Heri saat dihubungi TeropongSenayan di Jakarta, Jumat (25/3/2016).

Heri menyontohkan Blok Natuna D-Alpha, yang menyimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCT). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang. Sementara itu, potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 tcf (triliun cubic feet) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak.

"Jika digabung dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok tersebut," ungkap dia.

Bahkan, tambah dia, jika diuangka kekayaan gas Natuna mencapai Rp 6.000 triliun.

"Nilai itu sama dengan 3 kali lipat APBN saat ini," terang dia.

Saat ini, beberapa perusahaan asing seperti Petronas (Malaysia), ExxonMobil (AS), Chevron (AS), Shell (Inggris-Belanda), StatOil (Norwegia), ENI (Italia), Total Indonesie (Perancis), dan China National Petroleum Corporation (China) pernah menggarap cadangan kekayaan Natuna dan menikmati untung besar.

Oleh karenanya, menurut Heri, cara-cara Cina yang melecehkan Kedaulatan Republik Indonesia bisa jadi merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mencaplok Natuna.

"Rasanya Cina akan terus ngotot mencaplok Natuna karena mereka tahu akan untung besar dari pendapatan gas. Sedang kita, buntung. Pendapatan sektor Migas pasti terpuruk," tandas dia.

Lebih lanjut Heri mengingatkan bahwa pemerintah jangan sekali-kali berbicara ini adalah urusan negara lain, jangan juga berbicara tidak ikut-ikutan.

Sebab, Natuna beserta kekayaan alam yang terkandungnya merupakan milik dan berada di wilayah kedaulatan NKRI.

"Kedaulatan Natuna milik Indonesia, kedaulatan laut teritorial Indonesia. Jangan biarkan bangsa asing menginjak-injak wilayah Kedaulatan NKRI walau hanya sejengkal," tegas dia. (plt)

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis
Hidup UMKM

Pasar Digital Lampaui Ruang dan Waktu, Kesempatan Emas Smesco Angkat UMKM

Oleh Alfin Pulungan
pada hari Tuesday, 26 Mei 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) telah sekian lama menjadi penopang ekonomi Indonesia, khususnya di tingkat regional. Namun, usaha rakyat ini agaknya belum terekspos ...
Bisnis

India Kembali Impor Kelapa Sawit Dari Malaysia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Setelah sempat terjadi ketegangan dalam perdagangannya dengan Malaysia selama 4 bulan, India kembali membeli kelapa sawit dari Malaysia. India bersedia membeli ...