Peta Karakter Pendukung Jokowi Menghadapi Pilpres
Oleh Arif Nurul Imam (Analis Politik POINT Indonesia) pada hari Rabu, 21 Mar 2018 - 14:14:34 WIB

Bagikan Berita ini :

98IMG_20180321_135717.jpg
Sumber foto : Istimewa
Arif Nurul Imam (Analis Politik POINT Indonesia)

Perhelatan Pilpres 2019 tinggal dalam hitungan belasan bulan. Para tokoh politik yang hendak maju tentu telah pasang kuda-kuda untuk menyiapkan strategi dan langkah pemenangan. Tak terkecuali perihal konsolidasi meraup dukungan elektoral.

Petahana Presiden Joko Widodo hampir dipastikan bakal maju lagi, setelah mendapatkan tiket dukungan parpol parlemen. Seperti Nasdem, Hanura, Golkar dan PDIP menyatakan akan kembali mengusung dalam perhelatan politik 2019. Artinya, di lihat dari persyaratan administrasi dukungan parpol, karena itu Jokowi lebih dari cukup untuk maju dalam laga Pilpres.

Sebagaimana publik saksikan, simpul-simpul pendukung Jokowi telah terlihat oleh publik. Hanya saja karakter simpul pendukung tersebut memiliki motif dan kepentingan yang berbeda, sehingga dukungan tersebut harus dilihat lebih jauh lagi.

Karakter Pendukung

Meski satu suara mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019, namun patut diketahui para pendukung Jokowi masih belum dikatakan solid. Hal ini karena dari karakter simpul pendukung tak semuanya merupakan pendukung loyal. Setidaknya ada tiga jenis karakter pendukung yang muncul di permukaan.

Pertama, pendukung berkonsesi. Pendukung Jokowi berkonsesi tentu datang bukan dari lapisan bawah, melainkan datang dari partai politik dan elite relawan. Di katakan berkonsesi karena, dukungan yang diberikan bukan bersifat kesukarelaaan atau gratisan, melainkan lebih disebabkan memperoleh konsesi ekonomi-politik. Hal ini bisa jadi wajar, sebab dalam kenyataan politik praktis kita tak asing lagi dengan pameo “tak ada makan siang gratis”.

Sebagaimana kita ketahui, parpol pendukung tentu konsesi berupa kekuasaan setingkat menteri atau jabatan strategis lainnya. Sementara elite relawan kebagian jatah komisaris BUMN atau staf ahli/staf khusus di berbagai lembaga negara. Meski di relawan masih ada yang berdasarkan idealisme mengenai sosok kepemimpinan, tapi kita tak bisa menutup mata bahwa tak sedikit yang justru berebut jabatan laiknya seorang politisi.

Karakter pendukung demikian, dipastikan loyalitasnya bersifat tentatif bergantung kepentingan. Jika tak memperoleh konsesi ekonomi-politik hampir dipastikan bakal hengkang di Pilpres tahun depan.

Kedua, pendukung loyal. Pendukung ini merupakan pendukung fanatik yang meski, misalnya Presiden kurang tepat dalam mengambil kebijakan, mereka akan tetap memberikan pembenaran-pembenaran dan setia memberikan dukungan. Pendukung ini mayoritas datang dari lapisan masyarakat awam, yang memandang Jokowi merupakan sosok pemimpin ideal tanpa cela dan kekurangan. 

Karakter pendukung ini, cenderung mengkultuskan, loyal, militan, dan berjuang mendukung nir pamrih. Mereka akan bergerak dalam kerja-kerja pemenangan tanpa mendapatkan reward politik serta tanpa menunggu logistik dikucurkan. Ini merupakan pemilih loyal yang akan menjadi modal utama Jokowi di laga Pilpres 2019. 

Ketiga, pendukung rasional. Pendukung rasional pada umumnya merupakan kaum terdidik, dan tak mudah terpesona dengan apa yang muncul di permukaan atau pencitraan. Mereka mendukung Jokowi tapi dengan kesadaran kritis sehingga mereka akan mengoreksi langkah Presiden jika misalnya salah. Sebaliknya jika pemerintah lurus, mereka akan mendukung dan memberikan apresiasi, bahkan dukungan di Pilpres mendatang. Karakter pendukung ini tidak loyal membabi-buta, melainkan objektif dalam merespon sejumlah isu publik.

Boleh jadi hingga kini masih melihat capaian-capaian kinerja pemerintah, apakah akan mendukung lagi di 2019 atau mencari alternatif lain. Artinya, mereka masih cair dan bisa beralih jika muncul kekecewaan serta muncul tokoh alternatif lain karena menganggap kinerja jeblok.

Pendukung rasional memainkan tanggung jawab intelektualnya untuk menjaga kekuasaan agar tak melenceng dengan cara memberikan koreksi pada penguasa. Pendukung semacam ini jelas lebih bermakna dalam meningkatkan kualitas demokrasi. Pemilih atau pendukung kritis tentu akan menjadi warning bagi penguasa agar hati-hati dalam mengambil kebijakan. 

Ketiga jenis pendukung Jokowi ini sudah tentu menjadi modal politik dalam menghadapi Pilpres 2019. Hanya yang perlu diingat bahwa cuma pendukung loyal saja yang bisa jadi harapan dan tumpuan utama. Pendukung berkonsesi perlu memberikan formula konsesi politik sementara pendukung rasional tentu harus mewujudkan janji kampanye agar tetap loyal menjadi pendukung.

Pemahaman karakter pendukung menjadi penting mengingat pemenangan Pilpres 2019 tentu tak akan serupa karena kini merupakan petahana yang tak bisa jualan janji, melainkan mesti menunjukkan kinerja. Menunjukkan kinerja dan mewujudkan janji kampanye merupakan cara efektif bahwa layak untuk dipilih lagi melanjutkan kepemimpina dua periode. Wallohualambishowab.(*) 

 

 

 

 

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING
Pembaca Teropong Senayan, Yth Perhelatan Pilkada Serentak 2018 sudah usai. Hasil hitung cepat (quick count) lembaga survei telah terpublikasi secara masif. Dari publikasi ini, para pemilih pun mengerti menang atau kalahkah kandidat yang mereka pilih. Pada saat bersamaan, para kandidat capres/cawapres dan partai pendukung ditengarai juga mulai mengatur strategi menyikapi hasil pilkada. Tentu, strategi ini hendak menempatkan hasil pilkada sebagai acuan meraih kemenangan pada Pilpres 2019. Menurut Anda, siapa capres yang diuntungkan oleh hasil Pilkada 2018 :
  • Joko Widodo
  • Prabowo Subianto
  • Calon Alternatif Poros Ketiga
LIHAT HASIL POLING