Opini

Janggalnya Pernyataan Ratna Sarumpaet

Oleh Ma'mun Murod Al-Barbasy (Guru Prodi Ilmu Politik FISIP UMJ) pada hari Jumat, 05 Okt 2018 - 14:49:02 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

63ai99xv93fnwcapu3jfbm.jpg.jpg

Ratna Sarumpaet (Sumber foto : Ist)

Banyak orang dibikin terkaget-kaget oleh pernyataan dan pengakuan Ratna Sarumpaet terkait lebam-lebam di mukanya. Ratna menyatakan dan mengakui bahwa lebam-lebam di mukanya bukan karena dianiaya, tapi akibat sedot lemak. 

Pengakuan Ratna Sarumpaet ini kontras sekali dengan pengakuannya ketika ditemui Prabowo Subianto yang menyebut lebam mukanya karena dianiaya. Jangankan orang sekelas saya, sekelas Prabowo, Amien Rais, dan Joko Santoso yang mantan Panglima TNI pun tertipu (dibohongi). Belum lagi tokoh-tokoh lainnya, seperti Hariman Siregar, Rizal Ramli dan banyak lagi kalangan aktivis lainnya pun tertipu oleh kebohongan Ratna Sarumpaet.

Sebelum muncul “pengakuan kebohongan”, saya kira mereka yang memberikan pembelaan atau empati kepada Ratna Sarumpaet semata didasari oleh faktor kemanusiaan terkait berita yang beredar, termasuk penuturan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang menimpa dirinya. Apalagi sebelumnya sudah beredar gambar yang sepintas–terlebih bagi orang awam yang tidak mengetahui seluk beluk operasi plastik–menunjukkan wajah Ratna Sarumpaet yang lebam bak bekas penganiayaan.

Kasus Ratna ini telah meningkatkan derajat rendahnya kejujuran dan semakin menumbuhsuburkan kebohongan di negeri ini. Bila sebelumnya, di tahun 2014 ada seorang calon presiden yang telah mengumbar banyak janji saat berkampanye, namun ketika terpilih entah berapa puluh janji yang justru dikhianati atau setidaknya diingkari dan tidak secara serius untuk dipenuhinya. 

Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu, kita juga disuguhi kebohongan yang dilakukan Setya Novanto yang dengan sengaja menabrakan mobilnya ke tiang listrik, dengan maksud menghindari jerat hukum KPK. 

Saat ini lebih hebat lagi, kita disuguhi oleh kebohongan yang hampir-hampir sempurna, yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal dan utuh saraf kemanusiaannya, yang dilakukan oleh seorang bernama Ratna Sarumpaet. 

Saya tidak tahu, apakah sama sebanding atau lebih rendah atau bahkan lebih tinggi derajat kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet dengan kebohongan yang dilakukan oleh seorang presiden yang mengangkangi janji-janjinya di kala berkampanye?

Hikmah dari kebohongan seorang Ratna Sarumpaet, siapapun harus mengantisipasi bahwa ke depan akan sangat mungkin muncul modus-modus kebohongan yang kasat mata yang akan dilakukan dengan cara yang lebih canggih lagi. Apalagi di tahun-tahun politik seperti saat ini. Tipu-tipu DPT, kecurangan di TPS, kecurangan dalam penghitungan suara, dan bentuk kebohongan-kebohongan lainnya terkait dengan Pilpres 2019 sangat mungkin terjadi di Pilpres 2019. Dan secara text book, potensi untuk melakukan kebohongan dan kecurangan ada pada calon dari petahana, yang secara politik mempunyai kuasa dalam banyak hal. 

Namun terlepas dari kebohongan seorang Ratna Sarumpaet, saya melihat ada banyak kejanggalan atas kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Seorang Ratna Sarumpaet itu usianya sudah memasuki angka 70-an tahun. Apakah masih terasa penting melakukan sedot lemak yang berakibat pada lebam di seluruh wajahnya? Kalau RSK Bina Estetika yang dituju oleh Ratna Sarumpaet itu professional, bereputasi, kenapa berani membiarkan pasiennya meninggalkan RSK Bina Estetika dengan muka lebam-lebam? Apakah tidak akan menurutkan reputasi RSK Bina Estetika? Kalau Ratna Sarumpaet “nyanyi” bahwa mukanya lebam karena gagal sedot lemak apakah tidak akan menurunkan jumlah pasien yang akan berobat ke RSK Bina Estetika? 

Kalau kasus Ratna Sarumpaet ini adalah “kasus normal”, rasanya pasien atau calon pasien yang pasti akan berpikir beribu kali berobat ke RSK Bina Estetika. Terkecuali kasus Ratna Sarumpaet iu “kasus tidak normal”. 

Kejanggalan lainnya, terkait dengan “kinerja hebat” pihak kepolisian. Sebagaimana tulisan dari seorang pegiat medsos yang sudah banyak tersebar di media social, ada yang aneh dari data-data yang cepat sekali diungkap oleh pihak kepolisian. Padahal di ruang publik polisi mengatakan Ratna Sarumpaet seharusnya buat laporan jika dia merasa dianianya. Ini artinya, Ratna Sarumpaet sebagai korban yang bersangkutan belum melapor. Tapi anehnya, dalam waktu yang “begitu singkat” sudah ada data-data yang komprehensif dan diobral ke khalayak. 

Saya sebut “begitu singkat” tentu setelah membandingkan dengan kasus-kasus lainnya yang semestinya mendapatkan perhatan serius, di mana kepolisian terlihat bekerja terlalu lelet, seperti dalam kasus Novel Baswedan, dan kasus persekusi yang menimpa banyak orang di negeri ini. 

Saya tidak tahu, sebagaimana ditulis aktivis media sosial, apakah kinerja kepolisian dalam kasus Ratna Sarumpaet telah melampaui prosedur? Bayangkan saja, dalam sehari kepolisian berhasil mengetahui transaksi Bank Ratna, mengetahui CDR atau rekaman data telepon Ratna, mengetahui CCTV. Semua dilakukan dengan tanpa memeriksa korban yang tidak melapor.

Padahal untuk bisa mengakses data transaksi bank harus ada tersangka untuk kasus yang relevan dengan rekening bank. Padahal untuk mengetaui CDR harus ada sprindik. Sementara kasus Ratna Sarumpaet belum masuk penyidikan. Kepolisian juga begitu mudah untuk tahu CCTV, rekam medis, dan lain-lain.

Kejanggalan selanjutnya terkait “masa lalu” Ratna Sarumpaet, terlebih yang terkait dengan perjuangan politik umat Islam. Siapapun yang mengenal Ratna Sarumpaet, terlebih dalam hal perjuangan politik umat Islam, Ratna Sarumpaet adalah sosok yang justru terlalu sering berhadapan. Kalau tidak salah saat Pilkada Jakarta 2012, Ratna Sarumpaet termasuk pendukung pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Makanya saya sendiri sempat heran sambil mencoba berhusnudzan ketika belakangan Ratna Sarumpaet banyak berhubungan dengan kelompok Islam. 

Secara pribadi, saya sendiri sempat bertemu fisik dan terlibat pembicaraan dengan Ratna Sarumpaet ketika sama-sama terlibat Aksi Damai 411. Ketika pecah kerusuhan di depan Istana, saya, Ratna Sarumpaet, dan banyak peserta aksi lainnya sempat menepi sampai di depan Istana sambil ngomel-ngomel atas sikap Kapolda Metorjaya Muhammad Iriawan yang terkesan membiarkan polisi menyemprotkan gas air mata ke kerumunan peserta aksi yang berada di mobil komando.

Ketika Ratna Sarumpaet melakukan kebohongan yang sangat mendasar, yang sedikit banyaknya tentu berhasil “memojokkan” Prabowo, naluri shuudzan saya muncul, jangan-jangan kebohongan Ratna Sarumpaet ini by design. 

Kalau kita nonton film-film fiksi yang bertemakan konspirasi politik, maka kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet sangat mungkin dilakukan di alam nyata, bukan di alam fiksi sebagaimana di film-film.

Makanya ketika semalam dalam konferensi persnya, Prabowo langsung memerintahkan untuk memberhentikan Ratna Sarumpaet sebagai anggota Tim Pemenangan Prabowo-Sandi, saya kira keputusan yang sangat tepat. Bukan hanya memberhentikan Ratna Sarumpaet, Prabowo dan Sandiaga perlu juga melakukan scraning ulang atas Tim Pemenangan yang ada. Sekian. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #ratna-sarumpaet  

Bagikan Berita ini :