Oleh Ahmadi Thaha (Kolumnis) pada hari Senin, 05 Jan 2026 - 15:13:38 WIB
Bagikan Berita ini :

Akhir Petrodolar

tscom_news_photo_1767600818.jpg
(Sumber foto : )

Jika televisi dinyalakan hari ini, layar akan berperilaku seperti burung beo yang kelelahan: gambar yang sama, diulang tanpa malu. Helikopter. Pasukan khusus masuk Venezuela dengan senyap. Operasi kilat. Ibukota Caracas dibombardir dan membara dinihari. Nicolás Maduro, sang presiden, diculik Donald Trump dengan dramatis, seperti adegan penutup film aksi kelas A.

Para komentator menyebutnya kemenangan demokrasi, pemulihan ketertiban, mahakarya taktis. Mereka membedah dampak politik di Washington, reaksi sekutu, dan potensi transisi kekuasaan. Sebuah sirkus yang gemerlap. Dan seperti semua sirkus, ia sengaja dirancang agar mata kita terpaku pada badut —bukan pada brankas di belakang tenda.

Karena apa yang terjadi di Venezuela hari ini sebenarnya bukan operasi politik. Bukan pula misi kemanusiaan. Bahkan, jika mau jujur sepahit kopi tanpa gula, ini bukan terutama tentang Nicolás Maduro yang diseret dari kursi kekuasannya dengan paksa.

Kalau mau jujur, ini sebetulnya sebuah _margin call_. Panggilan darurat dari sistem ekonomi yang kehabisan napas. Dan untuk memahaminya, kita tak perlu membuka konstitusi atau jajak pendapat. Cukup lihat satu grafik yang membosankan sekaligus menakutkan: cadangan minyak strategis Amerika Serikat.

Selama tiga tahun terakhir, Amerika menguras tangki daruratnya — _Strategic Petroleum Reserve_ — untuk menahan harga bensin. Perak keluarga terpaksa harus dijual untuk membayar sewa. Cadangan itu kini berada di titik terendah sejak 1980-an.

SPR itu gudang minyak darurat milik negara Amerika Serikat. Ia bukan cadangan bisnis, bukan stok dagang, dan bukan pula tabungan buat cari untung. Ia adalah minyak simpanan terakhir, semacam tabung oksigen ekonomi Amerika ketika keadaan benar-benar genting.

SPR dibentuk tahun 1975, setelah Amerika trauma oleh krisis minyak 1973 ketika negara-negara Arab menutup keran minyak dan ekonomi Barat megap-megap. Sejak itu AS menyimpan ratusan juta barel minyak mentah di gua-gua garam raksasa di Texas dan Louisiana —secara harfiah disimpan di perut bumi, jauh dari badai, perang, dan spekulan.

Fungsi resminya sangat terbatas dan sangat serius: dipakai hanya jika terjadi perang besar, bencana nasional, atau gangguan pasokan minyak global yang mengancam keselamatan ekonomi dan keamanan nasional. Ibaratnya, SPR itu seperti dana darurat keluarga yang seharusnya tidak disentuh kecuali rumah kebakaran atau kepala keluarga masuk ICU.

Masalahnya, dalam beberapa tahun terakhir, tabungan darurat itu diperlakukan seperti dompet harian. Jutaan barel dikeluarkan bukan karena perang, melainkan untuk menekan harga bensin agar inflasi jinak dan suasana politik tetap teduh. Secara ekonomi mungkin terasa "membantu", tapi secara strategis itu ibarat menjual pintu rumah untuk membeli makan malam.

Akibatnya, cadangan SPR kini berada di level terendah sejak era 1980-an. Tangki darurat menipis justru ketika dunia sedang panas: konflik Timur Tengah, retaknya hubungan dengan Arab Saudi, dan sistem petrodolar goyah. Dalam kondisi seperti itu, SPR yang kosong bukan sekadar angka statistik —ia adalah alarm merah.

Itulah sebabnya, dalam analisis besar tadi, SPR menjadi kunci. Ketika cadangan darurat hampir habis, Amerika kehilangan bantalan. Harga minyak tak boleh melonjak. Pasokan tak boleh terganggu. Dan ketika pilihan ekonomi habis, negara besar sering berpaling ke pilihan lama yang paling brutal: kekuatan militer.

Pada saat yang sama, sistem petrodolar —mekanisme yang memaksa dunia membeli minyak dengan dolar— terengah-engah. Arab Saudi menolak memperbarui perjanjian eksklusif. Negara-negara BRICS mulai berdagang energi dengan yuan dan mata uang lokal. "Hak istimewa berlebihan" dolar menguap pelan-pelan, seperti bensin yang dibiarkan terbuka tutupnya.

Lalu beredar rumor di ibu kota keuangan dunia: Venezuela, pemilik cadangan minyak terbesar di planet ini, bersiap menandatangani kesepakatan untuk mematok minyaknya pada sekeranjang mata uang BRICS.

Di situlah garis merah ditarik. Amerika tak mampu membiarkan Venezuela sebagai tangki minyak terbesar dunia memutuskan hubungan dengan dolar. Jika itu terjadi, permintaan obligasi AS runtuh, suku bunga melonjak, dan ekonomi berbasis utang Barat ambruk seperti rumah kartu.

Washington pun dihadapkan pada dua pilihan: menerima realitas multipolar dan bernegosiasi, atau menggunakan satu aset yang masih mereka miliki berlimpah —kekuatan militer. Mereka memilih senjata. Ini bukan pembebasan. Ini likuidasi. Negara disita untuk menjamin aset. Diplomasi kapal meriam abad ke-19, dikemas sebagai humanitarianisme abad ke-21.

Untuk memahami keganasan langkah ini, lihat neraca Amerika. Media Barat selama bertahun-tahun menjual mitos "revolusi shale" yang membuat AS mandiri energi. Separuh benar, separuh bohong —dan dalam geopolitik, separuh benar adalah kebohongan penuh.

AS memang memproduksi minyak besar-besaran, tetapi jenisnya _light sweet crude_ —ringan, mahal, seperti sampanye. Masalahnya, mesin industri Amerika dibangun 50 tahun lalu untuk _heavy sour crude_ —kental, berlumpur, seperti solar. Kilang-kilang raksasa Texas dan Louisiana dirancang untuk minyak berat Timur Tengah dan Venezuela. Nah, jenis minyak sampanye AS tak menggerakkan truk diesel. Ketidakcocokan kilang ini jarang dibicarakan ekonom arus utama.

Dulu, masalah itu ditambal dengan impor dari Arab Saudi. Hubungan itu kini retak. Riyadh memangkas produksi, menjaga harga, dan melirik Timur. Panggilan dari Gedung Putih tak lagi diangkat.

Amerika menghadapi matematika kejam: mereka kehabisan jenis minyak yang dibutuhkan agar mesin ekonominya tetap hidup. Dan kartu as sudah dimainkan — _Strategic Petroleum Reserve_ (SPR) dikuras demi menenangkan inflasi dan elektabilitas. Tangki darurat kosong tepat ketika Timur Tengah memanas.

Peta pun dibentangkan. Kanada sudah maksimal ditarget untuk dikuasai. Rusia pun sudah habis-habisan disanksi. Saudi sudah tak lagi kooperatif. Tinggallah satu opsi yang tersisa: ladang minyak berat sabuk Orinoco, Venezuela.

Selama bertahun-tahun, pihak Washington mencoba menekan Caracas dengan sanksi, pemerintahan paralel, dan kudeta lunak. Gagal. Minyak tetap di tanah Venezuela —atau bocor ke China lewat armada gelap. Jika harga melonjak ke US$150 per barel, ekonomi AS yang ringkih bisa tumbang.

AS tak mampu membeli minyak Venezuela di harga pasar, apalagi membiarkannya jatuh ke tangan Beijing. Maka kalkulasinya berubah: penahanan tak cukup, kepemilikan menjadi keharusan. Jabat tangan berubah menjadi tinju tepat ketika SPR menyentuh batas kritis.

Di sinilah sosok Donald Trump menemukan panggung alaminya. Sebagai pengusaha, ia melihat negara seperti perusahaan bermasalah. Venezuela adalah aset tertekan, manajemen bandel, nilai tersandera. Solusinya bukan dialog, melainkan _hostile takeover_.

Cadangan minyak Venezuela — 303,8 miliar barel — bernilai sekitar US$21 triliun pada harga konservatif. Amerika memang kelebihan minyak, tapi ini bukan soal minum hari ini; ini soal menguasai keran besok. Kendali suplai global, harga, dan mata uang. Naluri bisnis Trump bukan cerita sampingan; ia adalah cara berpikirnya.

Di atas semua itu, berdiri ideologi yang dipoles sarkasme: pergeseran dari Doktrin Monroe ke Doktrin Don-Roe. Monroe 1823 berbicara perlindungan —setidaknya secara retoris. Don-Roe membuang topeng: "Wilayah ini kami kelola." Bukan lagi wasit, tapi pemilik lapangan. Penangkapan seorang presiden aktif dipamerkan sebagai konten. Perang menjadi unggahan. Kedaulatan jadi _thumbnail_.

Yang luput dibicarakan media adalah bom waktu finansial: petrodolar. Dolar tak ditopang emas atau produktivitas industri, melainkan kesepakatan pasca-1971 bahwa minyak dijual dalam dolar. Setiap negara butuh minyak, setiap negara butuh dolar —permintaan buatan permanen.

Inilah sumber kemakmuran Amerika. Tapi sihirnya pudar. Kini akhir petrodolar. Rusia menuntut pemberlakuan rubel di seluruh transaksi. UEA menyelesaikan transaksi dengan rupee. Saudi berbincang petroyuan. Venezuela hampir mengunci pintu dolar sepenuhnya. Itu ancaman eksistensial.

Jika minyak Venezuela diperdagangkan dalam yuan, China tak perlu menimbun dolar. Jika China melepas dolar, nilai dolar pun jatuh. Jika dolar jatuh, maka otomatis biaya hidup bangsa Amerika akan melonjak dalam semalam.

Operasi di Caracas adalah upaya putus asa menambal kebocoran seluruh bendungan tadi. Dengan menguasai pemerintah Venezuela, Washington memaksa minyak kembali ke sistem dolar —di ujung laras senjata. Chevron dan Exxon dipanggilnya pulang. Kontrak ingin ditulis ulang. Bolivar mau diikat ke dolar. Stabilitas pasar, kata mereka. Koersi, kata kamus.

Ini menyingkap kerapuhan Amerika Serikat yang diyakini Trump sebagai imperium abad ini. Kekuatan sejati menarik dengan merit: perdagangan terbaik, teknologi unggul, mata uang stabil. Kekuatan menurun memaksa dengan ancaman.

Amerika kini sebetulnya bukanlah pemimpin pasar bebas, melainkan penegak standar dolar. Pesannya jelas bagi negeri kaya sumber daya: keluar dari dolar, kami datang. Tapi cacat fatalnya sederhana: Anda bisa menginvasi satu negara, mungkin dua, tapi tidak seluruh dunia.

Koalisi anti-dolar terlalu besar untuk dilawan Amerika sendirian. Dengan menyerang Venezuela, Washington justru membenarkan alasan dunia mencari alternatif. Kepercayaan semakin runtuh. Dulu dolar dipakai karena nyaman; besok ditinggalkan karena berbahaya.

Helikopter akan pergi dari Caracas. Pasar saham mungkin euforia sesaat. Namun kerusakan pada jiwa tatanan internasional permanen. Topeng liberalisme kini resmi disobek.

Selama 70 tahun, pidato tentang kedaulatan dan non-intervensi dikhotbahkan. Hari ini, semua itu terdengar hampa. Amerika tampil bukan sebagai polisi global, melainkan bajak laut global yang kehabisan perbekalan —siap membajak kapal mana pun agar tetap mengapung.

Anda bisa mencuri minyak Venezuela setahun, dua tahun. Tapi masa depan tak bisa dicuri. Gravitasi ekonomi bergerak ke timur. Kapasitas produksi di timur. Bahkan klaim moral — betapa pun ironis— mulai bergeser.

Penyerbuan Washington ke Caracas akan dicatat bukan sebagai puncak kekuatan, melainkan pengakuan kebangkrutan. Kaca darurat dipecahkan, tuas ditarik.

Minyak mungkin saja mengalir ke utara, ke Amerika, tetapi kepercayaan, pengaruh, dan legitimasi dolar mengalir pergi. Selamat datang di perang yang sebenarnya: bukan tentang surat suara, melainkan tentang barel.(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Lainnya
Opini

Sisa Optimisme

Oleh Ahmadi Thaha (Kolumnis)
pada hari Selasa, 06 Jan 2026
Pagi itu, awal Januari 2026, ruang hotel tempat Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN PIM) berkumpul terasa lebih serius dari biasanya. Bukan karena karpetnya baru diganti atau kopinya ...
Opini

Sumpah al-Qur'an Walikota Zohran

Al-Qur’an kini merasuk ke dalam wilayah kekuasaan Amerika Serikat. Tak cuma hadir di rak museum, kini ia menjadi saksi sumpah jabatan. Tepat selepas tengah malam, 1 Januari 2026, di peron yang ...