Opini
Oleh ; Iswandi Syahputra (Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga) pada hari Kamis, 20 Des 2018 - 01:51:46 WIB
Bagikan Berita ini :

Mengapa Ada Orang Sholat Tapi Suka Berbohong?

34iswandi.jpg.jpg
Iswandi Syahputra (Sumber foto : Ist)

Ini pertanyaan saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Alam berfikir saya saat itu masih belum bisa menerima ada orang sholat tapi suka berbohong. Mengapa ini bisa terjadi?

Perjalanan religiusitas kemudian membawa saya pada seorang ahli spiritual. Dari beliaulah saya menemukan jawaban yang sejak lama saya pendam. Penjelasannya tentang sholat sangat logis, tapi hati-hati karena berbahaya pada bagian akhir.

Sholat, seperti artefak kebudayaan, merupakan sebuah perjalanan spiritual seseorang. Jika ada orang yang mengerjakan sholat tapi masih berbuat maksiat, itu menunjukkan perjalanan spiritualitasnya baru sampai pada level _aqimussholah,_ dirikanlah sholat. Belum sampai pada level _inna sholata tanha 'anil fasyaki wal munkar,_ sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Kita boleh berbeda pemahaman dan penafsiran, tapi saya meyakini kebenaran penjelasan guru spiritual saya untuk menjawab _Mengapa ada orang sholat tapi suka berbohong?_

Jadi, terkait sholat dan orangnya itu ada levelnya. Setiap level akan berbeda, tapi secara eskalatif menuju ke arah _ma'rifatullah,_ level tertinggi sebagai bentuk _manunggaling kawula Gusti._

*Level Pertama,* orang yang tidak/belum mengerjakan sholat. Ini yang paling rendah tapi jangan dihina sebab mereka hanya butuh hidayah untuk mengerjakan atau menjadikan sholat sebagai tiang agama.

*Level Kedua,* orang yang sholat hanya sekedar mengerjakan sholat. Mereka sholat tapi juga berbuat maksiat, mengerjakan sholat tapi suka menipu dan berbohong pada rakyat. Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan *mendirikan Sholat:*

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'” (QS. Al Baqoroh : 43).

Dan bisa juga orang pada level ini mendirikan sholat untuk pamer atau riya di hadapan manusia:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisa : 142).

Orang pada level ini dapat masuk pada kelompok orang yang sholat tapi merugi:

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya”. (Surah Al-Ma’un : 4-5).

*Level Ketiga,* Orang yang bukan saja mendirikan sholat tapi sholatnya mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Mau berbohong, ingat sholat. Mau ingkar janji, ingat sholat. Sholatnya memberi dampak positif secara sosial dan personal. Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan *Sholat mencegah perbuatan keji dan munkar*:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Ankabut : 45)

*Level Keempat,* Orang yang bukan saja mendirikan sholat dan sholatnya mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, tapi sholat sudah menjadi tiang agama (Islam). Kalau sholatnya rusak, maka rusaklah agamanya. Karena itu sholat merupakan ibadah yang akan pertama kali dihisab (dihitung) di akhirat.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim, Baihaqi)

Kelompok orang yang sholat seperti ini masuk dalam golongan *Sholat adalah tiang agama*:

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

*Level Kelima,* level ini sebenarnya tidak untuk disampaikan karena jika disalah gunakan bisa menimbulkan gejolak spiritual. Tapi untuk pencerahan dan pengetahuan, silahkan saja dimaknai dan didiskusikan sebagai pengetahuan.

Pada level ini, orang selalu menjaga agamanya dengan selalu berbuat baik bagi alam semesta dan segala isinya. Semesta dan segala isinya adalah pancaran Ilahi. Dia adalah DIA yang ditakdir ada di dunia. Apapun yang dilakukannya adalah cara untuk selalu mengingat Tuhan. Hingga jika sudah sampai pada level ini, proses _maunggaling kawula Gusti_ terjadi. Sholat hanya persoalan syari'at, bukan ma'rifat.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Toha : 14).

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Dompet Dhuafa: Sedekah Yatim
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Puasa Melatih Daya Transendensi Dari Gravitasi Syahwat Bumi

Oleh Yudi Latif, Pakar Aliansi Kebangsaan
pada hari Kamis, 15 Apr 2021
Puasa melatih cara beragama secara dewasa. Beribadah bukan karena apa kata orang, melainkan apa kata nurani sendiri. Bermoral bukan karena paksaan dari luar, melainkan karena pancaran ketulusan dari ...
Opini

“ Lone Wolf” Itu!

JAKARTA(TEROPONGSENAYAN)--Aksi terorisme bom bunuh diri di gereja Katedral Makassar, Minggu pagi  (28/03/21) menewaskan sepasang suami isteri yang baru menikah 6 bulan.  Lukman Alfarizi(25) ...