Editorial
Oleh Pamudji Slamet pada hari Kamis, 17 Jan 2019 - 15:22:58 WIB
Bagikan Berita ini :

Debat Perdana: Beri Kami Logika, Bukan Retorika

9debat-capres-2019-jokowi-vs-prabowo-696x385.jpg.jpg
Debat Perdana Pilpres 2019 (Sumber foto : ist)

Hari ini, Kamis (17/1/2019), Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar Debat Perdana Pilpres 2019. Dua pasangan calon (paslon). Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga siap memanaskan panggung debat, yang bakal dimulai pukul 20.00 WIB.

Apakah debat ini bakal memuaskan rakyat? Entahlah. Bicara kepuasan,,mau tidak mau, harus memakai alat ukur. Bukan hanya pilihan kata, alat ukur itu juga berupa data dan analisa. Jika masing-masing alat ukur tersebut tersampaikan oleh kedua paslon secara apik dan menarik, tentu debat perdana bakal memuaskan.

Akan lebih sempurna, bila masing-masing kubu mampu menyampaikan semua pandangannya secara logis. Ini bukan perkara susah, bahkan cenderung mudah. Asal, masing-masing kubu bersedia adu argumen dengan logika. Kata kuncinya adalah logika.

Rakyat negeri ini membutuhkan pemimpin yang pintar berlogika, bukan ahli memutar-mutar kata. Pemimpin model begini, biasa hanya bisa beretorika.

Berikutnya, kesempurnaan debat bisa dicapai melalui dinamika dialog antar paslon. Semakin dinamis, pastinya semakin menarik. Debat Pilpres seyogyanya memberi ruang lebih bagi kedua paslon untuk adu dialog. Ini lebih menarik ketimbang mereka 'bermonolog' dengan panelis. Gaya berdebat pilpres Amerika Serikat yang sarat akan dialog, bolehlah jadi rujukan.

Sejatinya, debat pilpres adalah debat antar paslon, bukan dengan panelis. Kehadiran panelis hanya untuk menjaga agar arah debat tak melenceng dari tema. Selama tema terjaga, biarkan kedua paslon berdebat dengan logika dan data masing-masing. Selamat berdebat, selamat memberikan pencerahan kepada rakyat. (*)

tag: #pilpres-2019  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Editorial Lainnya
Editorial

Redam Harga Masker!

Oleh Firdaus
pada hari Selasa, 18 Feb 2020
Belakangan ini masyarakat terkejut dengan lonjakan harga masker hingga lebih 100% dan barangnya langka di beberapa apotik di Jakarta maupun daerah lainnya. Bahkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha ...
Editorial

Degradasi Etika Pejabat

Keputusan Pemerintah menentukan Pangkalan Militer TNI di komplek Pangkalan Udara Raden Sajad Kepulauan Natuna untuk lokasi observasi 238 WNI dari Wuhan, China, adalah keputusan yang tepat. Pertama, ...