Editorial
Oleh Pamudji Slamet pada hari Sabtu, 19 Jan 2019 - 10:25:29 WIB
Bagikan Berita ini :

Debat Perdana: Antara Memikat, Dipikat, dan Terpikat

90009594100_1547743963-20190117-Debat-Pilpres-2019-1.jpg.jpg
Debat Perdana Pilpres, Kamis (17/1/2019) (Sumber foto : ist)

Usai sudah debat perdana Pilpres 2019. Bagaimana hasilnya? Biar publik yang menilai. Apapun penilaiannya, publik pasti berangkat dari pertimbangan dan alasan rasional.

Ujung dari debat pada Kamis (17/1/2019) malam adalah siapa (diantara empat kandidat pemimpin nasional) yang paling menarik perhatian. Ada dua bentuk perhatian yang diharapkan peserta debat. Yakni simpati atau empati publik. Mau diputar-putar seperti apa, puncak debat adalah dua perhatian itu. Aneh bila peserta debat tak menginginkan simpati dan empati publik.

Agar keduanya kepegang, maka peserta debat harus pintar memikat publik. Dari empat sosok yang tampil pada debat Kamis malam, publik sudah tahu siapa sosok paling memikat. Apakah Jokowi, Ma'ruf Amin, Prabowo, atau Sandiaga? Publik lah yang bisa menjawab.

Kalau ada yang memikat, maka akan ada yang dipikat. Pada debat Kamis malam, tentu saja, pihak yang ingin dipikat adalah seluruh rakyat Indonesia , terutama 192 juta pemilih. Mereka inilah target pikatan debat perdana dan debat-debat berikutnya.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana cara memikat? Ini penting karena cara sangat menentukan apakah pihak yang dipikat merasa dan membiarkan dirinya terpikat. Beberapa cara telah dilakukan oleh keempat peserta debat agar publik terpikat.

Lalu seberapa besar efek elektabilitas proses 'memikat-dipikat-terpikat' bagi peserta debat? Pertanyaan ini agak sulit dijawab, atau (minimal) masih harus diperdebatkan. Mengapa? karena realitas politik di Tanah Air masih diwarnai oleh prinsip fanatisme dan apatisme. Bisa jadi, publik A menentukan pilihan karena fanatik kepada paslon X dan apatis terhadap paslon Y. Sedangkan publik B melakukan hal sebaliknya. Begitu, dan selalu begitu realitas politik. Selalu saja, elektabilitas politisi yang menjalani debat dipengaruhi oleh fanatisme dan apatisme publik. (*)

tag: #pilpres-2019  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Editorial Lainnya
Editorial

Redam Harga Masker!

Oleh Firdaus
pada hari Selasa, 18 Feb 2020
Belakangan ini masyarakat terkejut dengan lonjakan harga masker hingga lebih 100% dan barangnya langka di beberapa apotik di Jakarta maupun daerah lainnya. Bahkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha ...
Editorial

Degradasi Etika Pejabat

Keputusan Pemerintah menentukan Pangkalan Militer TNI di komplek Pangkalan Udara Raden Sajad Kepulauan Natuna untuk lokasi observasi 238 WNI dari Wuhan, China, adalah keputusan yang tepat. Pertama, ...