Opini
Oleh M Rizal Fadillah (Mantan Aktivis IMM) pada hari Senin, 13 Mei 2019 - 16:27:53 WIB
Bagikan Berita ini :

Dunia Misteri

tscom_news_photo_1557739673.jpg
Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

Tersenyum tapi serem juga lihat meme di medsos ada seorang bawa koper lalu menyatakan ingin jadi raja, mbah. Si Mbah berbentuk kodok raksasa menjawab harus ada tumbal ratusan. Tentu iseng dibuat model begitu. Namun membuat merenung juga. Karena kematian ratusan petugas Pemilu menjadi misteri maka muncul teori- teori. Dan "teori" yang terakhir muncul adalah "teori tumbal karena ingin jadi raja". Ketidak jelasan membuat berbagai bayang bayang kemungkinan. Jadinya kemana-mana, termasuk dunia mistik.

Waktu "musim" teroris ramai beberapa waktu lalu, kini juga masih muncul ujug-ujug, maka keluar berbagai teori kemungkinan mulai dari teori "pengantin", "keputusasaan ekonomi" hingga "teori konspirasi". Namanya juga misteri sehingga dugaan muncul bermacam-macam. Dulu zaman penghujung Orde Baru ada kasus "pembunuhan misterius" juga tak jelas dan tak tuntas. Timbul dugaan macam-macam pula dari keseriusan membasmi "kaum preman", "keputusasaan hukum" hingga "tumbal keselamatan negeri sang raja". Isu mayat disebar di berbagai tempat juga berkembang. Pandangan rasional hingga mistik-mistik. Begitulah dunia misteri.

Pembiaran dan tidak seriusnya menangani kematian 500 an lebih petugas Pemilu dan ribuan yang sakit, wajar menimbulkan berbagai dugaan. Dari yang "rasional" kelelahan karena Pemilu serentak, sengaja di racun oleh "PKI baru", hingga pandangan mistik "tumbal demokrasi". Betapa "tenang" nya Pemerintah melihat dan merespons insiden ini seolah-olah membiarkan hal ini untuk tetap menjadi misteri. Aktivis hukum, para dokter, dan masyarakat sudah teriak-teriak perlunya penyelidikan serius. Butuh kejelasan ada apa dibalik kematian aneh ini. Bukan berita santunan saja yang ingin didengar publik. Dunia juga mulai menyoroti Indonesia yang "sakit".

Mestinya Pemerintah mengambil langkah nyata dan bertanggung jawab. Nyatakan sebagai bencana "politik" nasional, kemudian instruksikan Kemendagri dan Kemenkes untuk bergerak meneliti peristiwa kematian massal dan janggal. Sementara kepolisian juga bergerak melakukan penyelidikan kalau saja terjadi unsur pidana dalam insiden ini. Masyarakat akan membantu optimal untuk menguak kejadian aneh ini.
Sabotase upaya peracunan peserta aksi di Bawaslu kemarin menjadi pelajaran. Pelaku hilang misterius. Kejahatan Pemilu nyatanya ada dan mulai mengemuka.

"Tumbal Demokrasi" tak boleh ada apalagi disengaja atau dianggap lumrah. Seperti dulu pernah terucap oleh Pemimpin Negara ketika PKI mencoba kudeta "lumrah dalam revolusi..". Kita adalah bangsa bermartabat, bermoral, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Jangan biarkan berkembang "fitnah" karena memang membiarkan suatu misteri.
Sebenarnya mudah untuk memperjelas kasus ini, asal ada kemauan dan kejujuran dalam berpolitik.
Ya inilah yang kini rakyat Indonesia sedang serius permasalahkan "kejujuran politik !"

Bandung 13 Mei 2019 (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #kpu  #pilpres-2019  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Opini Lainnya
Opini

Kartu Pra Kerja, Peluang dan Tantangan dalam Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Mukhtarudin-Anggota Komisi VI DPR R Fraksi Golkar
pada hari Selasa, 02 Jun 2020
Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menciptakan peluang, namun juga tantangan bagi Indonesia.  Revolusi Industri 4.0 mendorong inovasi teknologi yang memberikan dampak perubahan terhadap kehidupan ...
Opini

SBY: Setahun Telah Kulalui Istirahatlah Dengan Tenang Istriku Tercinta

Alhamdulillah, tahun terberat dalam hidupku telah kulalui 1 Juni 2019 - 1 Juni 2020. Setahun sudah Ani Yudhoyono, belahan jiwaku, menghadap Sang Pencipta, Allah SWT. Istirahatlah dengan tenang Memo, ...