Opini
Oleh M Rizal Fadillah (Mantan Aktivis HMI) pada hari Jumat, 12 Jul 2019 - 01:43:01 WIB
Bagikan Berita ini :

Dagang Sapi

tscom_news_photo_1562870581.jpg
M Rizal Fadillah (Sumber foto : Ist)

Memasuki musim haji semakin dekat waktu untuk pemotongan hewan. Iedul adha atau lebaran haji. Kini baik di lapangan maupun melalui media sudah mulai marak penawaran hewan baik kambing maupun sapi. Di Saudi biasanya kambing dan unta. Syariat berkurban menjadi wajib hukumnya bagi yang mampu. Untuk sapi atau unta dapat "patungan" tujuh orang sedang kambing cukup seorang saja.

Sapi memang hewan potong dan Allah pernah perintahkan memotong bukan hanya pada Muslim tapi juga Yahudi sebagai sanksi atas dosanya. Itulah yang kemudian menjadi sebab Surat Qur"an diberi nama "Al Baqarah" (Sapi betina). Menggambarkan karakter Yahudi yang curang, banyak bohong, selalu cari cari alasan, dan pembangkang dan dengan sifat "ngeles" nya maka ia mempersulit diri. Nyaris gagal menjalankan perintah-Nya.
Dalam hadits Nabi mengingatkan umat akan hancur berantakan jika "tabi"u adznabal baqar" (ikut buntut sapi) yakni mengikuti kepemimpinan model sapi. Tidak peduli dan masa bodoh meski pemimpinnya itu bodoh atau tidak punya inisiatif "seperti kerbau dicocok hidung". Planga plongo.

Politik dagang sapi berkonotasi negatif. Tawar menawar untuk bagi bagi kursi. Melalui proses lobi, negosiasi atau rekonsiliasi.
Sejarah istilah "politik dagang sapi" konon berasal dari salah satu suku. Dimana dahulu etika berdagang sapi dalam tawar menawar itu dirahasiakan. Kedua pihak di bawah pohon rindang saling menautkan jemari, membuat sinyal harga tawar. Menutup diri dengan sarung. Nyaris tak ada orang tahu. Apa pembicaraan dan berapa harga kesepakatan. Sapi nya pun tak tahu bahwa dirinya sedang dibahas.
Kini kerahasiaan pembahasan "dagang sapi" dalam politik tetap terjaga, rahasia, bahkan misterius. Tahu tahu kursi sudah terjual apakah Menteri, Komisaris, atau Duta Besar.

Menjelang pelantikan Presiden yang sukses "memenangkan" Jokowi maka untuk memperkokoh dukungan baik internal maupun lawan dilakukan pendekatan-pendekatan. Tentu dalam rangka penguatan basis koalisi maupun penaklukan perlawanan. Sarana yang paling efektif adalah politik dagang sapi. Koalisi Prabowo Sandi digoda dengan jatah jatah. Partai mulai berfikir keuntungan diri untuk memperbesar porsi. Dipilih rakyat sudah, karenanya kini rakyat tak menentukan lagi. Begitu kilahnya. Rakyat dilepaskan dan cukup menonton hasil. Toh dagang sapi berjalan di balik sarung dengan
jari jemari saling yang saling bertaut tanpa diketahui.

Ketika politik dagang sapi dominan maka bukan hanya oposisi yang dihancurkan tetapi juga demokrasi dan ideologi. Kedaulatan rakyat diambil alih oleh segelintir orang orang yang mengatasnamakan telah dipilih oleh rakyat. Penyusunan kabinet dan penataan pemerintahan baru adalah momen masa bodoh terhadap aspirasi. Yang ada dan ramai adalah pergulatan kepentingan antar pribadi dan partai. Kabinet kerja yang digadang gadang prakteknya hanya menjadi kabinet kerjaan. Jadi jadian dan gaya gayaan. Palsu dan tak bermutu. Menteri menjadi wakil "pencuri" untuk kepentingan partainya sendiri.

Hikmah kurban dengan memotong hewan antara lain adalah memotong karakter hewan yang melekat pada diri insan. Dalam politik ada dua karakter yang harus dieliminasi yaitu "dagang" dan "sapi". Jika berpolitik dengan berwatak pedagang maka semua dijual jual dari aset negeri sampai harga diri. Jika berpolitik berwatak sapi maka tak ada yang dikreasi selain diperah atau menjadi "pembajak" sawah rakyat. Dikendalikan pemodal jahat yang tak bisa melihat.

Sembelihlah di iedul adha nanti kambing domba atau sapi. Potonglah karakter pemimpin pengadu domba dan pembajak suara. Moga Allah ridha.

Bandung, 11 Juli 2019 (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Indonesia Menuju New Normal Corona

Oleh Heri Gunawan Anggota komisi XI DPR RI Dari Fraksi Partai Gerindra
pada hari Kamis, 28 Mei 2020
New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Hal ini ...
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...