Opini
Oleh Tony Rosyid (Satu dari 19 Tamu Allah) pada hari Senin, 12 Agu 2019 - 10:48:09 WIB
Bagikan Berita ini :

My First Haji

tscom_news_photo_1565581689.jpeg
Tony Rosyid (Satu dari 19 Tamu Allah) (Sumber foto : ist)

Mendadak seorang kawan telp: tolong antum kirim CV. Seperti instruksi. Untuk apa? Tanyaku. Untuk didaftar di kedutaan Arab Saudi. Haji! Wow. Surprise. Aku antusias.

Mobil kupinggirkan di sebelah kiri Jl. Tendean. Aku rem tangan. Lalu kutulis CV sesuai pesanan. Tetap di atas mobil. Beberapa menit selesai, dan aku kirim segera ke kawan yang minta tadi. Lalu, lanjutkan perjalanan.

Beberapa hari kemudian si kawan telp lagi dan minta paspor. Singkat cerita; kurang lebih satu bulan kemudian aku berangkat. Haji via undangan Kerajaan Arab Saudi.

Keren dong? Respon temen-temen ketika aku kasih kabar. Bagiku, bukan soal kerennya. Bukan itu yang diperlukan. Poinnya: Allah panggil aku. This is my first haji. Meski mendadak, tak ada alasan untuk tidak diterima. Cancel semua jadwal di Indonesia. Termasuk wawancara radio dan mungkin juga TV. Karena Allah yang panggil. Sami"na wa atha"na. Itu harus!

Aku beruntung. Gak pakai ngantri. Kalau daftar ONH biasa, bisa nunggu 22 tahun. Haji plus, ngantri 7 tahun. Bayarnya 250-300 juta. Mahal sekali ya? Begitulah. Ikut Haji Furada ongkosnya bisa sampai 500 juta lebih. Memang tanpa ngantri. Tapi mahalnya minta ampun.

Dilepas Duta Besar Arab Saudi, hari Minggu, 4 Agustus, tepat listrik di hampir wilayah Jawa padam, kami 19 orang dari Indonesia berangkat ke Saudi. Tepatnya, diberangkatkan. Pakai ongkos kerajaan. Gratis tis. Satu niat dan tujuan: memenuhi panggilan Allah. Labbaika Allahumma Labbaika.

Sembilan jam perjalanan, sampai di Jeddah, Saudi Arabia. Setelah itu diantar ke Makkah by bus. Tepatnya di hotel Millenium, di wilayah Nasheem. Hotel baru dan masih gress. Jaraknya kira-kira 20 menit naik bus ke Masjid Haram. 50-60 real jika naik taxi. Itupun setelah tawar menawar. Kalau gak nawar, bisa 100 real. Kok gak pakai argo? Beda negara beda cara dan transaksi. Harap maklum!

Jangan nanya bagaimana servicenya. Luar biasa! Super VVIP. Pokoknya tak tertandingi dengan haji plus-plus atau Furada yang bayar 500 juta sekalipun. Kami harus ucapkan terima kasih kepada Raja Salman. Terima Kasih juga kepada Tuan Muhammad bin Salman. Terima kasih kepada duta besar Arab Saudi untuk Indonesia. Kalian luar biasa menjamu kami. Tamu kalian dan tamu Allah. Super super super!

Sesampainya di Makkah, kami jalani prosesi haji. Mulai dari ihram, wukuf, mabid di Muzdalifah dan Mina, lempar jumrah, tahallul, thawaf ifadhah, sai hingga nanti akan diakhiri thawaf wada" sebelum meninggalkan Kota Makkah. Sesuai jadwal, kami akan ziarah ke Madinah. Di Madinah ada Masjid Nabawi yang di dalamnya ada makam Nabi Muhammad SAW. Ada juga Raudhah. Kalau anda ingin jadi presiden, doalah di situ. Siapa tahu terkabul. Apalagi cuma nambah rizki atau nambah istri. Tak ada yang mustahil untuk diijabah. Kun fayakun.

Yang tak ngerti akan tanya: ngapain pakai dua helai kain ihram. Memutari Ka"bah. Lari-lari kecil dalam sa"i. Diem di Arafah dalam ritual wukuf. Berpanas-panas ria di tanah lapang dan Jabal Rahmah. Lalu hujan angin turun dan menggoyang-goyang tenda dimana jama"ah haji berada. Waktunya cukup lama. Menginap lagi malam-malam di Muzdalifah. Tanpa atap. Lalu menginap di Mina. Tempat berhimpitan di dalam tenda. Pakai lemparin tiga tembok dengan batu. Biaya mahal cuma untuk itu? Belum lagi waktu yang dikorbankan. Ada yang sampai 42 hari berada di Saudi.

Hei! Setiap agama itu ada ritual. Dan ritual di setiap agama itu sarat dengan simbol. Hanya orang yang percaya Tuhan yang tidak saja mengerti makna dan tahu pesan, tapi merasakan betapa dahsyatnya sentuhan rohani di balik simbol itu.

Prosesi haji itu penuh dengan simbol-simbol. Jangan lihat lempar batunya atau bermalam di bawah kolong langit. Tapi di balik itu semua ada makna dan pesan yang bersentuhan tidak saja dengan sejarah kenabian dan moral, tapi terutama pada dimensi spiritual.

Kenapa anda bisa bahagia ketika menulis surat cinta kepada calon istri anda? Kirim bunga dengan macam-macam kata saat bidadari anda ultah. Tidakkah itu buang-buang duit? Untuk apa sih bunga itu? Toh akhirnya layu dan dibuang juga.

Untuk apa anda jalan-jalan ke Paris kalau hanya untuk melihat menara Eiffel? Berulangkali lagi. Gak bosan? Itu buang-buang uang dan waktu. Toh anda bisa Googling. Sensasinya beda, kata mereka. Nah!

Kalau kepada sang bidadari saja anda bisa seemosional itu. Rela korban waktu, tenaga dan uang yang tak sedikit. Bagaimana anda bisa menjelaskan hubungan ruhani antara makhluk dengan Tuhan? Hubungan pengikut dengan Nabi-nya? Ada keterlibatan tidak saja syar"i tapi juga ideologi dan rohani. Tentu ini jauh lebih dahsyat pengaruhnya. Bukan saja pengaruh emosional, tapi lebih-lebih pengaruh moral dan spiritual.

Jangan tanya tentang ritual haji kenapa seperti itu. Tapi rasakan betapa dahsyatnya pengalaman rohani itu yang nanti akan mengantarkan logikamu mengerti apa makna, filosofi dan pesan-pesan di dalam ritual itu.

Mina, 11/8/2019

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #haji  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Opini Lainnya
Opini

Kartu Pra Kerja, Peluang dan Tantangan dalam Era Revolusi Industri 4.0

Oleh Mukhtarudin-Anggota Komisi VI DPR R Fraksi Golkar
pada hari Selasa, 02 Jun 2020
Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menciptakan peluang, namun juga tantangan bagi Indonesia.  Revolusi Industri 4.0 mendorong inovasi teknologi yang memberikan dampak perubahan terhadap kehidupan ...
Opini

SBY: Setahun Telah Kulalui Istirahatlah Dengan Tenang Istriku Tercinta

Alhamdulillah, tahun terberat dalam hidupku telah kulalui 1 Juni 2019 - 1 Juni 2020. Setahun sudah Ani Yudhoyono, belahan jiwaku, menghadap Sang Pencipta, Allah SWT. Istirahatlah dengan tenang Memo, ...