Oleh Nasrudin Joha pada hari Rabu, 16 Okt 2019 - 15:45:44 WIB
Bagikan Berita ini :

PKB Sebut Gerindra Makmum 'Masbuk'? Dia Mah Gak Punya 'Wudlu', Gak Sah Ikut Koalisi Jokowi

tscom_news_photo_1571215544.jpg
Prabowo Subianto (Sumber foto : Ist)

Malang nian nasib jendral kita ini, Prabowo Subianto. Setelah merasa tak mendapat garansi berkunjung ke Jokowi, pergi ke Surya Paloh dan akhirnya Prabowo "ngasor" sowan ke Cak Imin agar mendapat restu menjadi Makmum Jokowi.

Bukannya mendapat apresiasi, Prabowo justru disebut masbuk. Masbuk adalah istilah bagi Makmum sholat yang terlambat berjamaah. Menurut PKB, Prabowo datang akhir, datang belakangan, jadi jatah menteri ya terakhir. Itupun kalau masih ada sisa kursi.

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengibaratkan sinyal bergabungnya Gerindra ke koalisi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sebagai "makmum masbuk" dalam salat. Hal ini disampaikan oleh Waketum PKB Jazilul Fawaid yang menjelaskan maksud pernyataan Cak Imin.

Kalau mau tega, mungkin Cak imin bilang Prabowo itu tidak punya wudlu. Jadi tidak sah bermakmum kepada Jokowi. Dulu saja, Prabowo menuding Jokowi mencurangi Pilpres, masak sekarang merapat, menyatakan kalah, dan meminta jatah ?

Surya Paloh tak terlalu langsung menolak Prabowo, karena Surya Paloh juga kemungkinan akan bernasib sama dengan Prabowo. Diabaikan Mega. Hanya, Surya Paloh masih bisa berdeklamasi dibalik wacana amandemen konstitusi menyeluruh bersama Prabowo. Hehe, pinter saja partai ini bermanuver.

Namun, Irma chaniago Nasdem tegas-tegasan tak nyaman dengan merapatnya Prabowo ke kubu Jokowi. Dulu kan Prabowo lawan Jokowi ? Kenapa sudah kalah gabung ? Seharusnya, Prabowo bersama Gerindra jadi oposan saja. Kalau merapat ke Jokowi, khawatir menggeser jatah menteri partai pengusung Jokowi. Khususnya khawatir menggeser jatah Nasdem.

Bagi partai pengusung Jokowi, Prabowo cuma merusak kebahagiaan pesta kemenagan Jokowi yang diusung partai koalisi Jokowi. Waktu musim tanam tidak mau berkeringat, giliran tinggal panen pura-pura mendekat biar diajak panen bareng.

Apalagi PKB, jelas punya ambisi besar. Dulu minta 10 kursi, sekarang minta 5 menteri. Belum lagi, unsur PKB yang juga NU, minta porsi tersendiri dari NU. Kehadiran Prabowo cuma dianggap mengurangi selera makan pada acara pesta kemenagan partai pengusung Jokowi.

Itulah, kondisi yang dihadapi Prabowo. Dia, telah menuai tuah dan akibat dari meninggalkan Pendukung dan pemilihnya. Mendapat balasan dari mengabaikan ulama dan elemen pergerakan Islam.

Saat ini partai Gerindra tak memiliki pijakan jelas, apakah berkoalisi atau beroposisi. Berkoalisi, peluang ketua MPR RI telah hilang, mengais menteri harapannya juga kecil, apalagi ditengah keengganan partai pendukung Jokowi.

Mau balik badan menjadi oposisi sudah kehilangan momentum. Apapun narasi yang digaungkan Prabowo, tak akan lagi menarik simpati umat. Saat ini, Prabowo Kemana-mana hanya membawa kartu mati. Kasihan. (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #prabowo-subianto  #jokowi  #pkb  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Lainnya
Opini

Indonesia Menuju New Normal Corona

Oleh Heri Gunawan Anggota komisi XI DPR RI Dari Fraksi Partai Gerindra
pada hari Kamis, 28 Mei 2020
New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Hal ini ...
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...