Oleh Nasrudin Joha pada hari Rabu, 01 Jan 2020 - 15:22:51 WIB
Bagikan Berita ini :

Sandiwara Pansus Jiwasraya? Sudahlah, Jiwasraya Sudah Tiada

tscom_news_photo_1577866971.jpeg
Ilustrasi (Sumber foto : ist)

Setelah seminggu lebih tak juga ada perkembangan kasus, belum jelas siapa yang akan "ditersangkakan" sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kemelut Jiwasraya, kini para legislator di Senayan mengusulkan pembentukan Pansus. Sebagai bagian dari hak kontrol dewan terhadap eksekutif, usulan pembentukan Pansus ini normatif saja.

Secara politik, Pansus tak mungkin lepas dari agenda dan kepentingan politik. Seperti yang sudah-sudah, pembentukan Pansus Century Gate juga tak menyelamatkan duit rakyat. Malahan, sejumlah pihak justru ikut "ngalap" berkah melalui keterlibatan di Pansus.

Dalam kasus Jiwasraya ini, saya ingin tegaskan bahwa nasib jiwasraya sudah selesai. Tak ada masa depan apapun bagi perusahaan asuransi yang diterjang badai mengemplang duit tertanggung hingga 13,7 T.

Meski mau disuntik modal berapapun, agen Jiwasraya tak mungkin lagi dapat pelanggan. Jika agen-agen jiwasraya mengetuk pintu rumah penduduk, ingin menawarkan produk asuransi, pasti semua pintu rumah ditutup dan dikunci rapat.

Tak ada orang konyol mau melibatkan diri menjadi tertanggung asuransi yang diterpa badai korupsi yang nilainya hingga 13,7 T. Lebih baik sakit dan berobat sendiri, ketimbang bayar premi tapi tak bisa diklaim. Lebih baik menabung sendiri, ketimbang ikut asuransi pendidikan tapi tak bisa dicairkan

Padahal, agen asuransi kalau menawarkan produk asuransi itu seperti menawarkan surga. Dengan kasus jiwasraya, semua agen asuransi dipahami oleh masyarakat membawa petaka, menawarkan api neraka.

Bahkan, imbas kasus Jiwasraya ini tidak hanya pada jiwasraya, BUMN asuransi, tetapi semua produk dan industri asuransi mendapat pukulan telak. Jiwasraya telah membawa petaka bagi dunia asuransi.

Jadi mau di bentuk holding BUMN asuransi, diusut kasusnya hingga tuntas, atau dibentuk Pansus DPR, nasib Jiwasraya tak tertolong. Jiwasraya telah melayang jiwanya, yang tersisa hanya sakit, kepedihan, dan derita yang tiada tara.

Adapun pembentukan Pansus oleh DPR, itu hanya akan dijadikan bagi politisi DPR untuk burguining position secara politik, baik dihadapan rakyat maupun dihadapan rezim. Penjelasannya sebagai berikut :

Pertama, kasus ini bagi DPR akan menjadi ajang politik pencitraan, bahwa DPR membela rakyat, dalam waktu yang lama kasus jiwasraya akan menjadi mimbar pidato yang menjemukan, pernyataan berulang dan membosankan, yang keluar dari anggota DPR yang terhormat yang tak juga menyelesaikan masalah.

Kasus Jiwasraya akan dijadikan ajang sirkus badut-badut parlemen untuk memoles citra, meraih simpati, dan membangun citra diri dan partai. Partai yang "berlakon" kontra rezim akan mendapat benefit politik tinggi, menaikkan elektabilitas partai dan tokohnya melalui forum ini.

Kedua, tindakan kritis pada panggung Jiwasraya juga bisa dijadikan ajang mengajukan proposal kepada rezim untuk tujuan diantaranya : mendapat bagian berkah jiwasraya atas sejumlah aksi penyelamatan termasuk jika diambil opsi penambahan PNM atau melakukan pailit.

Melalui kasus ini, elit partai juga bisa melakukan penawaran tinggi atas sejumlah isu strategis lainnya, porsi kekuasaan, keluar dari belitan kasus, atau yang semisalnya. Prinsipnya, Pansus hanya dijadikan ajang transaksi politik atas sejumlah isu kekuasaan.

Kalau mau merujuk fakta, berapa Pansus yang pernah dibentuk dan apa hasilnya ? Nol. Lantas kenapa hari ini perlu dibentuk Pansus lagi ? Jawabnya, karena dua alasan diatas.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa sistem sekuler demokrasi tak memiliki solusi untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Rezim aku Pancasila ini, hanya memproduksi sejumlah kerusakan negara, tanpa memberi andil bagi penyiapan generasi masa depan

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #prahara-jiwasraya  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Lainnya
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Oleh Andi Rahmat, Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
pada hari Senin, 25 Mei 2020
Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...
Opini

Tradisi Halal Bihalal dan Makna Kata Maaf Presiden

Mengapa di Indonesia ada tradisi #halalbihalal yang tidak ada di negeri lain? Tradisi Halal bihalal telah berdampak sosial & politik dalam masyarakat. Secara sosial kehidupan bernegara lebih cair ...