Oleh Andi Mapperumah Direktur Eksekutif The Fatwa Center pada hari Senin, 06 Apr 2020 - 11:13:33 WIB
Bagikan Berita ini :

Buzzer, Bencana di Tengah Bencana

tscom_news_photo_1586146413.jpg
Andi Mapperumah Direktur Eksekutif The Fatwa Center (Sumber foto : Dokumen)

Pada 28 Maret Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyampaikan data 283 jumlah korban meninggal dunia yang harus dimakamkan sesuai protokol pemulasaran jasad pasien Covid-19. Dibungkus plastik, menggunakan peti, dan petugas pemakaman menggunakan alat pelindung diri (APD).

Pada tanggal yang sama Gugus Tugas Covid-19 Pusat merilis yang meninggal akibat corona sebanyak 102 orang (data seluruh Indonesia). Bandingkan dengan data Jakarta saja sebanyak 283 meninggal. Mengapa jauh sekali perbedaannya. Apakah ada data yang disembunyikan? Demi agar tidak ada kepanikan? Ataukah memang akses data oleh Pusat terbatas?

Pada 2 April, Anies melaporkan data terbaru kepada Wapres Ma"ruf Amin, bahwa yang meninggal di Jakarta ada bertambah menjadi 400 orang (sementara data Gugus Tugas Pusat 122). Di Jakarta dari 28 Maret - 2 April ada penambahan drastis 117 orang meninggal.

Para buzzer menyebut Anies telah berbohong memanipulasi data mempolitisir angka kematian yang berbeda dengan Gugus Tugas Covid-19 demi menaikkan citra politiknya. Sungguh tuduhan yang kejam. Apakah seorang Anies akan mempertaruhkan reputasinya dengan sengaja memanipulasi data kematian?

Pada kesempatan lain, Anies menyampaikan data adanya kenaikan jumlah jenazah yang dikubur pada Maret 2020, yakni sebanyak 4.377 orang.

Jumlah tersebut naik hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan Februari 2020, yakni sebanyak 2.459 orang.

Tak hanya itu, jumlah jenazah yang dikubur pada Maret 2020 juga dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata penguburan jenazah di DKI pada 2018 dan 2019. Adapun jumlah rata-rata penguburan jenazah pada 2018 sebanyak 2.774 orang dan 2.745 orang pada 2019. Data ini mencengangkan. Terlebih kemudian jika terbukti kematian itu karena Covid-19.

Para buzzer pendek akal. Semata menyerang Anies tanpa sadar men-declare kebodohannya sendiri. Anies bicara berdasarkan fakta di lapangan. Bersumber dari data petugas pemakaman DKI. Setiap orang yang dimakamkan direkam oleh dinas pertamanan.

Anies dalam konpers sudah menjelaskan ketidaksinkronan data tersebut. Belum tentu semua yang meninggal karena positif Covid-19 meski proses pemakaman dengan standar pemulasan pasien corona. Tapi semuanya menunjukkan gejala, meski ada yang belum dites atau sudah dites tapi belum keluar hasilnya. Misalnya kasus pasien meninggal di Cianjur oleh Pemda dikatakan negatif corona, tapi setelah hasil tes keluar ternyata positif corona.

Para buzzer itu tanpa pernah kritis dengan data yang disampaikan oleh Gugus Tugas Covid-19. Data primer dari mana, cara mendapatkan bagaimana, daerah mana, di rumah sakit mana, hingga dimakamkan di mana. Apakah data yang disampaikan itu sesuai fakta di lapangan ataukah ada yang disembunyikan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo membenarkan jika data kasus positif COVID-19 yang selama ini disampaikan pemerintah tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan karena asupan data dari Kementerian Kesehatan juga terbatas.

"Kami dapat feeding data dari Kemenkes terbatas jadi kami belum bisa menghasilkan data yang sangat lengkap atau terbuka," katanya dalam diskusi virtual Bersama Melawan Covid-19 di kanal YouTube Energy Academy Indonesia, Minggu 5 April 2020.

Jadi, seluruh narasi yang dibangun oleh para buzzer itu runtuh dengan sendirinya ketika dihadapkan dengan pengakuan pemerintah sendiri dan fakta di lapangan. Terlebih kemudian Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) memperkuat data yang disampaikan Anies ketika berbicara virtual dengan Wapres Ma"ruf Amin mengenai perkembangan kasus Covid-19.

RK dan Anies satu suara ketika menyampaikan data kepada Ma"ruf Amin. Keduanya menyampaikan satu benang merah yang sama yakni jumlah positif Corona Covid-19 di lapangan jauh lebih besar dan berlipat-lipat dari data yang diungkapkan oleh pemerintah.

Anehnya, para buzzer yang menyerang Anies samasekali tidak menyerang RK, padahal RK begitu gamblang mengkritik Pusat. Pada titik ini, orang akan paham siapa mereka. Mereka adalah pasukan yang selalu berjaga 24 jam dibekali logistik yang kuat agar bisa selalu membully dan menyerang apapun yang dilakukan Anies. Mereka tidak bekerja sporadis. Mereka bekerja sistematis di bawah kendali "kakak pembina".

Untungnya Anies sabar tidak reaktif. Serangan terhadap dirinya dijawab dengan senyum. Ia matang ditempa dunia pergerakan sejak mahasiswa. Bekerja berpijak pada ide, konsep, lalu mengeksekusinya dengan tindakan. Jelas, runtut, dan terukur. Ia tidak asal ngomong. Ia bicara berbasis data. Tidak ada riwayat ia membantah omongannya sendiri atau dianulir oleh bawahannya. Anies membangun sistem pemerintahan modern dan memastikan sistem itu berjalan baik.

Anies sungguh paham bahwa pemerintahan adalah sebuah organisasi. Inti organisasi adalah kepemimpinan. Inti kepemimpinan adalah menyelaraskan ide, konsep, dan kerja. Bila ini tidak mampu dilakukan oleh seorang pemimpin maka organisasi akan berjalan zigzag -- ugal-ugalan.

Dalam situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, sudah seharusnya semua bersatu menghadapi bencana ini. Para buzzer harus menahan diri dari cara pandang politis dengan membabi-buta menyerang apapun yang dilakukan Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Kepentingan dan persaingan politik harus disingkirkan. Fokus pada upaya perlindungan dan penyelamatan masyarakat. Fokus membantu pencegahan dan menghentikan penyebaran virus ini.

Para buzzer jangan menjadi bencana yang merusak konsentrasi, bikin runyam keadaan, dan menularkan virus hoax di tengah bencana Covid-19.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #virus-corona  #anies-baswedan  #relawananies  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Idul Fitri 1441H Dharma Jaya
advertisement
Idul Fitri 1441H Mendagri Tito Karnavian
advertisement
Idul Fitri 1441H Yorrys Raweyai
advertisement
Idul Fitri 1441H Nasir Djamil
advertisement
Idul Fitri 1441H Sukamta
advertisement
Idul Fitri 1441H Irwan
advertisement
Idul Fitri 1441H Arsul Sani
advertisement
Idul Fitri 1441H Cucun Ahmad Syamsurijal
advertisement
Idul Fitri 1441H Abdul Wachid
advertisement
Idul Fitri 1441H Puteri Komarudin
advertisement
Idul Fitri 1441H Adies Kadir
advertisement
Idul Fitri 1441H Mohamad Hekal
advertisement
Idul Fitri 1441H Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Lainnya
Opini

Perekonomian Dunia Tidak Akan Sama Lagi dengan Sebelum Pandemi

Oleh Andi Rahmat, Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
pada hari Senin, 25 Mei 2020
Pandemi Covid-19, sebagaimana yang dinyatakan kolumnis CNN, Nic Robertson dalam artikelnya, “The Pandemic Could Reshape The World Order” (CNN,23/05/2020 ) bahwa pandemi tidak hanya ...
Opini

Tradisi Halal Bihalal dan Makna Kata Maaf Presiden

Mengapa di Indonesia ada tradisi #halalbihalal yang tidak ada di negeri lain? Tradisi Halal bihalal telah berdampak sosial & politik dalam masyarakat. Secara sosial kehidupan bernegara lebih cair ...