Oleh Sahlan Ake pada hari Rabu, 20 Mei 2020 - 12:20:35 WIB
Bagikan Berita ini :

Survei LKPI: Mayoritas Penerima Merasakan Manfaat Kartu Prakerja

tscom_news_photo_1589952035.jpg
Kartu Pra Kerja (Sumber foto : Ilustrasi)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Mayoritas penerima kartu Prakerja mengaku tidak menemukan kesulitan saat menyelesaikan tahapan pendaftaran Progran Kartu Prakerja.

Hal itu terlihat dari hasil survei yang dilakukan Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) dalam melihat pengalaman masyarakat penerima Program Kartu Prakerja

Merunut dari survei LKPI tersebut, 29,4 persen dari 514 responden mengaku tidak pernah mengalami kesulitan saat melakukan tahapan pendaftaran Kartu Prakerja, 24,9 persen hampir tidak pernah mengalami kesulitan, 23,7 persen biasa-biasa saja, dan hanya 10,7 persen yang mengaku mengalami kesulitan, serta 11,3 persen sering mengalami kesulitan.

Direktur Eksekutif LKPI Andri Maulana mengatakan, mayoritas penerima kartu Prakerja juga mengaku tidak menemukan kesulitan saat mengakses situs Program Kartu Prakerja.

"Kalau pakai angka dari 1 sampa 5, dimana angka 1 tidak pernah ada kesulitan, dan 5 sering mengalami kesulitan, mayoritas yakni 36,7 persen pilih angka 1 yakni tidak pernah mengalami kesulitan, sedangkan angka 2 ada 19,3 pesen, dan angka 3 sebanyak 23,6 persen. Sementara angka 4 sebanyak 13,9 persen dan angka 5 sebanyak 6,4 persen," kata Andri dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Rabu (20/5/2020).

Andri mengungkapkan, saat ditanyakan soal status pekerjaan pada bulan Januari 2020, dari 512 responden, mayoritas yakni sebanyak 64,8 persen mengaku masih bekerja sebagai pegawai, buruh atau karyawan. Sedangkan 8,4 persen memiliki usaha, dan 26,8 persen tidak bejerja atau berusaha.

"Sedangkan, saat ditanya apa pekerjaan anda saat ini, 78,9 persen mengatakan tidak bekerja atau berusaha, 15,2 persen masih bekerja, dan sisanya memiliki usaha," terang Andri.

Kemudian, responden ditanyakan apakah jenis pelatihan yang akhirnya dipilih sesuai atau sejalan dengan topik yang diminati, 84 persen menjawab iya, dan 16 persen menjawab tidak.

Selain itu, lanjut dia, dari 517 respondens yang ditanyakan apakah jenis pelatihan yang tersedia dalm kartu Prakerja sudah cukup beragam, mayoritas menjawab iya.

"Sebanyak 90,3 persen menjawab iya, sudah cukup beragam. Dan 9,7 0ersen mwnjawab tidak," sebut Andri.

Andri juga mengungkapkan, mayoritas responden sebanyak 52,6 persen dari 517 orang mengatakan kalau instruktur program kartu Prakerja memiliki pengetahuan yang memadai.

Dia menambahkan, sebanyak 61,4 persen responden mengatakan, jika pelatihan kartu prakerja akan meningkat efektivitasnya jika dilakukan secara offline.

Selain itu, mayoritas respondens mengatakan pelatihan yang telah/sedang dijalani efektif dalam meningkatkan kompetensi sebagai pekerja/pencari kerja atau wirausaha.

"Sebanyak 90,7 persen mengatakan pelatihan yang dijalani efektif, dan hanya 9,3 pwrsen menyebut tidak efekktif," terang Andri.

Namun, saat ditanyakan apakah insentif tunai sebanyak Rp 600 ribu sudah diterima peserta, hampir semua, yakni 96,7 persen menjawab belum. Meski demikian, mayoritas dari responden yaki 73,6 persen menyebut, jika manfaat biaya pelatihan yang dimiliki habis, mereka akan mengambil model pelatihan online lain baik yang berbayar maupun yang tidak.

Mayoritas mereka juga tidak setuju jika dikatakan program kartu pra kerja tidak bermanfaat.

"Saat ditanya Apakah anda setuju dengan pendapat jika program kartu pra kerja adalah program yang tidak ada manfaat/mubazir, 93,1 persen menjawab tidak setuju," ujarnya.

Untuk diketahui, Survei dilaksanakan pada 3 Mei-5 Mei 2020. Populasi survei adalah peserta program Kartu Prakerja dengan jumlah responden 1.315 yang merupakan penerima Kartu Pra Kerja.

Penarikan Sample mengunakan Metode Simple Random Sampling, dengan tingkat kepercayaan survei 95 perpsen serta Margin Of Error -/+ 2,7 persen.

tag: #jokowi  #kartu-pra-kerja  #partai-golkar  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Berita

Renovasi TIM dan Upaya Menutup Ruang Publik

Oleh Muslim Arbi Aktivis Demokrasi
pada hari Selasa, 07 Jul 2020
Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah Taman Budaya, Taman Peradaban, Taman Kesusasteraan, Taman Kumpul Para Aktivis. Di sana ada Akademi Seni, ada planetarium, Ruang Orasi, Ruang HB Yassin, Masjid Amir ...
Berita

Soal Kalung Antivirus Corona, DPR Minta Kementan Lakukan Penelitian Mendalam

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay mengatakan kalau kementerian pertanian perlu untuk melakukan penelitian lanjutan terkait dengan kalung antivirus corona yang hendak ...