Oleh Bachtiar pada hari Senin, 11 Jan 2021 - 10:41:21 WIB
Bagikan Berita ini :

Komisi VI DPR Dorong BUMN Pangan Perkuat Riset Kedelai

tscom_news_photo_1610336481.jpg
Amin Ak Politikus PKS (Sumber foto : Istimewa)


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak mengingatkan agar Menteri BUMN, Erick Thohir memperkuat riset dan pengembangan (R &D) pada BAdan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk BUMN Pangan pasca restrukturisasi.

Menurutnya, salah satu pekerjaan rumah yang mendesak bagi BUMN Pangan saat ini adalah mendongrak produktivitas kedelai lokal yang saat ini hanya separuh dari produktivitas kedelai impor.

“BUMN Pangan harus memperkuat riset kedelai dan bersinergi dengan perguruan tinggi maupun Litbang Pertanian untuk menghasilkan benih unggul. Saya dengar, Balitbang Pertanian sudah mampu menghasilkan benih dengan produktivitas 3-3,5 ton per ha, harusnya teknologi ini bisa diadopsi dan dikembangkan bersama,” ujar Politikus PKS itu Senin, (11/1/2021).

Selain problem produktivitas, kata dia, faktor harga jual di tingkat petani dinilai berpengaruh besar terhadap pengembangan kedelai lokal.

Oleh karena dianggap tidak menguntungkan, petani pun memilih menanam komoditas lain. Maka penguatan riset kedelai, kata Amin, juga harus didukung kebijakan yang bisa menghasilkan model budidaya kedelai yang efisien dan ekonomis.

“Efisiensi produksi akan menjadi insentif agar petani memperoleh pendapatan yang lebih baik, sehingga mereka bergairah menanam kedelai,” tandasnya.

Berdasarkan data BPS tahun 2017, biaya produksi kedelai berkisar antara Rp9 juta – Rp9,5 juta per ha. Jika produktivitas hanya 1,5 ton maka, biaya produksi per ton mencapai Rp6,3 juta atau sekitar Rp6.300 per kg. Sedangkan jika produktivitasnya mencapai 2 ton/ha, maka biaya produksi bisa ditekan menjadi Rp4,75 juta per ton atau Rp4.750 per kg.

Sementara itu, menurut data Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai impor di gudang Bulog sebelum terjadi kenaikan berkisar Rp6.000 – Rp7.000 per kg. Artinya jika ingin kompetitif, biaya produksi kedelai lokal idealnya dibawah Rp5.000 per kg, sehingga dengan harga jual Rp6.000–Rp7.000, maka petani sudah bisa untung.

Harga kedelai impor sendiri sejak Agustus lalu terus merangkak naik dari Rp8.200 per kg kini sudah mencapai Rp9.000 per kg. Kondisi ini, kata Amin, harusnya menjadi peluang bagi peningkatan produksi kedelai lokal.

Di sisi hilir, para pengrajin tahu dan tempe membutuhkan kedelai kualitas nomor wahid karena mempengaruhi efisiensi produksi. Seperti dikatakan Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syaifudin, kedelai kualitas pertama bisa menghasilkan 1,7 potong tempe per kilogram kedelai. Sedangkan kualitas kedua hanya menghasilkan tempe 1,5 potong per kilogram kedelai.

“Saya minta BUMN Pangan bekerja keras memperbaiki tata kelola bisnis kedelai, mulai dari model budidaya yang efisien hingga tata niaga yang menguntungkan petani maupun industri tahu dan tempe,” tandas Amin.

tag: #bumn  
Bagikan Berita ini :
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Advertisement
TStrending
#1
Berita

Pasca KLB Demokrat, Maju Kena Mundur Kena

Oleh
pada hari Senin, 08 Mar 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Hotel The Hill, Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat malam, ...
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement