Oleh Isti Nugroho pada hari Selasa, 02 Mar 2021 - 08:09:12 WIB
Bagikan Berita ini :

Raja Dzalim Selalu Ditentang Rakyat

tscom_news_photo_1614647352.jpeg
Isti Nugroho (Sumber foto : ist)

Saya menyukai drama. Sejak usia 15 tahun ikut main teater dan terlibat dalam pementasan tujuh belasan di kampung, tempat tinggal saya di Yogyakarta. Naskahnya boleh kurang baik, asal ngritik pemerintah. Walaupun naskahnya baik kalau tidak ada kritiknya, saya nilai bagus tapi anyep. Setiap tahun kami pasti memeriahkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Hari-hari besar lainnya kalau ada acara semacam tujuh belasan pasti saya isi pementasan teater atau ketoprak. Setiap mementaskan ketoprak, saya selalu memilih lakon-lakon yang heroik seperti Trunojoyo, Ronggo Lawe dan Mangir. Lakon-lakon yang tokohnya kalah, memberontak dan dibunuh. Trunojoyo melawan Mataram. Ronggo Lawe gugur karena memberontak Majapahit yang didirikannya bersama Raden Wijaya. Juga lakon Mangir, yang kepalanya pecah dijebleskan di atas batu gilang oleh Panembahan Senopati, mertuanya sendiri.

Para penguasa yang buruk selalu saya lukiskan dalam naskah saya secara kontradiktif. Apalagi penguasa yang menindas rakyat. Penguasa yang plin plan, eratik, meminjam istilah psikologi. Pribadi yang tidak fokus dan gampang berubah. Raja yang dzalim selalu ditentang oleh rakyatnya. Maka Trunojoyo, Ronggo Lawe dan Ki Ageng Mangir, adalah tipologi yang saya gandrungi. Walaupun mereka kalah tetap saya idolakan.

Bahkan karena seringnya mementaskan naskah dengan tema-tema pemberontakan, dan tokoh utamanya selalu kalah, seorang paranormal mengingatkan saya untuk siap kalah dalam kehidupan nyata. Dalam kehidupan politik kekuasaan jangan mudah menyerah, jangan mudah percaya pada politik yang selalu menghalalkan segala cara. Di dalam realitas kehidupan yang nyata selain bertarung, juga jangan malu menjilat. Kekuasaan butuh sanjungan. Walaupun kadang kekuasaan juga butuh kritik. Tetapi kritik yang konstruktif. Kritik yang seirama dengan yang dikritik. Kritik sebagai drama.

Barangkali Rocky Gerung tidak suka ketoprak atau teater. Tidak menulis naskah drama atau naskah ketoprak. Tapi sejauh yang saya dengar dan baca dari tulisannya yang berserakan di media, Rocky menulis naskah filsafat. Mirip dengan yang ditulis oleh penyair dan dramawan Inggris, George Villiers (1628-1687). Duke kedua dari Buckingham menulis bahwa isi dunia terutama terdiri dari kedunguan dan kebangsatan. Keduanya sama-sama menjadi penghalang kebenaran. Yang pertama menjadi budak kepercayaan buta dan fanatik. Yang kedua iri dan rakus pada kekuasaan. Gabungan keduanya meruntuhkan akal sehat. Soal akal sehat ini juga disinggung oleh Villers. Menjunjung akal sehat sudah menjadi topik dramawan Inggris, yang sejak kecil diasuh oleh ibunya yang lama menjanda.

Dramawan Inggris yang satiris itu memposisikan dirinya sebagai tukang kritik. Walaupun dia seorang yang lahir dari keluarga bangsawan, dan berkedudukan sebagai Adipati tetapi tulisannya sering mengolok-olok raja.

Kedunguan ternyata sudah menjadi bahasa kritik di abad 18. Ketika Villers dewasa, puisi dan naskah dramanya sering menggunakan kata dungu untuk menggambarkan ketidak-tahuan raja. Rocky barangkali tidak mengenal George Villiers. Tapi kritiknya menggunakan istilah dungu, sama dengan yang diucapkan Adipati Buckingham untuk menggambarkan orang yang sedang kuasa yang tidak peka pada masalah yang sedang dihadapi bangsanya.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Dompet Dhuafa: Sedekah Yatim
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Opini

Mari Kita "MELAWAN LUPA" Tagih Janji Jokowi Kampanye Pilpres 2014 : "Mau Tuntaskan Mega Skandal  BLBI" 

Oleh Sasmito Hadinegoro, Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN)
pada hari Sabtu, 17 Apr 2021
Hot News BLBI Gate Tim Keppres 2021 " Quo Vadis ? !" Catatan HMS untuk para Senior Ekonom Indonesia  Yth Bapak Prof. Dr. Sri Edi Swasono dan Drs Kwik Kian Gie Yth!  Sejak tahun ...
Opini

Puasa Melatih Daya Transendensi Dari Gravitasi Syahwat Bumi

Puasa melatih cara beragama secara dewasa. Beribadah bukan karena apa kata orang, melainkan apa kata nurani sendiri. Bermoral bukan karena paksaan dari luar, melainkan karena pancaran ketulusan dari ...