Oleh Yudi Latif pada hari Selasa, 14 Apr 2026 - 10:22:14 WIB
Bagikan Berita ini :

Politik Cerdas

tscom_news_photo_1776136934.jpg
(Sumber foto : )

Saudaraku, Indonesia telah membakar gunungan uang untuk politik pembodohan. Saatnya beralih menuju politik kecerdasan dengan menjalin hubungan sehat antara politik dan pendidikan.

Relasi mutualistis ini digambarkan William C. Kirby dalam Empire of Ideas. Universitas Berlin, pelopor universitas riset modern, didirikan (1810) sebagai senjata budaya untuk memperkuat negara Prussia pasca kalah perang dari Perancis (1806), dengan memperbaharui kuasa pengetahuan. Dalam sambutan pasca kekalahan, Raja Frederick William III mengatakan, "Negara harus menggantikan apa yang kalah dalam kekuatan fisik dengan kekuatan intelektual."

Begitu pun sejarah universitas di AS. Universitas tertua di negara itu, Universitas Harvard, untuk masa terpanjang abad pertamanya merupakan universitas negara (bagian). Meski berubah jadi universitas swasta, tetap mempertahankan komitmennya bagi tujuan kepublikan. Selama perang Dunia I dan II, universitas ini jadi tanki pemikir dan pemasok teknologi bagi kemenangan perang.

Di China, Universitas Tsinghua didirikan dengan misi kebijakan luar negeri: untuk mempererat hubungan AS dan China dengan mengirimkan alumni Tsinghua ke AS. Saat ini Tsinghua merupakan penerima talenta terbaik AS dan internasional yang cepat naik tangga jadi institusi pendidikan tinggi kelas dunia.

Untuk jaya dan makmur, suatu negara tak bisa memiliki (banyak) universitas miskin. Kapasitas suatu bangsa bisa saja diukur dengan PDB atau kekuatan militernya, namun tak bisa mengabaikan fakta pentingnya mutu pendidikan dan penelitian.

Kekuatan ekonomi dan politik global terhebat dalam tiga abad terakhir merupakan pemimpin dalam pengetahuan dan kesarjanaan. Perancis mendominasi Eropa secara lebih bertahan dengan kekuatan ide ketimbang kekuatan militer. Abad 19, Britania, Perancis dan Jerman melesat jadi kekuatan dunia, bersamaan dengan keunggulannya dalam dunia pendidikan dan pengetahuan. Begitu pun kejayaan Asia Timur dan daya resiliensi Iran saat ini.

Tak ada perbantahan antara rezim liberalis-kapitalis dan sosialis-komunis akan pentingnya pengetahuan. Mao meyakini, “Sebanyak apa pun mimpi kita, alam akan memberikannya sejauh ada pengetahuan.“

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Opini

Antara Isu Ijazah dan Dinamika Elite: Membaca Relasi Jusuf Kalla–Jokowi di Tengah Pergeseran Politik Nasional

Oleh Redaksi TeropongSenayan.com
pada hari Selasa, 14 Apr 2026
Isu mengenai ijazah Presiden Joko Widodo kembali menyeruak ke permukaan. Menariknya, dalam beberapa waktu terakhir, narasi ini mulai berkelindan dengan nama Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf ...
Opini

"Hantu" di Dasar Hormuz: Mengapa Armada Terkuat Dunia Takluk pada Teknologi 29 Meter?

*TEHERAN* – Ketegangan di Selat Hormuz telah memasuki babak baru yang lebih sunyi namun jauh lebih mematikan. Di balik retorika politik dan pamer kekuatan udara, sebuah ancaman asimetris sedang ...