Oleh Redaksi Teropongsenayan pada hari Jumat, 10 Apr 2026 - 20:35:23 WIB
Bagikan Berita ini :

Dunia di Ambang Kebangkrutan Logika: Menyoal Cengkeraman Oligarki dan Ilusi Demokrasi Global

tscom_news_photo_1775828123.jpeg
(Sumber foto : )

*JAKARTA*– Di tengah hiruk-pikuk konflik Timur Tengah dan ketegangan nuklir yang kian nyata, sebuah pertanyaan fundamental menyeruak di benak publik dunia: Apakah kita benar-benar sedang dipimpin oleh institusi demokrasi, ataukah dunia sebenarnya sedang berada dalam kendali penuh sekelompok kecil elit yang kita sebut oligarki?
Diskusi terbaru yang melibatkan pakar ekonomi global Jeffrey Sachs, psikolog Karim Bettache, dan analis Peter Beattie membuka tabir gelap yang selama ini jarang disentuh oleh media arus utama di Barat. Mereka memberikan peringatan keras bahwa dunia saat ini sedang dipimpin oleh "kegilaan" yang terstruktur.
*Oligarki dan Negara Keamanan (Security State)*
Pandangan masyarakat bahwa dunia dikontrol oleh oligarki bukanlah sekadar isapan jempol atau teori konspirasi tanpa dasar. Secara sosiologis, apa yang kita saksikan hari ini adalah manifestasi dari Power Elite—sebuah kolaborasi antara raksasa korporasi, elit politik, dan industri militer.
Jeffrey Sachs dalam diskusinya menegaskan bahwa di negara adidaya seperti Amerika Serikat, instrumen kekuasaan telah bergeser dari mandat rakyat ke tangan "Negara Keamanan" (CIA, NSA, dan kontraktor militer). Kebijakan luar negeri tidak lagi ditentukan di kotak suara, melainkan di ruang-ruang tertutup para pemilik modal yang meraup untung dari setiap peluru yang ditembakkan.
Inilah yang menjelaskan mengapa media arus utama dunia cenderung "bungkam" atau membatasi ruang bagi tokoh-tokoh kritis. Ada keterikatan kepentingan (regulatory capture) di mana media, regulator, dan pelaku industri berada dalam satu ekosistem yang sama. Mengundang sosok yang vokal menyerukan perdamaian berarti mengancam stabilitas "bisnis konflik" yang selama ini mereka pelihara.
*Psikologi Kekuasaan yang Abnormal*
Salah satu poin paling menggetarkan dalam diskusi tersebut adalah analisis mengenai kesehatan mental para pemimpin dunia. Bagaimana mungkin dunia yang dihuni miliaran jiwa digantungkan nasibnya pada individu yang menunjukkan tanda-tanda narsisme ganas (malignant narcissism) atau bahkan demensia?
Ketidakmampuan sistem demokrasi modern untuk melakukan filtrasi terhadap pemimpin yang tidak stabil secara psikologis adalah ancaman terbesar bagi kemanusiaan. Ketika kekuasaan absolut bertemu dengan impulsivitas tanpa kendali, risiko perang nuklir bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan ancaman harian.
*Eropa dan Hilangnya Kedaulatan*
Diskusi ini juga menyentuh posisi Eropa yang kini dianggap hanya sebagai "vassal" atau bawahan kepentingan AS melalui NATO. Ketiadaan suara independen dari benua yang memiliki sejarah peradaban panjang ini menunjukkan betapa kuatnya dominasi hegemoni global dalam melumpuhkan kedaulatan negara-negara berdaulat.
*Menuju Kesadaran Kolektif*
Realitas pahit ini menuntut kita untuk kembali ke jalur rasionalitas. Sebagaimana disinggung dalam diskusi, solusi global mungkin tidak lagi lahir dari pusat kekuasaan lama di Barat yang tengah mengalami degradasi moral dan politik. Munculnya kekuatan baru seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, China, South Africa) diharapkan mampu menjadi penyeimbang terhadap "kegilaan" unilateralisme.
Bagi Indonesia, fenomena ini adalah pengingat penting. Sebagai bangsa yang memegang prinsip politik luar negeri bebas-aktif, kita harus jeli melihat bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Demokrasi tanpa pengawasan terhadap oligarki hanyalah sebuah cangkang kosong.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah umat manusia mampu merebut kembali kendali dari tangan para oligarki, ataukah kita akan terus terlelap dalam ilusi demokrasi hingga "ledakan" itu benar-benar terjadi.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Opini

Analisis Strategis: Benarkah Pukulan Rudal Fath-360 Iran Lumpuhkan 60% Armada F-35 Israel?

Oleh Redaksi Teropongsenayan
pada hari Jumat, 10 Apr 2026
*TEROPONGSENAYAN* – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengejutkan dunia militer internasional. Sebuah laporan analisis strategis terbaru menyoroti klaim serangan ...
Opini

Krisis Api dan Air Republik

Saudaraku, kesuraman dan kelembaman yang mewarnai kehidupan Republik boleh jadi karena kita mengabaikan api dan air kebajikan publik. Apinya nalar sehat, airnya moral terpuji. Tanpa nalar dan moral ...