Bisnis
Oleh Bachtiar pada hari Selasa, 21 Jun 2016 - 06:28:30 WIB
Bagikan Berita ini :

Politisi Hanura Prihatin Harga Daging Terus Meroket

88sapi.jpg
Ilustrasi (Sumber foto : Istimewa)


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Hanura Miryam S. Haryani mengaku pesimis dengan harga daging sapi Rp. 80 ribu per kilogram yang dipatok pemerintah dapat terwujud.

Pasalnya, lanjut dia, hingga pertengahan ramadhan ini, belum terlihat ada tanda-tanda harga daging akan kembali normal seperti bulan-bulan sebelumnya.

"Bahkan saya prediksikan sepanjang bulan ramadhan harga daging akan terus melambung. Padahal konsumsi masyarakat terhadap daging di bulan ini meningkat signifikan," kata politisi Hanura ini di Kompleks Parlemen Jakarta, Senin (20/06/2016).

Hal tersebut terjadi, kata dia, karena kementerian perdagangan dan kementerian pertanian tidak mampu untuk mengendalikan masalah lonjakan harga tersebut.

Padahal, lanjut dia, masyarakat sangat berharap agar harga bahan pokok termasuk daging bisa tetap normal.

"Itu agar ibadah yang dilakukan tidak dibayang-bayangi harga kebutuhan yang terus tidak terkendali," tandas Miryam.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah dengan operasi pasarnya juga tak menghadirkan solusi sama sekali.

Menurutnya, tak terlihat dampak operasi pasar terhadap kendali harga bahan pokok di pasaran. Karenanya, ia meminta agar kebijakan tersebut di evaluasi.

"Ramadhan kali ini, saya melihat kita semua terjebak pada persoalan toleransi, semua saling hujat dan saling kritik siapa harus menghormati siapa. Padahal kalau kita melihat toleransi sebagai kajian yang menyeluruh maka perdebatan itu tak perlu ada," tandas Miryam.

Untuk itu, Waketum KADIN ini meminta agar pemerintah kembali menata persoalan impor serta penguatan peternakan dalam negeri.

Ia memandang potensi ketersediaan daging dalam negeri akan sangat mudah terpenuhi apabila negara mampu memberdayakan potensi dari peternak-peternak dalam negeri.

"Selama ini hal itu belum maksimal dilakukan dan kita sudah terlalu asyik melakukan impor karena dianggap tinggal mendatangkan saja. Padahal titik persoalannya bukan disitu, akhirnya dalam fase saat ini kita jadi pengimpor daging dan mengkonsumsinya tanpa bisa mengendalikan harganya, lagi-lagi masyarakat yang terkena dampaknya," pungkasnya. (icl)

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
PRAY SUMATRA
advertisement
We Stand For Palestinian
advertisement
DD MEMULIAKAN ANAK YATIM
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

Oleh Aris Eko
pada hari Selasa, 06 Jan 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...
Bisnis

Beli Gabah Petani Non Tunai, Bulog Targetkan Data Serapan Nasional Secara Langsung 2026

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Mulai 2026, Bulog menerapkan pembelian gabah petani secara digital atau non tunai. Selain untuk keamanan transaksi bagi para petani, pola ini ditargetkan bisa merekam ...