Opini
Oleh Asyari Usman (Wartawan Senior) pada hari Sabtu, 30 Sep 2017 - 10:22:58 WIB
Bagikan Berita ini :

Sejuta Perasaan dan Fakta Setelah Menyaksikan Film G30S/PKI

37IMG_20170201_194417.jpg
Asyari Usman (Wartawan Senior) (Sumber foto : Istimewa )

Alhamdulillah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan dukungannya terhadap imbauan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kepada rakyat agar tidak melupakan sejarah kelam bangsa dan negara yang terjadi di tahun 1965. Presiden ikut nonton bareng (nobar) film G30S/PKI di markas Korem Bogor.

Di mana-mana rakyat menghadiri nobar film Pengkhianatan G30S/PKI, baik yang diprakarsai oleh jajaran TNI maupun yang dilaksanakan oleh warga masyarakat secara swadaya.

Imbauan Jenderal Gatot sungguh sangat tepat. Meskipun sudah lebih setengah abad yang lalu peristiwa itu terjadi, setelah menonton film G30S/PKI itu melalui TVOne (satu-satu stasiun televisi yang bisa memahami bahaya komunisme-PKI), terasa peristiwa pemberontakan PKI yang dipimpin Letkol Untung itu belum begitu lama terjadi. Kepedihan yang dialami keluarga para jenderal yang dibunuh secara biadab oleh PKI, masih terasa sangat memilukan hati.

Sungguh tidak bisa dimengerti mengapa politisi PDIP, Ibu Eva Sundari, mengatakan bahwa ajakan nobar dari Jenderal Gatot dikatakannya bisa memecah belah TNI. Alhamdulillah, tidak ada sedikit pun pertanda perpecahan di tubuh TNI seperti yang dikatakan oleh Bu Eva. Sehingga, banyak orang yang malah balik merasakan bahwa pernyataan Bu Eva itu seolah-olah merefleksikan keinginan beliau agar TNI menjadi pecah. Tetapi, kita tetap berbaik duga bahwa Bu Eva tidak seperti itu.

Masyarakat menunjukkan antusias mereka. Di segenap penjuru negeri. Di mana ada “layar tancap” nobar, di situ warga datang berbondong-bondong. Sekali lagi kita bersyukur bahwa rakyat selalu menginginkan agar kisah kekejaman PKI diceritakan kepada generasi penerus dengan tujuan agar tindakan yang terkutuk itu cukuplah sekali saja terjadi.

Kita semua ingin menyatakan bahwa sejarah yang diceritakan oleh film G30S/PKI itu, membuat seluruh rakyat tidak nyaman. Kita sangat prihatin bahwa Bapak Bangsa, Presiden Soekarno, terimplikasikan secara negatif oleh pengkhianatan PKI. Banyak orang yang merasa tak enak terhadap fakta sejarah ini. Kita semua juga ikut tidak enak.

Setelah menonton film G30S/PKI, sangat wajar untuk kita ceritakan kepada generasi penerus tentang kelicikan PKI dalam melancarkan pemberontakan. Tentang kekejaman mereka. Tentang kesadisan mereka. Kita juga pantas menceritakan tentang kecepatan, kecekatan, dan ketangkasan TNI dalam menumpas PKI.

Inilah yang dimaksudkan oleh Jenderal Gatot ketika beliau mengajak pajurit TNI dan rakyat untuk membaca kembali sejarah kekejaman dan kekejian komunisme-PKI dengan menonton film Pengkhianatan G30S. Kita berharap agar saudara-saudara sebangsa yang keliru melihat ajakan Panglima itu, bisa memahami niat baik beliau.

Silang pendapat tentang film G30S/PKI, dan tentang ajakan menonton sejarah hitam ini, bisa menyulut sejuta “fakta” dan “perasaan”.

Fakta bahwa kita beruntung memiliki Panglima TNI yang mau menyadarkan rakyat meskipun beliau kemudian dicela sana-sini.

Perasaan bahwa kekejaman PKI di tahun 1965 itu, belum lama terjadi. Fakta bahwa akhir-akhir ini ada sekian banyak orang yang masih menginginkan kebangkitan komunisme. Perasaan bahwa suasana yang berlangsung di tahun 1965 itu, seolah-olah sedang hadir di tengah rakyat sekarang ini.

Fakta bahwa sisa-sisa PKI dan para ahli waris mereka berusaha keras untuk menghapuskan sejarah tentang kekejian mereka. Fakta bahwa kelompok-kelompok swadaya (LSM) selalu siap mendukung para pejuang pro-PKI yang ingin membersihkan nama mereka dan kemudian bangkit kembali di ranah politik Indonesia.

Perasaan dan sekaligus fakta bahwa kebijakan yang berjalan saat ini di Tanah Air memberikan “goodwill gesture” (isyarat niat baik) kepada komunisme-PKI.

Tak habis-habisnya perasaan dan fakta yang mengalir setelah menyaksikan film G30S/PKI malam tadi. Perasaan dan fakta biasanya beridiri berdampingan.

Dalam pengalaman hidup kita, tidak sedikit perasaan berubah menjadi fakta. Sedangkan fakta tak akan pernah beranjak dari tempatnya.(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Hari Santri: Menjaga Kemajemukan dan Membangun Nilai Kemandirian Bangsa

Oleh Antonius Benny Susetyo (Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP)
pada hari Jumat, 23 Okt 2020
Tanggal 22 oktober 2020  merupakan momen penting dan penuh dengan histori perjuangan karena bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Disebut sebagai histori perjuangan tidak lepas dari sejarah ...
Opini

Mahfud, Riwayatmu Kini

Menyedihkan menyaksikan penampilan Prof Mahfud MD dalam program Indonesia Lawyers Club ( ILC-TVOne) Selasa (20/10) malam. Menkopolhukam itu, begitu jauh dia berbicara untuk jarak yang begitu dekat: ...