Opini

Sebaiknya Gubernur Anies Tak Berlama-lama Bekerja Seorang Diri

Oleh Ariady Achmad pada hari Rabu, 17 Okt 2018 - 11:17:38 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

59ariady.jpg

Kolom bersama Ariady Achmad (Sumber foto : Sumber foto : Ilustrasi oleh Kuat Santosoa)

Lebih dari dua bulan, kursi Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta kosong, setelah secara de facto dan de jure ditinggal oleh Sandiaga Salahuddin Uno. Dua bulan lebih pula, Gubernur Anies Baswedan bekerja seorang diri di ruang kerjanya, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Sejatinya, Anies tak boleh berlama-lama bekerja seorang diri. Persoalan Jakarta terlalu besar jika hanya ditangani satu orang gubernur. Harus ada wakil gubernur, yang selalu siap melahirkan gagasan dan merealisasikannya demi kemaslahatan warga Ibu Kota.

Kehadiran wakil gubernur bukan semata meringankan beban kerja gubernur. Lebih dari itu, sosok sang wakil akan membantu sang gubernur menunaikan semua janjinya pada kontestasi Pilkada 2017. Apalagi, bukan cuma banyak, janji-janji itu juga terbilang cukup berat untuk diwujudkan seorang diri.

Dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan, ternyata ada 23 janji Anies (ketika itu masih berduet dengan Sandiaga) kala berlaga di pilkada tahun lalu. Beberapa janji itu diantaranya: memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar (KJP) dalam bentuk KJP Plus, menciptakan 200 ribu lapangan kerja baru, menghentikan reklamasi Teluk Jakarta, merealisasikan rencana kerja hingga 95 persen, membangun sistem transportasi dalam bentuk interkoneksi antarmoda, serta meningkatkan daya serap anggaran.

Sebagian janji telah tunai, sebagian dalam proses, dan sebagian belum terealisasi. Anies berpotensi kesulitan membayar semua janjinya bila bekerja seorang diri. Di titik inilah, saya melihat, pengisian kursi Wagub DKI adalah keniscayaan tak terhindarkan. Sesegara mungkin, kursi kosong itu harus diisi.

Terlalu berlebihan, menurut saya, bila ada pandangan bahwa pengisian kursi wagub bisa ditunda karena ada momentum lebih penting, yakni Pemilu 2019. Dalam hemat saya, pengisian kursi wagub juga teramat penting, karena menyangkut akuntabilitas pejabat publik kepada konstituen yang memilihnya serta masyarakat yang dipimpinnya. Terlebih, ada sederet janji yang harus dipertanggungjawabkan realisasinya kepada publik.

Lalu, siapa yang layak mengisi kursi Wagub DKI? Satu-dua nama disebut-sebut berpeluang besar sebagai kandidat. Dari nama-nama itu, tentu yang sejalan dengan Gubernur Anies lah yang paling berpeluang. Sang kandidat wagub harus sejalan dengan sang gubernur, terutama dalam menunaikan janji-janji kampanye.

Kader Partai Gerindra memungkinkan menjadi kandidat terkuat, karena kursi wagub sebelumnya diisi oleh Sandiaga, yang ketika meninggalkannya masih berstatus sebagai kader Partai Gerindra. Peluang serupa juga terbuka untuk kader PKS, karena jasanya sebagai partai pengusung Anies-Sandi pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Namun toh, siapa pun kandidat itu, hasil akhirnya tetap menungggu 'signal' persetujuan dan anggukan sang gubernur, Anies Baswedan. (*)

tag: #dki-jakarta  

Bagikan Berita ini :