Opini

Mengukur Kesaktian 'Sihir' Jokowi dan Strategi Prabowo

Oleh ; Supriyatno Yudi (Praktisi media dan komunikasi publik) pada hari Senin, 21 Jan 2019 - 10:04:01 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

73IMG_20190118_130759-780x405.jpg.jpg

Jokowi-Ma'ruf Ami, Ketua KPU Arief Bidiman dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (Sumber foto : Ist)

Sabtu, 16 Oktober 2004, menjadi tengara salah satu ‘sihir’ di dunia sepakbola. Debut Lionel Messi di tim senior Barcelona dimulai. Inilah kali pertama Frank Rijkaart, sang pelatih, memainkan Messi. Berikutnya, gocekan dan gol pemain berjuluk La Pulga ini bak sihir tiada henti. Mengagumkan sekaligus menghibur.

Selang beberapa bulan dari debut Messi, Rabu, 23 Maret 2005, sejarah baru Joko Widodo (Jokowi) di kancah politik elektoral dimulai. Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) itu memenangkan konvensi calon walikota yang digelar PDIP Solo. Ia berpasangan dengan ketua DPC PDIP Solo, Hadi Rudyatmo.

Jokowi pun akhirnya sukses meraih suara terbanyak pada pilwakot yang digelar 27 Juni 2005. Kiprah Jokowi sebagai walikota pun dipandang moncer. Ia kembali memenangkan Pilwakot untuk periode kedua (2010).

Hanya selang dua tahun, Jokowi kembali memenangkan kontestasi politik pada Pilgub DKI Jakarta (2012). Jokowi sukses ‘menyihir’ ibukota mengalahkan petahana, Fauzi Bowo. Hanya dua tahun ia menjabat gubernur DKI Jakarta. Pada 2014 gocekan Jokowi pun menyihir Indonesia. Ia terpilih sebagai presiden RI.

Pada pilpres 2019 masih ampuhkah ‘sihir’ Jokowi? Untuk kalangan melek informasi, tampaknya mulai memudar. Beberapa polling di sosial media, pengamatan drone emprit, dan hasil survei Median menunjukkan bahwa Prabowo unggul dibanding Jokowi.

Janji Jokowi pada 2014 banyak yang diingkari. Publik dulu gegap gempita menyambut janji stop impor ala Jokowi. Masyarakat dulu tersihir dengan proyek Esemka sebagai mobnas. Rakyat termehek-mehek dengan ikrar Jokowi yang tak akan menaikkan BBM. Namun, untuk kalangan melek informasi ‘sihir’ itu kini telah memudar.

Kalangan emak-emak yang dulu termakan jargon ‘Jokowi-JK adalah kita’ pun merasa terkhianati. Jualan kedekatan itu kini membuat emak-emak sakit hati. Karena ‘kita’ (sejahtera) ternyata bukan untuk emak-emak, tapi untuk golongan tertentu saja. Mungkin untuk asing, mungkin partai tertentu.

Cinta emak-emak kini telah berpindah ke lain hati. Si ganteng, ramah, dan pengertian lah aktornya. ‘Sihir’ Sandiaga Uno jauh lebih natural dan menyegarkan. Ia terjun ke lapangan begitu natural, tanpa setting lapangan yang berlebihan seperti Jokowi.

Multitalenta yang dimiliki Sandiaga lah yang membuatnya begitu natural. Ia benar-benar berlari, berenang, bersepeda, senam, bermain gitar hingga mengutip ayat dengan benar.

Bandingkan dengan Jokowi yang memaksakan diri untuk bercitra Islami. Sehingga, alfatikhah menjadi alpateka; dan jainuddin yahtirom menjadi jaenudin nachiro. Ke lokasi bencana malah bersesi foto. Menjenguk orang sakit, eh membawa kru lengkap dengan sutradara (pengarah gaya) bak hendak shooting sinetron.

‘Sihir’ Jokowi kini hanya tersisa di kalangan menengah ke bawah, pedesaan, belum tersentuh sosmed, dan suka menonton TV. Beberapa survey pun mengkonfirmasi hal ini. Maklum, semua TV kini dibawah kendali rezim. Mereka lebih banyak dijejali konten Jokowi.

Prabowo, sebagai komandan perang, tentu paham situasi itu. Medan pertempuran yang sesungguhnya adalah mereka yang hanya mendapat informasi dari TV. Debat yang disiarkan TV tentu akan dimanfaatkan maksimal oleh Prabowo.

Strategi Prabowo dimulai dari pidato kebangsaan. Ia berpidato dengan garang. Mengkritik dengan tajam. Hampir semua bidang ia bidik, koreksi dan kupas habis. Tanpa sisa, seolah peluru dimuntahkan semuanya.

Ia sadar paling hanya beberapa TV saja yang akan menyiarkan pidatonya. Itu pun tidak mungkin disiarkan secara lengkap, seperti tayangan ‘Visi Presiden’ ala Jokowi yang serempak disirkan TV karena blocking time. Parbowo tahu diri tidak punya cukup dana untuk blocking time.

Bukan banyaknya dan lengkapnya siaran TV yang ia bidik. Prabowo hanya melakukan prakondisi sebelum debat. Ia ingin membuat lawannya baper, dan khawatir akan diserang habis seperti saat pidato kebangsaan.

Dengan kondisi mental lawan yang jatuh, diharapkan lawan gundah gulana menghadapi debat dan akan melakukan mekanisme penyerangan. Upaya Prabowo tampaknya jitu. Air muka Jokowi dan Ma’ruf Amin terlihat tegang memasuki arena debat. Sementara Prabowo-Sandi tampak rileks. Se-rileks melayani selfie Mbak Puan dan Ibu Mega. Penuh senyum yang merekah.

Sepanjang debat Prabowo-Sandi begitu rileks, santun, dan sempat berjoget serta memijit. Sungguh pemandangan diluar dugaan, bahkan oleh timses dan Sandiaga sendiri. Sandiaga mengaku terkejut ketika Prabowo melarang untuk membalas serangan penegakan hukum dan HAM kasus Novel Baswedan.

Amien Rais, timses nomor 02, mengungkapkan kekecewaan secara halus dengan mengatakan “Prabowo tampil terlalu santun.” Lalu, Nanik Deyang, juga timses 02, di status facebook mengaku hanya menghela nafas, ketika usai debat, menanyakan kenapa Prabowo tidak menyerang balik soal partai korupsi. Jawaban Prabowo “Saya tidak tega.”

Benarkah Prabowo tidak tega? Bisa jadi. Namun, dalam konteks meraih simpati pemilih tampaknya bukan itu alasan Prabowo. Ia sedang menjalankan strategi untuk meraih simpati “Pemilih menengah kebawah dari pedesaan yang belum tersentuh internet dan hanya menonton TV.”

Itulah target utama Prabowo. Ia berani mengambil resiko para pendukungnya kecewa, karena ia tahu betul para pendukungnya tidak akan lompat pagar.
Secara psikososial target utama yang dibidik Parabowo adalah orang yang suka kesantunan, bicara lembut, mimik muka manis dan rileks. Mereka tidak suka seseorang yang bicara dengan ngotot, nada tinggi, dan menyerang lawan tanpa ampun. Mereka juga bersimpati kepada orang yang diserang tanpa ampun.

Strategi itu tampaknya berjalan mulus. Jokowi hadir ke lokasi debat dengan tegang (sudah terintimidasi dengan pidato kebangsaan Prabowo) tampil menyerang PRIBADI Prabowo melalui serangan ke Partai Gerindra. Pertanyaan yang sebenarnya di luar konteks debat.

Sempat terbesit ketika Jokowi mengutarakan pertanyaan, terlebih di pertanyaan kedua, Prabowo tampaknya akan membalas dengan nada tinggi. Ternyata tidak, Prabowo cukup tenang, bahkan sempat beradegan joget.

Benarkah ini bagian dari strategi Prabowo, demi semakin memudarkan ‘sihir’ Jokowi? Bisa ya, bisa tidak. Mari kita lihat adegan pada debat berikutnya.

Yang jelas, jika Jokowi ingin memenangkan pertempuran ia harus tampil dengan gocekan yang sesungguhnya. Bukan polesan, make up, apalagi hanya mengikuti pengarah gaya. Ia harus tampil seperti Messi, terus menyihir dengan gocekan bukan tipuan. (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #jokowi  #pilpres-2019  #prabowo-subianto  

Bagikan Berita ini :