Opini

Batu Nisan Jokowi

Oleh ; Radhar Tribaskoro (Budayawan) pada hari Senin, 21 Jan 2019 - 10:59:28 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

39fba36ae-ec6e-42e9-8096-da42a3620e8c_169.jpeg.jpeg

Jokowi (Sumber foto : Ist)

Selama enam tahun lebih berada di dunia maya tidak lelahnya saya meminta orang fokus kepada "messages, not messenger". Saya ingin percakapan di media sosial menjadi percakapan yang mencerahkan. Harapannya, orang akan saling bertukar perspektif. Jurang perbedaan dijembatani, orang saling kenal, orang saling belajar, satu dengan lainnya. 

Sebaliknya kalau anda fokus membahas "messenger", "orang", atau "pribadi pembawa pesan", maka yang terjadi adalah saling hina-menghina. Bullying. Akibatnya, perbedaan menjauh, permusuhan menjenuh. 

Salah satu contoh yang populer dari perilaku bullying ini terjadi dalam kasus penistaan oleh Ahok. Kaum muslimin mengangkat persoalan itu ke dalam wacana, membahas topiknya mulai dari sisi diksi, etimologi, sosial dan agama. Pembahasan itu dilakukan di media sosial maupun di dalam lembaga peradilan dengan melibatkan saksi-saksi sangat terpelajar. Ketika elaborasi tersebut berakhir dengan Ahok dinyatakan bersalah, kubu Ahoker dan Jokower justru meledak. 

Setelah putusan pengadilan itu, bukannya berefleksi mereka malah melancarkan tuduhan bahwa ada "perang agama", "perang rasial", "perang melawan intoleransi". 

Perilaku bullying kemudian merajalela. Konsekuensi perilaku itu adalah membuncahnya sikap diskriminatif. Dimulai dari pembentukan "kami" dan "mereka". Selanjutnya diskriminasi itu mereka beri justifikasi moral: "kami benar" dan "mereka salah", "kami pancasila" dan "mereka anti-pancasila", "kami toleran" dan "mereka intoleran".

Kemudian terjadi kontradiksi. Pihak yang melakukan diskriminasi malah menyatakan bahwa mereka adalah pihak yang toleran. Mereka mengejar-ngejar pihak emak-emak yang mau deklarasi. Polisi dikerahkan dimana-mana untuk menjaring orang-orang dengan tuduhan yang tidak terbukti, dan memudahkan orang-orang yang mempersekusi ulama dan beroposisi kepada petahana. 

Adanya kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa pembedaan-pembedaan yang dibikin bersifat artifisial. Pembedaan itu dibikin untuk tujuan politik, sehingga argumentasinya dangkal. Tidak bisa menjadi argumen hukum dan jauh dari argumentasi yang bersifat akademis dan filosofis.

Konsekuensi dari pikiran-pikiran dangkal adalah munculnya kontradiksi-kontradiksi baru. Sebagai contoh, "suara azan" dianggap sebagai bentuk intoleransi. Padahal "suara azan" sudah hadir jauh sebelum tamu "anti-azan" datang. Kontradiksi  muncul pada problem siapa yang harus menyesuaikan diri: tuan rumah atau tamunya, mayoritas atau minoritas?

Kontradiksi lain, para jokower ini menuntut agar orang indonesia menanggalkan "agama dan keberagamaannya" ketika berpolitik. Mereka menganggap agama adalah ornamen yang bisa dilepas-pasang seenaknya. Pandangan macam apa itu? Bahkan dalam doktrin sekulerisme tidak ada pemikiran seperti itu. 

Sekulerisme itu berkenaan dengan penggunaan prinsip dan metoda sains dalam proses pengambil-keputusan publik. Sekulerisme tidak menyuruh orang beragama untuk meninggalkan nilai-nilai dan ritual agama. Di dunia barat dimana sekulerisme dianggap normal tidak ada larangan memilih pemimpin berdasarkan agama atau warna kulitnya. Di sana partai agama (kristen) hadir dimana-mana, hadir di hampir semua negara di dunia. Di Indonesia saja ada 10 partai kristen, antara lain  Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Partai Kristen Demokrat, Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia (PKDI), Partai Demokrasi Kristen Nasional, Partai Demokrasi Kasih Bangsa, Partai Anugerah Demokrat, Partai Kemerdekaan Rakyat dan Partai Kristen Nasional.

Ada banyak kontradiksi lain, misalnya bagaimana minoritas 1,4% bisa menguasai ekonomi dan mendominasi kekayaan bangsa? Tetapi di sini bukan tempat untuk mengurai itu semua. Yang jelas kontradiksi2 itu mengakibatkan kubu Jokower kehilangan basis intelektualnya. Mereka terus menerus kelabakan terutama ketika pikiran-pikiran mereka diuji oleh rasionalitas sekelas Rocky Gerung. Saking kesal sebab selalu ditimpa oleh pikiran-pikiran dangkal Rocky Gerung menyebut jokower sebagai kecebong dungu. Sementara itu di media sosial pikiran-pikiran dungu itu diluluh-lantakkan oleh kecerdasan publik. Last but not least, tanpa content yang kokoh strategi media sosial Jokowi, yang didukung ratusan buzzer dan pernah berjaya di 2014, belakangan hancur tidak berdaya.

Keterpurukan Jokower ini tidak menjadi lebih baik setelah dalam debat 17/1/19 Jokowi gagal menunjukkan dirinya sebagai negarawan. 

Negarawan adalah politikus plus moralitas. Sebagaimana layaknya politikus seorang negarawan memperjuangkan jabatannya. Tetapi berbeda dengan politikus biasa seorang negarawan menginginkan kemenangan dengan mengedepankan moral. Moralitas politik yang terpenting adalah menempatkan kepentingan negara (rakyat) di atas kepentingan sendiri (partikular). Di dalam konteks ini seorang negarawan tidak mungkin mendahulukan "messenger" ketimbang "messages"nya. Seorang negarawan akan mengutamakan menyampaikan pikiran2nya tentang masa depan bangsanya dan bagaimana kepemimpinannya akan memudahkan pencapaiannya.

Jokowi menunjukkan bahwa ia sekadar politikus biasa. Jokowi memilih untuk menyerang pribadi Prabowo, bukan membahas persoalan bangsa. Secara moral Jokowi tidak menunjukkan perbedaan antara dirinya dengan para pengikutnya. 

Begitulah, Jokowi sedang menulis di batu nisan kuburannya sendiri.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #jokowi  #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :