Opini

Ridwan Kamil Bukan Jawa Barat

Oleh Miftah H. Yusufpati (Wartawan Senior) pada hari Sabtu, 23 Feb 2019 - 13:45:31 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1550904331.jpg

Atalia Praratya kerap menemani Ridwan Kamil saat mendukung Persib Bandung. (Sumber foto : Ist)

RIDWAN Kamil sukses mengidentikkan dirinya sebagai Jokma (Jokowi-Makruf), di tahun politik ini. Namun, sebagai Gubernur Jawa Barat, ia gagal menyerap aspirasi politik rakyatnya. Emil—begitu dia biasa disapa—masuk dalam pusaran besar mayoritas pendukung calon presiden (Capres) Prabowo. 

Ketika bersama sang istri datang ke Stadion Jalak Harupat untuk nonton Persib Bandung vs Arema FC, 18 Februari lalu, dia disambut ratusan Bobotoh dengan teriakan “Prabowo! Prabowo! Prabowo!”. Video tentang peristiwa itu viral di media sosial, di dunia yang menurut Presiden Jokowi “penuh fitnah”. Raut wajah sepasang suami istri yang terhormat itu merah padam. Sebuah foto merekam wajah Emil dan pasangannya yang kaku, tanpa senyum. Dia duduk di kursi penonton dengan tatapan mata kosong. Hari itu Jalak Harupat menggemakan “Prabowo!”. Sebagai orang nomor satu di Jabar, wajah Emil bak diludahi rakyatnya sendiri. 

Itu di dunia nyata. Perundungan atawa bullying terhadap Emil berlanjut di dunia maya. Di Instagram, Emil memosting foto dirinya, bersama sang istri. Lalu dia menulis status begini: "Nyetadion mendukung #PersibDay di Jalak Harupat bersama @ataliaapr bukan @viavalen. Semoga Tahun ini prestasi Maung Bandung lebih baik Aamin." 

Status yang seharusnya biasa-biasa saja bagi warga kebanyakan itu, menjadi pintu bagi dirinya untuk dirudung. 

Status Emil mengundang banjir komentar. Ketika tulisan ini dibuat, 11.000 lebih komentar yang masuk. Dan komentar yang paling dominan adalah: Prabowo, Prabowo, Prabowo … “Kami warga Jawa Barat bersama Prabowo, Salam akal sehat,” tulis seorang IGers. 

Akal sehat? Bagi rakyat Jawa Barat, akal sehat adalah mendukung Prabowo. Itu yang membedakan dengan diri Emil. Tengok saja status Emil tak lama setelah dirinya dilantik menjadi gubernur. "2014 sy dukung pak PS. Sy kerja ketua timses BDG. Menang 29 dari 30 Kcmatan. Sy bikin testimoni. Bantu partainya. Jg bela beliau soal fitnah mahar. Itu cara sy balas budi. Namun Pilgub ini sy tdk didukung beliau, wajar orientasi politik pun bergeser. Itu ada & akal sehat sy ...." 

Akal sehat Emil memang bukan representasi akal sehat rakyat Jawa Barat. Dukungan yang diraih saat memenangkan pilkada tahun lalu tidaklah banyak. Benar, Emil menang dalam Pilkada Jawa Barat, namun ia hanya bisa meraih 7,2 juta suara. Jumlah itu amat kecil dibanding jumlah pemilih di Bumi Priangan yang pada tahun lalu sebanyak 31,7 juta. 

Pada Pilpres 2014, Pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendulang 14,2 juta suara atau 59,5% dari suara sah. Sementara pasangan Joko Widodo -Jusuf Kalla hanya mendapatkan 9,5 juta atau setara 40,22%. Total jumlah pengguna hak suara kala itu sebanyak 24 juta. 

Melihat angka-angka itu mestinya Emil sadar, bahwa dirinya tidak segagah jabatannya. Emil terlalu kecil untuk Jawa Barat, bahkan untuk di Jalak Harupat pun ia minoritas: Prabowo, Prabowo, Prabowo… Suara itu menggaung di seluruh Jawa Barat. end (*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  #prabowo-subianto  #ridwan-kamil  

Bagikan Berita ini :