Editorial

Untuk Apa Berpartai Kalau Gagal ke Senayan

Oleh Pamudji Slamet pada hari Rabu, 27 Mar 2019 - 10:12:44 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1553656364.jpg

Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (Sumber foto : ist)

Hari-hari terakhir, lembaga survei berlomba mempublikasikan hasil surveinya. Tak cuma capres/cawapres, angka-angka survei juga menyentuh elektabilitas partai politik.

Kabar buruknya,  terdapat beberapa partai yang diprediksi gagal melenggang ke Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Itu karena partai bersangkutan tak mampu menembus besaran 4% parliementary threshold.

Bukan hanya partai baru, beberapa partai lama juga masuk dalam prediksi tersebut. Elektabilitas partai-partai ini memang memiriskan dada. Bayangkan, ada partai yang tingkat elektabilitasnya di bawah 1%. Sungguh jauh dari batasan 4% parliementary threshold. Di sisi lain, diantara partai-partai itu ada yang elektabilitasnya di atas 3,5%, namun belum menyentuh 4%.

Hanya saja, sekali lagi hanya saja, itu adalah prediksi berdasarkan survei.Tepatnya, survei oleh lembaga survei.Tentu, hasilnya tidak berbanding lurus dengan survei internal partai.Apalagi, lembaga survei juga tidak berani menyimpulkan bahwa prediksinya adalah sebuah kepastian.

Selama itu belum pasti, tak usah kecil hati. Partai-partai yang diramal gagal ke Senayan, terus saja berproses. Teruslah bergerak menjalankan fungsi partai. Satu lagi, hindari kegaduhan, serta jauhi sensasi. Saat bersamaan, dekati rakyat dengan cara-cara bermartabat.

Kembali sajalah ke tujuan awal membangun dan membesarkan partai. Apa itu? apalagi kalau bukan memberi jalan keluar atas masalah bangsa. Agar tujuan awal itu tercapai, maka partai harus lolos dulu ke Senayan. Sebab, Kompleks Parlemen Senayan lah, tempat paling strategis bagi partai untuk menyelesaikan masalah bangsa. Kalau gagal ke Senayan, ya untuk apa berpartai. Maka, jangan gagal. Sekali lagi, jangan gagal.(*)

tag: #pemilu-2019  

Bagikan Berita ini :