Opini
Oleh Chazali H. Situmorang (Pemerhati Kebijakan Publik) pada hari Rabu, 22 Mei 2019 - 04:17:34 WIB
Bagikan Berita ini :

Buah Keputusan KPU: "Perang" Demonstran Lawan Polisi

tscom_news_photo_1558473454.jpg
Suasana di Jalan Wahid Hasyim arah Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019) dini hari. (Sumber foto : Ist)

Sejak pukul 12.00 malam sampai pukul 02.00 pagi 22 Mei 2019, saya melek terus menonton “pertempuran” antara Polisi dengan demonstrans di depan Bawaslu. Polisi menghimbau secara baik-baik via pengeras suara agar para demonstrans bubar, dan kembali ketempatnya masing-masing.

Para demonstrans tetap ngeyel inign bertahan ditempat. Sepertinya mereka ingin sahur sekalian di jalan Thamrin depan Bawaslu.Karena sudah dimulai dengan sholat Isya dan Sholat Tarawih.

Terlihat strategi demonstrans memanfaatkan malam hari, karena mungkin energi sudah penuh terisi. Jika siang hari mungkin suasana puasa, stamina akan menurun.

Hampir jam 02.30 dini hari 22 Mei 2019, letusan gas air mata, dengan nyala api di udara persis petasan masih berlangsung, untuk mengusir para demonstrans, termasuk yang sudah terdesak di Tanah Abang. Demonstrans tidak kalah melawan dengan batu, bom molotov, petasan. Sepertinya ingin menunjukkan gaya militansi Intifadah Palestina dalam melawan tentara Israel.

Inilah situasi dari buah hasil keputusan KPU, dini hari pukul 01.45 21 Mei 2019 yang menimbulkan ketidak puasan rakyat pendukung Paslon 02, karena merasa di “curangi” secara masif, terstruktur, dan sistematis.

Sebenarnya, Negara sudah menyiapkan chanel untuk mengadili kecurangan dan ketidak jujuran yang dilakukan secara TSM dalam proses Pemilu yang diselenggarakan KPU, yaitu melalui Pengadilan Mahkamah Konstitusi.

Persoalannya, adalah sudah terbangun distrust dalam benak rakyat, khusunya pendukung dan pemilih Paslon 02, terhadap MK, berdasarkan pengalaman sidang di MK pada Pemilu 2014, dimana pihak MK, tidak tegak lurus dalam melaksanakan keputusan Majelis Hakim MK.

Sekarang ini, terlihat adu kekuatan antara kekuatan demonstrans, berupakekuatan yang sulit diduga, karena datang dari berbagai penjuru angin, walaupun sudah coba dicegat oleh pihak Polisi, dititik-titik pintu masuk jakarta. Dengan Polisi yang didukung Brimob senjata canggih peluru gas air mata, dengan mobil pengurai masa, watercannon dan tongkrongan baracuda yang sangar dan menciutkan hati mereka yang tidak punya jiwa militansi.

Bentrokan tidak dapat dihindari, karena Polisi mendesak demonstrans membubarkan diri, karena sudah malam hari. Batas waktu demonstrans adalah sore hari jam 18.00 Wib.

Minta dispensasi untuk sholat maghrib dan Isya, Polisi mengalah, tetapi mereka rupanya tidak mau bubar, inign bertahan. Boleh jadi ingin tidur di aspal jalan.


Pihak Polisi tidak membolehkan mereka terus bertahan di depan Bawaslu, terjadilah bentrokan, suara letusan bertubi-tubi dengan peluru gas air mata.Ada sepeda motor Polisi ikut menghalau. Tapi rupanya demonstrans nyalinya lumaya kuat, tidak ciut bahkan melawan dengan lemparan batu, bom molotov, dan ada juga petasan.

Kenapa bentrokan harus terjadi?

Polisi seharusnya memahami situasi psikologis massa yang berkumpul di depan Bawaslu. Mereka mungkin dalam suasana batin yang meradang atas “kesewenangan” KPU dalam melakukan penghitungan suara.

Karena di malam hari, lalu lintas sudah sunyi, dan jalan dapat ditutup. Biarkan saja mereka para mendemo itu, berkerumun di depan Bawaslu, silahkan berorasi. Polisi cukup menjaga, dan mengawalnya, untuk mencegah gerakan yang bersifat merusak.

Silahkan mereka tidur dan duduk-duduk di atas aspal yang hangat. Jam 03,00 pagi mereka makan sahur, dan dilanjutkan sholat Subuh. Habis itu mereka mengantuk dan ingin pulang mandi dan tidur. Polisinya juga bisa istirahat.

Polisi sebagai Pengayom Masyarakat, berikanlah mereka perlindungan dalam berdemonstrasi, sebab unjuk rasa di jamin oleh Konstitusi. Kehadiran Polisi dalam setiap terjadinya unjuk raksa lebih pada memastikan apakah unjuk rasa yang dilakukan itu merusak atau tidak. Membahayakan masyarakat lainnya atau tidak.

Jika tidak, kawal mereka. Jangan ada penangkapan. Sebab penangkapan memicu adrenalin pendemo untuk menjadi beringas. Sebab para demonstrans itu solidarity dan militansinya tinggi.

Semoga Polisi dalam menghadapi demonstras hari-hari berikut ini, dapat lebih persuasif. Tidak perlulah ditunjukkan pasukan dengan seragam model Transformer dengan menyandang senjata canggih.

Gunakan saja pentungan, atau rotan untuk memukul mereka yang bandel, dengan tidak membahayakan tubuh demonstrans. Sebab mereka bukan teroris, tetapi bagian rakyat yang menuntut kejujuran dan keadilan dari penyelenggara negara dalam proses Pemilu.

Cibubur, 22 Mei 2019 (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #pilpres-2019  #kpu  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Perangai Pongah Warga Menteng

Oleh Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru
pada hari Rabu, 08 Jul 2020
Menteng dikenal sebagai lokasi paling elit di Jakarta. Harga tanah/rumah di Menteng dikenal tertinggi, begitu juga PBBnya. Sejarahnya, penghuni kawasan Menteng diawali oleh elit Belanda, elit Jepang, ...
Opini

Ideologi Gatot Nurmantyo, Anti Komunis Tak Bisa Ditawar

Berbagai orang saling memposting potongan wawancara Rosi Kompas TV dengan Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI, terkait kebangkitan Komunisme di Indonesia. Video itu ternyata viral bersamaan dengan ...