Oleh Sahlan Ake pada hari Senin, 08 Jun 2020 - 11:28:08 WIB
Bagikan Berita ini :

KontraS Nilai Keterlibatan TNI dalam Penanganan Terorisme Terlalu Berlebihan

tscom_news_photo_1591590488.jpg
TNI (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYA) --Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Malik Ferry Kusuma meminta pemerintah agar merevisi Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) TNI dalam menangani terorisme karena akan memberikan peran yang luas bagi TNI.

"Rancangan Perpres ini terlalu melampaui tugas pokok TNI, sehingga harus direvisi," kata Ferry, di Jakarta, Senin (8/6/2020).

Ia menilai Perpres pelibatan TNI dalam pemberantasan terorisme bertentangan dengan aturan hukum dan berimplikasi rusaknya sistem peradilan pidana di Indonesia, mengingat TNI tidak tunduk pada peradilan umum.

Selain itu, Ferry juga mengkritisi rancangan Perpres tersebut karena tidak mengatur kapan, dimana, dan dalam waktu apa serta kondisi seperti apa TNI dilibatkan dalam penanganan terorisme.

"Kalau melihat dari pengalaman, negara kita ini belum ada situasi yang mendesak melibatkan TNI dalam penanganan terorisme," ucapnya.

Dia menjelaskan, ada dua model pelibatan TNI. Model pertama militer penuh, seperti Amerika terhadap Afganistan dan Osama Bin Laden. Sedang model kedua sifatnya perbantuan dan model ini dianggap paling tepat bagi Indonesia, perbantuan TNI terhadap Polri.

Ferry menekankan bahwa tugas-tugas TNI sesuai tertuang dalam rancangan Perpres tersebut justru tumpang tindih dengan institusi lain, baik itu Polri maupun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Dia pun sepakat terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan merupakan kejahatan luar biasa.

Tetapi, pola pendekatan dilakukan dalam penanganannya jangan sampai aparat negara menggunakan cara berimplikasi pada pelanggaran hukum, pelanggaran hak asasi manusia.

"Di sini poin penting kita untuk mengingatkan rancangan perpres ini tidak tepat. Itu merusak sektor reformasi keamanan, khususnya TNI," ucapFerry.

Ferry pun meminta agar DPR meminta pemerintah merevisi Perpres tersebut pasal demi pasal yang kewenangan terlalu jauh melebihi tugas pokok TNI sebagaimana diatur dalam UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI, salah satunya mengenai prosedur operasional pelibatan TNI dalam penanganan terorisme.

"Waktunya belum tepat (perpres), dan, misal, ada situasi sangat mendesak lewat kebijakan politik, presiden bisa berkonsultasi dengan DPR, itu bisa dikerahkan TNI dalam penanganan terorisme. Masalahnya dalam perpres ini tidak ada lagi koordinasi, Panglima bisa mengerahkan pasukan. Kalau pun ada koordinasi hanya konsultasi dengan presiden," tutur Malik Ferry Kusuma.

tag: #tni  #terorisme  #komisi-i  #jokowi  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Sikapi Kekerasan Sekelompok Orang Diacara Midodareni, BPIP: Tindak Tegas

Oleh Bachtiar
pada hari Jumat, 14 Agu 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila  (BPIP) terus bergerak  bersama komunitas dan lembaga pemerintah lainnya mengarusutamakan nilai persatuan dan mendorong ...
Berita

Pioner Konstruksi Modern, Karya Hutama Karya Telah Mendunia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - 75 tahun Republik Indonesia merdeka, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus berkarya membangun negeri melalui infrastruktur-infrastruktur terbaiknya, ...