
*JAKARTA (TeropongSenayan)* – Dunia sedang menyaksikan akhir dari era unipolaritas Amerika Serikat. Demikian benang merah dari diskusi mendalam antara pakar hubungan internasional kenamaan, Profesor John Mearsheimer dan Profesor Glenn Diesen, yang menyoroti kegagalan strategis Washington dalam konfrontasi terbarunya dengan Republik Islam Iran.
Mearsheimer, pencetus teori Offensive Realism, menilai bahwa hasil dari ketegangan di Teluk bukan sekadar gencatan senjata biasa, melainkan sebuah kekalahan strategis yang akan mengubah wajah politik global selamanya.
### Kegagalan Empat Pilar Tuntutan Washington
Dalam analisisnya, Mearsheimer menekankan bahwa Amerika Serikat gagal mencapai seluruh target utama yang ditetapkan sebelum eskalasi dimulai. Empat pilar yang menjadi ambisi AS—perubahan rezim di Teheran, penghentian total pengayaan nuklir, penghapusan program rudal balistik, dan pemutusan dukungan terhadap jaringan proksi—tak satu pun yang terealisasi.
"Iran justru keluar dari konflik ini dengan posisi yang jauh lebih kuat dibanding sebelum Februari 2026," ujar Mearsheimer. Penguasaan Iran atas Selat Hormuz kini menjadi instrumen tawar-menawar (leverage) yang sangat menentukan terhadap stabilitas ekonomi global, terutama terkait pasokan energi.
### Dilema Domestik dan Bayang-bayang Resesi Dunia
Laporan ini menyoroti keputusasaan pemerintahan Donald Trump dalam menghadapi realitas ekonomi. Ancaman depresi global yang lebih buruk dari tahun 1920-an memaksa Washington untuk mencari jalan keluar (off-ramp) sesegera mungkin.
Objektivitas jurnalisme mencatat adanya dualisme narasi dari Gedung Putih. Di satu sisi, retorika keras "pemusnahan peradaban" tetap diproduksi untuk konsumsi domestik dan menjaga citra strongman. Di sisi lain, fakta di meja perundingan menunjukkan bahwa AS mulai menerima "10 Poin Rencana Iran" sebagai basis negosiasi—sebuah langkah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai kapitulasi terselubung.
### Keretakan Aliansi: Nasib NATO dan Ukraina
Dampak dari kekalahan strategis ini merembet jauh hingga ke daratan Eropa. Mearsheimer memprediksi masa depan NATO yang suram. Trump disinyalir akan menjadikan sekutu Eropa sebagai "kambing hitam" atas kegagalan militer AS, dengan dalih kurangnya kontribusi nyata dari negara-negara mitra di Teluk.
Kondisi ini menempatkan Ukraina dalam posisi yang kian terjepit. Dengan terkurasnya inventaris senjata AS dan kebutuhan mendesak akan stabilitas harga minyak dunia—yang secara ironis membutuhkan peran Rusia—dukungan terhadap Kyiv diprediksi akan mengalami penurunan drastis.
"Eropa kini harus menghadapi realitas pahit bahwa "payung perlindungan" AS tidak lagi bisa diandalkan secara mutlak," tambah Glenn Diesen dalam diskusi tersebut.
### Menuju Dunia Multipolar
Konfrontasi AS-Iran ini menjadi katalisator percepatan dunia multipolar. Peran Tiongkok dan Rusia sebagai "stakeholder" yang bertanggung jawab dalam menjaga aliran logistik global kian menonjol, sementara AS dinilai kian bertindak secara sporadis dan irasional akibat tekanan internal.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, fenomena ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat posisi non-blok dan kemandirian ekonomi. Ketika kekuatan hegemonik mulai memudar, diplomasi yang lincah dan berorientasi pada kepentingan nasional menjadi kunci navigasi di tengah ketidakpastian global.
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #