
Sudirman Said dalam wisuda perdana Universitas Harkat Negeri (UHN) di Tegal tidak sekadar seremoni akademik. Ia adalah pernyataan sikap—bahkan bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap arah pendidikan tinggi di Indonesia yang dalam beberapa dekade terakhir kerap terjebak dalam dua kutub ekstrem: elitis dan pragmatis.
Di satu sisi, kampus sering dituduh menjadi “menara gading”—terpisah dari denyut persoalan masyarakat. Di sisi lain, muncul kecenderungan baru: perguruan tinggi yang terlalu tunduk pada logika pasar dan kepentingan jangka pendek, hingga kehilangan identitas intelektualnya.
Dalam konteks itulah Sudirman menawarkan gagasan center of solution. Sebuah konsep yang mencoba menjembatani idealisme akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.
Dari “Center of Excellence” ke “Center of Solution”
Selama ini, paradigma dominan dalam pendidikan tinggi adalah center of excellence—kampus sebagai pusat keunggulan akademik. Ukurannya jelas: publikasi ilmiah, akreditasi, peringkat global.
Namun Sudirman mendorong pergeseran: keunggulan saja tidak cukup. Kampus harus menjadi ruang produksi solusi.
Gagasan ini sejalan dengan tren global dalam Higher Education yang mulai menekankan impact-driven university—perguruan tinggi yang diukur bukan hanya dari reputasi akademik, tetapi dari dampaknya terhadap masyarakat.
Pertanyaannya: sejauh mana konsep ini realistis di Indonesia?
Kampus dan Beban Moral Ilmu Pengetahuan
Salah satu poin paling kuat dari pidato Sudirman adalah penekanan bahwa ilmu bukan komoditas pribadi, melainkan amanah.
Pandangan ini mengandung dimensi etika yang sering terpinggirkan dalam sistem pendidikan modern. Dalam praktiknya, pendidikan tinggi kerap direduksi menjadi alat mobilitas sosial-ekonomi—gelar sebagai tiket kerja, bukan sebagai instrumen perubahan sosial.
Di sinilah Sudirman mencoba mengembalikan ruh pendidikan: bahwa lulusan tidak hanya dituntut kompeten, tetapi juga bertanggung jawab secara moral.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar:
Tingginya pengangguran terdidik
Kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan industri
Minimnya riset yang benar-benar aplikatif
Dalam kondisi seperti ini, seruan moral tanpa reformasi struktural berisiko menjadi retorika.
UHN sebagai Laboratorium Eksperimen
Yang menarik, Sudirman tidak berhenti pada gagasan normatif. Ia mencoba menerjemahkannya dalam langkah konkret di UHN.
Kolaborasi dengan Harvard Medical School melalui program Primary Healthcare Impact Lab (PHIL) menunjukkan upaya menghubungkan pendidikan dengan isu kesehatan publik.
Keterlibatan Diah Saminarsih, yang memiliki pengalaman di World Health Organization, memberi bobot pada proyek ini.
Di bidang urban dan keberlanjutan, kerja sama dengan Rujak Center for Urban Studies dan Marco Kusumawijaya, serta Global Alliance for Sustainability yang dipimpin William Sabandar, memperlihatkan pendekatan lintas disiplin.
Langkah-langkah ini penting karena menyasar problem konkret:
Kesehatan primer
Urbanisasi pesisir
Keberlanjutan lingkungan
Namun tetap ada catatan kritis:
Apakah inisiatif ini akan berkelanjutan, atau hanya berhenti pada fase awal sebagai proyek reputasi?
Akses Pendidikan: Antara Ideal dan Kapasitas
Program Beasiswa Nusantara dan rencana Beasiswa ASEAN menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas pendidikan.
Ini penting di negara seperti Indonesia, di mana akses pendidikan tinggi masih sangat dipengaruhi faktor ekonomi dan geografis.
Namun perlu dicermati:
Seberapa besar kapasitas pembiayaan jangka panjang?
Bagaimana menjaga kualitas di tengah ekspansi akses?
Apakah lulusan dari program ini akan benar-benar kembali membangun daerah asalnya?
Tanpa desain kebijakan yang matang, program beasiswa sering kali tidak menghasilkan dampak struktural yang diharapkan.
Wisuda sebagai Awal, Bukan Akhir
Pesan Sudirman kepada wisudawan—bahwa wisuda adalah awal tanggung jawab—bukan hal baru. Namun dalam konteks krisis kepemimpinan dan kepercayaan publik saat ini, pesan itu menjadi relevan.
Indonesia tidak kekurangan sarjana. Yang sering dipersoalkan adalah kualitas kepemimpinan, integritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Di titik ini, gagasan Sudirman menyentuh persoalan mendasar: krisis karakter dalam elite terdidik.
Antara Harapan dan Ujian Realitas
Pidato ini pada akhirnya mencerminkan sebuah harapan: kampus sebagai jantung perubahan.
Namun sejarah menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan perkara mudah. Ia membutuhkan:
Reformasi tata kelola
Pendanaan berkelanjutan
Kebebasan akademik
Ekosistem riset yang sehat
Tanpa itu, konsep center of solution berisiko menjadi slogan yang indah tetapi hampa.
Penutup: Sebuah Taruhan Intelektual
Apa yang ditawarkan Sudirman Said melalui UHN adalah sebuah eksperimen—bahkan bisa disebut taruhan intelektual.
Jika berhasil, ia bisa menjadi model baru pendidikan tinggi di Indonesia: kampus yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi menghasilkan solusi.
Namun jika gagal, ia akan menambah panjang daftar idealisme yang kandas di hadapan realitas struktural.
Di tengah krisis multidimensi yang dihadapi bangsa, pertanyaan besarnya tetap sama:
apakah kampus berani keluar dari zona nyaman—dan apakah sistem memberi ruang bagi mereka untuk benar-benar menjadi “jantung perubahan”?
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #