Oleh Sahlan Ake pada hari Rabu, 10 Jun 2026 - 13:08:10 WIB
Bagikan Berita ini :

Komisi I DPR RI dan Komdigi RI Dorong Kesadaran Sanitasi untuk Wujudkan Swasembada Air Nasional

tscom_news_photo_1781071690.jpg
Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia bersama Komisi I DPR RI kembali menyelenggarakan Webinar Literasi Digital bertema “Swasembada Air” pada Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi publik mengenai pentingnya pengelolaan sanitasi dan pelestarian sumber daya air dalam mendukung ketahanan air nasional.

Webinar dimulai pukul 11.30 WIB dan dipandu oleh MC M. Fatta Rayyan serta dimoderatori oleh Ayu Amelia. Kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari unsur legislatif, pemerintah, dan akademisi, yakni Andina Thresia Narang, B.Comm selaku Anggota Komisi I DPR RI, Albert Reinaldo, S.T., M.Si., M.Sc selaku Kepala Subdirektorat Wilayah I Direktorat Sanitasi, serta Dewi Utami Utari selaku akademisi. Acara turut dimeriahkan oleh penampilan hiburan dari DG Band.

Dalam pemaparannya, Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang menegaskan bahwa isu swasembada air dan sanitasi merupakan tantangan strategis nasional yang harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, ketersediaan air bersih tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menentukan kualitas kesehatan, ketahanan lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan nasional.

“Sanitasi yang buruk akan berdampak langsung terhadap pencemaran sumber air dan kualitas lingkungan. Karena itu, pembangunan sanitasi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menjaga ketahanan air nasional,” ujar Andina Thresia Narang.

Andina menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah penduduk, urbanisasi, serta aktivitas domestik yang tinggi telah memberikan tekanan terhadap kualitas sumber daya air di Indonesia. Oleh sebab itu, ia menilai penguatan pengelolaan air limbah domestik dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap sanitasi menjadi langkah penting dalam mendukung swasembada air.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan sanitasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia menekankan pentingnya literasi lingkungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pengelolaan sanitasi yang aman dan berkelanjutan.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dan masyarakat agar pengelolaan sanitasi berjalan efektif dan mampu menjaga kualitas sumber daya air kita,” tambahnya.

Pada sesi berikutnya, Albert Reinaldo, S.T., M.Si., M.Sc memaparkan bahwa pengelolaan air limbah domestik memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan air nasional. Ia menjelaskan bahwa pencemaran air sungai di Indonesia sebagian besar berasal dari limbah domestik yang belum terkelola dengan baik.

Albert menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan akses sanitasi aman melalui pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) maupun Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T).

Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga fokus pada penguatan tata kelola sanitasi, peningkatan kapasitas operator, serta penerapan layanan sanitasi yang berkelanjutan.

“Sanitasi aman bukan hanya soal membangun fasilitas, tetapi bagaimana memastikan sistem pengelolaan limbah berjalan secara menyeluruh agar tidak mencemari lingkungan dan sumber air baku masyarakat,” jelas Albert Reinaldo.

Sementara itu, Dewi Utami Utari menjelaskan bahwa kebutuhan air di wilayah perkotaan terus mengalami peningkatan signifikan, bahkan berdasarkan data Kementerian PUPR meningkat hingga 22 persen dibandingkan tahun 2020. Namun di sisi lain, ketersediaan air semakin terbatas akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan pencemaran lingkungan.

Menurut Dewi, dampak krisis air tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mempengaruhi kesehatan, ekonomi, dan kondisi sosial masyarakat. Kekurangan air dapat memicu penyakit, gagal panen, meningkatnya pengeluaran rumah tangga, hingga konflik sosial di masyarakat.

Sebagai solusi, Dewi Utami Utari mendorong penerapan langkah-langkah sederhana di tingkat rumah tangga dan komunitas, seperti pemanenan air hujan, pembangunan sumur resapan, penggunaan biopori, daur ulang air bekas, serta penghematan penggunaan air sehari-hari.

Ia juga memperkenalkan berbagai teknologi tepat guna seperti embung, rain garden, paving block berpori, dan instalasi penampungan air hujan yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat untuk meningkatkan cadangan air tanah dan mengurangi risiko banjir.

“Krisis air bukanlah takdir, melainkan hasil dari tindakan manusia. Karena itu, solusi juga harus dimulai dari kesadaran dan tindakan bersama,” ujar Dewi Utami Utari.

Melalui webinar ini, Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI bersama Komisi I DPR RI berharap masyarakat semakin memahami pentingnya sanitasi aman dan pengelolaan air limbah domestik dalam mendukung swasembada air nasional.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan berpartisipasi aktif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air Indonesia.

tag: #dpr  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
IDUL ADHA 2026 M LOKOT N
advertisement
IDUL ADHA 2026 AHMAD NAJIB
advertisement