
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Sepak terjang Dirut PT Pelindo II RJ Lino makin terkuak. Daniel Johan, politisi PKB anggota Pansus Pelindo II mengungkap Lino lebih patuh kepada asing dari pada pemerintah Indonesia.
Daniel yang menelusuri ihwal ngototnya Lino memperpanjang kontrak Terminal Peti Kemas Jakarta (Jakarta International Container Terminal/JICT) kepada Hutchinson Port Holding (HPH) menemukan fakta keterlibatan Li Ka Shing dan Rothschild dibalik ini semua.
"Ujung-ujungnya masa tunduk dengan Li Ka Shing? Ngapain Indonesia dibuat tunduk dengan asing? Jadi, sebenarnya siapa bos Lino? Bukan Pemerintah. Tapi adalah Li Ka Shing," kata Daniel di Jakarta, Sabtu (7/11/2015).
Li Ka Shing, kata Daniel, adalah pemilik HPH yang memiliki kekayaan sekitar Rp 430 triliun. Sedang Rothschild, penasehat keuangan Pelindo II adalah salah satu keturunan Yahudi yang 'mengatur' dunia melalui industri keuangan.
"Lino seharusnya memperjuangkan agar pelabuhan itu dikelola anak bangsa. Toh itu pekerjaan yang pasti bisa kita kerjakan, enggak susah. Tapi dia (Lino-Red) justru bangga kalau JICT itu diserahkan ke asing," kata Daniel.
Namun karena Lino dan manajemen PT Pelindo II beralasan lebih untung diserahkan ke HPH dan lebih patuh kepada asing, maka Daniel mendesak Presiden Jokowi segera mencopot RJ Lino beserta jajaran direksi PT Pelindo II.
"Untuk apa dioperasionalkan asing. Harus diingat, pelabuhan itu pintu gerbang Indonesia. Pelindo tak ngapa-ngapain saja, pelabuhan pasti untung," ujar Daniel yang juga anggota DPR Fraksi PKB ini.
Logika Lino, menurut Daniel telah mencederai prinsip kemandirian dalam mengelola ekonomi seperti menjadi esensi ajaran Trisakti. Apalagi seluruh tenaga kerja yang menangani JITC sejatinya adalah semua orang Indonesia.
Daniel mengatakan Pansus Pelindo II memberi sinyal kepada asing agar tidak seenaknya menanamkan modal di Indonesai. Selain itu juga mengingatkan kepada semua pihak agar tidak gegabah mengelola aset negara yang dimiliki BUMN.(ris)