Opini
Oleh Ariady Achmad pada hari Senin, 14 Mar 2016 - 06:30:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Cukongisme, Lingkaran Setan Politik Nasional

51d0d202525e3a7f8d28cb99ecbe03e558cbfe7d6e.jpg
Kolom Obrolan Pagi Bareng Ariady Achmad (Sumber foto : Ilustrasi/Teropong Senayan)

Dari manakah biaya politik dikumpulkan dan diperoleh? Inilah wilayah abu-abu dalam langit perpolitikan nasional. Meski sudah ada aturan formal tentang pendanaan partai politik, rasanya yang terjadi di lapangan atau kenyataannya jauh dari apa yang dilaporkan.

Abu-abunya pendanaan atau biaya politik menjadikan kehidupan politik terjebak dalam cukongisme. Inilah kekuatan uang atau dana yang menggusur ideologi perjuangan parpol. Siapapun yang terjun dalam dunia politik tak kuasa menghindarinya karena membutuhkan biaya yang tidak murah.

Terjerembabnya sejumlah politisi yang menjadi pejabat publik, baik di legislatif maupun eksekutif, dalam kubangan kasus korupsi merupakan salah satu buktinya. Hampir setiap kasus korupsi senantiasa melibatkan pejabat berlatarbelakang politisi dan pengusaha.

Korupsi di Indonesia yang tergolong klasik karena mengeruk uang negara (baik APBN maupun APBD serta sumber daya alam) dengan demikian terindikasi menjadi sumber pembiayan politik. Para pejabat publik, dengan segala modusnya, dengan kekuasaannya mengolah dana negara itu untuk keperluan biaya politik.

Para penyandang dana berperilaku sebagai cukong mengulurkan tangan dan bantuan dana untuk membiayai kebutuhan politisi maupun parpol. Para cukong sebenarnya menjebak mereka karena mengincar APBN dan APBD serta sumber daya alam yang menjadi wewenang kekuasaan politisi yang menjadi pebajat publik.

Praktek cukongisme ini bukan hanya terjadi pada politisi dan parpol. Namun juga dilakukan terhadap calon non parpol atau independen. Bahkan untuk calon independen para cukong lebih leluasa karena tidak berurusan dengan ribetnya birokrasi parpol. Namun cukup bernegosiasi dengan sosok calon independen.

Siapapun mafhum. Bahwa tidak ada 'makan siang gratis' dalam politik. Para pemilik dana atau cukong yang telah 'berinvestasi' akan menagih saat politisi yang dibiayai menjadi pejabat publik. Hasilnya, proyek-proyek berbiaya dana negara itu mengalir ke tangan cukong tersebut.

Tak senantiasa kongsi politisi-cukong tersebut berjalan dengan baik. Ada pula kalanya pecah kongsi. Jika pecah kongsi pejabat publik seperti dalam posisi tertekan dan kalah. Lantaran kartu trufnya dipegang para cukong itu. Bahkan lebih sadis, cukong inipula yang tega mengirimkan ke bui melalui mafia peradilan.

Apakah lingkaran setan perpolitikan ini akan tetap kita langgengkan?(*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
IDUL ADHA 2026 M LOKOT N
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Cara Oligarki Merampok Negara: Menelisik Dugaan Kebocoran di Industri Kelapa Sawit

Oleh Muhammad Said Didu
pada hari Senin, 11 Mei 2026
Industri kelapa sawit selama ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Indonesia bahkan merupakan produsen minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. ...
Opini

Sambutan Sudirman Said, disampaikan dalam kegiatan Traveling Palang Merah Remaja di Aceh.

Tema “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” bukan hanya relevan dengan nilai-nilai Palang Merah Indonesia, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi generasi muda tentang arti pengabdian, ...